--- Begin Message ---
----- Forwarded Message ----
From: Yusuf Caesar <[EMAIL PROTECTED]>
To: Milis Nasional KAMMI <[EMAIL PROTECTED]>; Milis Pengurus KAMMI <[EMAIL
PROTECTED]>; Milis KAMMI Khusus <[EMAIL PROTECTED]>; Milis KAMMI T-8 <[EMAIL
PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL
PROTECTED]; Milis PKS <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, December 28, 2007 8:16:55 PM
Subject: [kammi_banten] Masihkan ada harapan untuk pemerintahan SBY JK ?
Refleksi Akhir Tahun
Masihkan ada harapan untuk pemerintahan SBY JK ?
Oleh: Taufiq Amrullah, ST, ME
Ketua Umum KAMMI Pusat periode 2006/2008
Hampir 10 tahun reformasi bergulir, belum juga kita temukan tanda-tanda
perbaikan yang signifikan secara subtansi. Reformasi belum mampu mengubah
kultur mendasar bangsa ini, korupsi dan kolusi masih membudaya, kesejahteraan
justru makin menurun. Kemiskinan, pengangguran dan konflik sosial terjadi di
seantero negeri. Kita membutuhkan kembalinya semangat dan refleksi nyata dari
reformasi.
Tahun 2007 akan segera berlalu dengan segala peristiwanya. Banyak harapan
rakyat yang belum terwujud, meski hanya sekedar harapan kenaikan UMR saja. Hal
yang merupakan cerminan dari harapan tak terwujud pemerintah terhadap
rakyatnya, atau sebaliknya hopeless rakyat terhadap pemerintahnya. Misalnya
pengentasan kemiskinan, pendidikan murah, harga-harga terjangkau, perluasan
lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan secara umum. Jika setengah
populasi penduduk merasakan tekanan ekonomi yang berat, dapatlah kita simpulkan
bahwa kekuatan ekonomi Indonesia masih sangat lemah. Hanya segelintir orang di
panggung politik dan ekonomi yang merasakan nikmatnya ber-Indonesia. Selebihnya
berada dalam tekanan dan kesuraman masa depan.
Adalah tugas dari pemerintah untuk melaksanakan fungsinya yang mendasar, yakni
melakukan stabilisasi, alokasi maupun distribusi secara ekonomi, sosial dan
politik kepada seluruh rakyat Indonesia. Dan tugas sektor usaha (private
sector) dan kelompok masyarakat (civil society) mendorong dan mendukung
keadilan di berbagai bidang kehidupan dapat terwujud. Rasa keadilan masyarakat
adalah modal utama membangun bangsa. Runtuhnya kepercayaan masyarakat akan
menimbulkan kerawanan sosial yang memicu kerumitan selanjutnya.
Tahun 2007 menyisakan banyak persoalan bangsa, yang kabarnya situasi saat-saat
ini tidak lebih baik dari krisis 1998. Dapat kita perhatikan keadaan sosial
ekonomi rakyat Indonesia, betapa terbengkalainya bangsa ini.
Situasi ekonomi yang carut marut ditandai dengan tingginya angka kemiskinan,
BPS mengumumkan penduduk miskin naik menjadi 17,75 persen atau 39,05 juta
orang, dengan perhitungan pendapatan perkapita perbulan Rp 152.847 atau Rp
5.095 perhari. Sedangkan Tim Indonesia Bangkit (TIB) menghitung jumlah penduduk
miskin sebesar 20,6 persen atau 45,9 juta orang dengan pendapatan perkapita
perbulan Rp 159.000 atau Rp 5.300 perhari. Menurut standar PBB miskin berarti
berpendapatan 2 US$ atau Rp 18.000 perhari, dengan ukuran ini jumlah penduduk
miskin Indonesia sekitar 122 – 144 juta orang atau sekitar 55 – 65 persen dari
222 juta penduduk Indonesia (DR. Fuad Bawazier dalam Republik Keluh Kesah).
