----- Pesan Diteruskan ----
Dari: Asep Helmi <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: manajemen 39 <[EMAIL PROTECTED]>; empat bekasi <[EMAIL PROTECTED]>
Terkirim: Rabu, 16 Januari, 2008 3:06:47
Topik: [manajemen_39] TAHUN 2000 - 2040 PULAU TENGGELAM
Sunny Regards,
Asep Helmi Fansuri ( Helmi )
Mobile : 08561699243
email : [EMAIL PROTECTED] co.id (main)
helfans1804@ yahoo.co. id (co.main)
----- Pesan Diteruskan ----
Dari: "HelmiFansuri@ tmsfashion. com" <HelmiFansuri@ tmsfashion. com>
Kepada: [EMAIL PROTECTED] co.id
Terkirim: Rabu, 16 Januari, 2008 3:07:25
Topik: Fw: TAHUN 2000 - 2040 PULAU TENGGELAM
----- Forwarded by Helmi Fansuri/tmsindonesi a on 01/16/2008 03:06 PM -----
Dewi Pujiastuti/tmsindon esia
01/16/2008 03:01 PM
To
TMSID-Staff- Only
cc
Subject
TAHUN 2000 - 2040 PULAU TENGGELAM
----- Forwarded by Dewi Pujiastuti/tmsindon esia on 16/01/2008 02:59 PM -----
TAHUN 2000 - 2040 PULAU TENGGELAM
Mungkin Anda menduga, udara yang akhir-akhir ini makin panas, bukanlah suatu
masalah yang perlu kita risaukan.
"Mana mungkin sih tindakan satu-dua makhluk hidup di jagat semesta bisa
mengganggu kondisi planet bumi yang mahabesar ini?" barangkali begitulah Anda
berpikir.
Baru-baru ini, Inter-governmental Panel on Cimate Change (IPCC)
mempublikasikan hasil pengamatan ilmuwan dari berbagai negara. Isinya sangat
mengejutkan. Selama tahun 1990-2005, ternyata telah terjadi peningkatan suhu
merata di seluruh bagian bumi, antara 0,15 – 0,3o C. Jika peningkatan suhu itu
terus berlanjut, diperkirakan pada tahun 2040 (33 tahun dari sekarang) lapisan
es di kutub-kutub bumi akan habis meleleh. Dan jika bumi masih terus memanas,
pada tahun 2050 akan terjadi kekurangan air tawar, sehingga kelaparan pun akan
meluas di seantero jagat. Udara akan sangat panas, jutaan orang berebut air dan
makanan. Napas tersengal oleh asap dan debu. Rumah-rumah di pesisir terendam
air laut. Luapan air laut makin lama makin luas, sehingga akhirnya menelan
seluruh pulau. Harta benda akan lenyap, begitu pula nyawa manusia.
Di Indonesia, gejala serupa sudah terjadi. Sepanjang tahun 1980-2002, suhu
minimum kota Polonia (Sumatera Utara) meningkat 0,17o C per tahun. Sementara,
Denpasar mengalami peningkatan suhu maksimum hingga 0,87 o C per tahun. Tanda
yang kasat mata adalah menghilangnya salju yang dulu menyelimuti satu-satunya
tempat bersalju di Indonesia , yaitu Gunung Jayawijaya di Papua.
Hasil studi yang dilakukan ilmuwan di Pusat Pengembangan Kawasan Pesisir dan
Laut, Institut Teknologi Bandung (2007), pun tak kalah mengerikan.
Ternyata, permukaan air laut Teluk Jakarta meningkat setinggi 0,8 cm. Jika
suhu bumi terus meningkat, maka diperkirakan, pada tahun 2050 daerah-daerah di
Jakarta (seperti : Kosambi, Penjaringan, dan Cilincing) dan Bekasi
(seperti : Muaragembong, Babelan, dan Tarumajaya) akan terendam semuanya.
Dengan adanya gejala ini, sebagai warga negara kepulauan, sudah seharusnya kita
khawatir. Pasalnya, pemanasan global mengancam kedaulatan negara. Es yang
meleleh di kutub-kutub mengalir ke laut lepas dan menyebabkan permukaan laut
bumi – termasuk laut di seputar Indonesia – terus meningkat. Pulau-pulau kecil
terluar kita bisa lenyap dari peta bumi, sehingga garis kedaulatan negara bisa
menyusut. Dan diperkirakan dalam 30 tahun mendatang sekitar 2000 pulau di
Indonesia akan tenggelam. Bukan hanya itu, jutaan orang yang tinggal di pesisir
pulau kecil pun akan kehilangan tempat tinggal. Begitu pula asset-asset usaha
wisata pantai.
Peneliti senior dari Center for Int erna tional Forestry Research (CIFOR),
menjelaskan, pemanasan global adalah kejadian terperangkapnya radiasi gelombang
panjang matahari (disebut juga gelombang panas / inframerah) yang dipancarkan
bumi oleh gas-gas rumah kaca (efek rumah kaca adalah istilah untuk panas yang
terperangkap di dalam atmosfer bumi dan tidak bisa menyebar). Gas-gas ini
secara alami terdapat di udara (atmosfer). Penipisan lapisan ozon juga
memperpanas suhu bumi. Karena, makin tipis lapisan-lapisan teratas atmosfer,
makin leluasa radiasi gelombang pendek matahari (termasuk ultraviolet) memasuki
bumi. Pada gilirannya, radiasi gelombang pendek ini juga berubah menjadi
gelombang panas, sehingga kian meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca tadi.
Karbondioksida (CO2) adalah gas terbanyak (75%) penyumbang emisi gas rumah
kaca. Setiap kali kita menggunakan bahan bakar fosil (minyak, bensin, gas alam,
batubara) untuk keperluan rumah tangga, mobil, pabrik, ataupun membakar hutan,
otomatis kita melepaskan CO2 ke udara. Gas lain yang juga masuk peringkat atas
adalah metan (CH4,18%), ozone (O3,12%), dan clorofluorocarbon (CFC,14%). Gas
metan banyak dihasilkan dari proses pembusukan materi organic seperti yang
banyak terjadi di pet erna kan sapi. Gas metan juga dihasilkan dari penggunaan
BBM untuk kendaraan. Sementara itu, emisi gas CFC banyak timbul dari sistem
kerja kulkas dan AC model lama. Bersama gas-gas lain, uap air ikut meningkatkan
suhu rumah kaca.
Gejala sangat kentara dari pemanasan global adalah berubahnya iklim.
Contohnya, hujan deras masih sering datang, meski kini kita sudah memasuki
bulan yang seharusnya sudah terhitung musim kemarau. Menurut perkiraan, dalam
30 tahun terakhir, pergantian musim kemarau ke musim hujan terus bergeser, dan
kini jaraknya berselisih nyaris sebulan dari normal. Banyak orang menganggap,
banjir besar bulan Februari lalu yang merendam lebih dari separuh DKI Jakarta
adalah akibat dari pemanasan global saja. Padahal 35% rusaknya hutan kota dan
hutan di Puncak adalah penyebab makin panasnya udara Jakarta . Itu sebabnya,
kerusakan hutan di Indonesia bukan hanya menjadi masalah warga Indonesia ,
melainkan juga warga dunia.. Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup
Indonesia (Walhi), mengatakan, Indonesia pantas malu karena telah menjadi
Negara terbesar ke-3 di dunia sebagai penyumbang gas rumah kaca dari kebakaran
hutan
dan pembakaran lahan gambut (yang diubah menjadi permukiman atau hutan
industri). Jika kita tidak bisa menyelamatkan mulai dari sekarang, 5 tahun lagi
hutan di Sumatera akan habis, 10 tahun lagi hutan Kalimantan yang habis, 15
tahun lagi hutan di seluruh Indonesia tak tersisa. Di saat itu, anak-anak kita
tak lagi bisa menghirup udara bersih.
Jika kita tidak secepatnya berhenti boros energi, bumi akan sepanas planet
Mars. Tak akan ada satupun makhluk hidup yang bisa bertahan, termasuk anak-anak
kita nanti.
Cara-cara praktis dan sederhana 'mendinginkan' bumi :
1. Matikan listrik. (jika tidak digunakan, jangan tinggalkan alat
elektronik dalam keadaan standby. Cabut charger telp. genggam dari stop kontak.
Meski listrik tak mengeluarkan emisi karbon, pembangkit
listrik PLN menggunakan bahan baker fosil penyumbang besar emisi).
2. Ganti bohlam lampu ke jenis CFL, sesuai daya listrik. Meski harganya
agak mahal, lampu ini lebih hemat listrik dan awet. Hindari penggunaan lampu
berwarna kuning karena lebih panas. Yang berwarna putih lebih baik.)