Berikutnya, tingkat pengangguran terbuka yang mencapai 11 juta orang dan
pengangguran terselubung sekitar 40 juta orang. Pendidikan yang terus merosot
ditandai dengan jumlah warga negara yang tidak lulus sekolah dasar sekitar 35
persen. Sementara jumlah warga berpendidikan hanya sampai sekolah menengah
pertama mencapai 84 %
Selanjutnya utang, pada akhir 2006 utang Indonesia Rp 1.318,2 T, sedang aset :
Rp 1.253,7 T yang berarti bahwa negeri ini telah bangkrut karena utang lbh bsr
: Rp 64,5 T. Dari utang tersebut, 46 persennya adalah utang Luar Negeri (US$ 67
M). Posisi utang pemerintah hingga 31 Oktober 2007 meningkat dibandingkan
tahun sebelumnya. Utang pemerintah hingga akhir Oktober tahun ini tercatat US$
148,46 miliar atau lebih besar dibandingkan akhir Desember 2006 yang rercatat
sebesar US$144,36miliar. Kita butuh berapa turunan untuk membayarnya?
Asumsi makroekonomi yang bagus dengan pertumbuhan ekonomi 6 persen, investasi
dan konsumsi masyarakat yang membaik, serta belanja pemerintah yang mulai agak
baik dan terkontrol, inflasi satu digit, dan seterusnya, ternyata tidak diikuti
oleh perbaikan sektor riil di tingkat ekonomi mikro. Untuk apa kita membangun
keseimbangan makro jika rakyat kita masih kelaparan hingga makan nasi aking?
Persoalan ekonomi keluarga telah merembet ke masalah sosial seperti
pengangguran, perceraian, bunuh diri, kriminalitas, peredaran narkoba, hingga
merebaknya kasus korupsi.
Masalahnya dimana?
Menurut Dr. Rizal Ramli (Indonesia Bangkit), Indonesia tidak pernah bangkit
karena 3 hal. Pertama, karena karakter feodal para pemimpin bangsa. Walaupun
kita sudah merdeka dan memiliki kebebasan politik, praktik feodalisme masih
terasa. Dalam sistem feodal, kekuasaan berasal dari hubungan biologis dan
romantisme historis, dapat pula dilihat dalam budaya dilayalani rakyat
dibanding melayani dan berjuang untuk rakyat. Kedua, adalah kembalinya
neokolonialisme (the creeping back of neocolonialism) . Hal itu dapat kita
dilihat dengan kemunculan agen ekonomi penjajah melalui mafia berkeley, budaya
berutang ke lembaga donor internasional padahal Indonesia sangat kaya.
Indonesia memiliki banyak sekali cawan emas (golden bowls) dalam bentuk sumber
daya alam, tetapi sungguh ironis karena justru cawan emas dipakai mengemis
utang luar negeri. Ketiga, karena kepemimpinan yang lemah dan mudah berubah
karakternya tergantung opini publik dan pencitraan, pemimpin yang
tidak memiliki karakter kuat akan mudah terombang-ambing dalam kepentingan di
luar. Karena itu, Indonesia membutuhkan jalan baru, pemimpin baru, sehingga
timbul harapan baru menuju kebangkitan nasional.
Sedangkan KAMMI memetakan tiga persoalan yang mendasar bangsa ini yang harus
dibenahi. Pertama, Kemandirian bangsa yang semakin tergadai, pemimpin negeri
ini bahkan tidak mampu keluar dari pengaruh neoliberalisme yang dianut oleh
kabinet ekonominya sendiri. Privatisasi sebagai kedok menjual aset pada asing
malah terus dilanjutkan, dan gagasan buy back beberapa aset strategis seperti
Indosat diredam meski beberapa pengusaha nasional berniat saweran membelinya.
Penguasaan MNC (Multinational Company) di sektor pertambangan masih sangat kuat
bahkan terus dilanjutkan seperti renegoisasi Blok Cepu dengan Exxon Mobile,
Freeport dan Newmont. Pulau-pulau perbatasan dicaplok dan bahkan mulai
diperjualbelikan. Kedua, kegagalan mengelola transisi nasional. Masa transisi
berkepanjangan sejak reformasi '98 menjadi persoalan di setiap sektor,
pemerintah gagal melakukan konsolidasi kebangsaan untuk membawa Indonesia take
off menjadi salah satu raksasa Asia. Bahkan
harus tertinggal dari Thailand dan Malaysia. Ketiga, Kelemahan Pemimpin yang
berkuasa. Tidak dapat dihindari bahwa dominasi asing dan pertarungan kekuasaan
di Indonesia amat keras, tapi mengapa duet kepemimpinan ini malah lemah seperti
tidak bertaring? Mengapa mahasiswa Indonesia harus mengidolakan seorang Ahmadi
Nejad yang sederhana tapi kukuh membangun nuklir untuk perdamaian, atau Evo
Morales dan Hugo Chavez yang berani menasionalisasi aset? Rakyat merindukan
hadirnya pemimpin yang punya karakter kuat dan punya visi kebangsaan, sehingga
Indonesia kembali disegani sebagai macan Asia.