3. Bersihkan lampu (debu bisa mengurangi tingkat penerangan hingga 5%).
4. Jika terpaksa memakai AC....,Tutup pintu dan jendela selama AC
menyala. Atur suhu sejuk secukupnya, sekitar 21-24o C).
5. Gunakan timer (untuk AC, microwave, oven, magic jar, dll).
6. Ali hkan panas limbah mesin AC untuk mengoperasikan water-heater.
7. Tanam pohon di lingkungan sekitar Anda.
8. Jemur pakaian di luar. Angin dan panas matahari lebih baik ketimbang
memakai mesin (dryer) yang banyak mengeluarkan emisi karbon.
9. Gunakan kendaraan umum (untuk mengurangi polusi udara).
10. Hemat penggunaan kertas (bahan bakunya berasal dari kayu).
11. Say no to plastic. Hampir semua sampah plastic menghasilkan gas
berbahaya ketika dibakar. Atau Anda juga dapat membantu mengumpulkannya untuk
didaur ulang kembali.
12. Sebarkan berita ini kepada orang-orang di sekitar Anda, agar mereka
turut berperan serta dalam menyelamatkan bumi.
13 . Gunakan selalu barang-barang yang dapat didaur ulang (hindari penggunaan
sumpit bambu).
Jika kita tetap tidak peduli kita hanya tinggal menunggu waktu saja …………………..
Save Our Earth.....Please Act Yourself.... ..NOW..... NOW….. NOW ….. !!!!
_,_.___
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers
<!--
#ygrp-mkp{
border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:14px 0px;padding:0px 14px;}
#ygrp-mkp hr{
border:1px solid #d8d8d8;}
#ygrp-mkp #hd{
color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:bold;line-height:122%;margin:10px 0px;}
#ygrp-mkp #ads{
margin-bottom:10px;}
#ygrp-mkp .ad{
padding:0 0;}
#ygrp-mkp .ad a{
color:#0000ff;text-decoration:none;}
-->
<!--
#ygrp-sponsor #ygrp-lc{
font-family:Arial;}
#ygrp-sponsor #ygrp-lc #hd{
margin:10px 0px;font-weight:bold;font-size:78%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor #ygrp-lc .ad{
margin-bottom:10px;padding:0 0;}
-->
<!--
#ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;}
#ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
#ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean,
sans-serif;}
#ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
#ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
#ygrp-text{
font-family:Georgia;
}
#ygrp-text p{
margin:0 0 1em 0;}
#ygrp-tpmsgs{
font-family:Arial;
clear:both;}
#ygrp-vitnav{
padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;}
#ygrp-vitnav a{
padding:0 1px;}
#ygrp-actbar{
clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;}
#ygrp-actbar .left{
float:left;white-space:nowrap;}
.bld{font-weight:bold;}
#ygrp-grft{
font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;}
#ygrp-ft{
font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;
padding:5px 0;
}
#ygrp-mlmsg #logo{
padding-bottom:10px;}
#ygrp-vital{
background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
#ygrp-vital #vithd{
font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
#ygrp-vital ul{
padding:0;margin:2px 0;}
#ygrp-vital ul li{
list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee;
}
#ygrp-vital ul li .ct{
font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
#ygrp-vital ul li .cat{
font-weight:bold;}
#ygrp-vital a{
text-decoration:none;}
#ygrp-vital a:hover{
text-decoration:underline;}
#ygrp-sponsor #hd{
color:#999;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov{
padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;}
#ygrp-sponsor #ov ul{
padding:0 0 0 8px;margin:0;}
#ygrp-sponsor #ov li{
list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov li a{
text-decoration:none;font-size:130%;}
#ygrp-sponsor #nc{
background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;}
#ygrp-sponsor .ad{
padding:8px 0;}
#ygrp-sponsor .ad #hd1{
font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor .ad a{
text-decoration:none;}
#ygrp-sponsor .ad a:hover{
text-decoration:underline;}
#ygrp-sponsor .ad p{
margin:0;}
o{font-size:0;}
.MsoNormal{
margin:0 0 0 0;}
#ygrp-text tt{
font-size:120%;}
blockquote{margin:0 0 0 4px;}
.replbq{margin:4;}
-->
________________________________________________________
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/