Berbagai Gerakan Kelompok Rakyat
Sepanjang 2007, berbagai kelompok masyarakat mengekspresikan keprihatinan atas
kesulitan yang menimpa rakyat Indonesia. Rizal Ramli mengambil momen Sumpah
Pemuda 28 Oktober mengumpulkan beberapa tokoh nasional seperti Amien Rais, Tri
Sutrisno, Akbar Tanjung, Wiranto dan lainnya beserta beberapa tokoh muda lalu
mendeklarasikan Komite Bangkit Indonesia (KBI) dengan slogan 'jalan baru,
pemimpin baru, menuju kebangkitan Indonesia'.
Fadjloerrahman, Effendi Gozali dkk mengusung gerakan 'Kepemimpinan Kaum Muda'
dan mendorong kaum tua untuk legowo meninggalkan kekuasaan (Baca tulisan
Fadjloerrahman di Kompas : Selamat Jalan Kaum Tua), kemudian juga mendorong
agar calon independen baik di Pilkada maupun di Pilpres dapat terwujud segera.
Hal ini sebagai bentuk kekecewaan atas kinerja buruk Parpol di pentas kekuasaan.
Kaum muda tidak tinggal diam, beberapa pimpinan OKP berkumpul dan mendorong
terselenggaranya forum pemuda yang dihadiri berbagai elemen pemuda dan
mahasiswa dari berbagai unsur, dan dideklarasikanlah 'The New Deal' sebagai
upaya membangun kesepahaman baru antar elemen bangsa agar lebih konsisten
memperjuangkan reformasi dan demokrasi. Forum ini sudah menggebrak di awal,
meski belum cukup kuat bertahan dari pengaruh berbagai kepentingan, terutama
kekuasaan.
Selanjutnya, kaum muda Islam juga berupaya membangun sinergi demi merespon
berbagai situasi kerakyatan. Komunikasi antar pimpinan OKP digelar dan
terbentuklah forum silaturrahim pemuda Islam. Demikian pula mahasiswa yang
tergabung dalam BEM Se-Indonesia dan BEM Nusantara beberapa kali melakukan
konsolidasi untuk merespon berbagai kebijakan pemerintah yang tidak berpihak
pada kesejahteraan rakyat.
Awal 2007 juga kita masih ingat deklarasi dan aksi massa yang dipimpin Hariman
Siregar, aksi turun ke jalan juga didukung oleh beberapa tokoh nasional seperti
Tri Sutrisno dan budayawan WS Rendra. Gerakan ini kita kenal dengan 'Gerakan
Cabut Mandat'
Di sisi yang lain berbagai Partai Politik baru berdiri dan dideklarasikan.
Beberapa tokoh mendeklarasikan pencalonan sebagai presiden (Megawati,
Sutiyoso, Gusdur), dan tokoh lainnya yang sedang mempersiapkan diri (Wiranto,
Akbar Tanjung, Sri Sultan DIY, dll), tentu saja SB Yudhoyono dan Jusuf Kalla
juga tidak mau tinggal diam.
Dan banyak lagi kelompok yang berkonsolidasi di tahun 2007 ini. Apapun
agendanya, cikal bakal konsolidasi itu selalu berawal dari keprihatinan situasi
kebangsaan yang sulit, ditambah kepemimpinan yang kurang mempunyai karakter
kuat dan tidak bervisi kerakyatan. Di tengah masyarakat timbul rasa apatis dan
putus asa akibat tekanan hidup dan merasa dibohongi dengan janji kesejahteraan
di masa kampanye.
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page.
http://www.yahoo.com/r/hs
--- End Message ---