Ahad , 27 januari 2008 sebagian besar warga Indonesia tengah berhati mendung 
dan bertunduk kepala bahkan ada juga yang meneteskan air mata. Ya……. Memang 
kala itu mantan orang no 1 di bumi persada ini telah berpulang dan berjalan 
menuju keharibaan-Nya, selamat jalan pak harto semoga amal ibadahmu dapat 
menjadi saksi di yaumil hisa-Nya dan diterima-Nya.
  Ikhwahfillah………
  Sebagai seorang intelektual muslim yang berkonsentrasi dalam bidang ekonomi 
syariah kita mengenal beliau adalah  seorang bapak pembangunan di masa 
hayatnya. Sebagian ekonom mengatakan pemerataan perekonomian kala itu dapat 
dirasakan hingga ke berbagai pelosok. Dan sebagai indikasi keberhasilannya 
hampir setiap orang mengatakan bahwa kala itu benar – benar semuanya serba 
mudah, cari beras mudah, minyak tanah ada, pekerjaan gampang, nyari duit ga 
susah  dan masih banyak qoul – qoul (pernyataan) lainnya. Akhirnya 1 – 2 hari 
pasca wafatnya beliau para pakar ekonomi ada yang mewacanakan seolah – olah 
itulah yang dapat disebut dengan “suhartonomic”
  Adanya istilah program swasembada pangan, pengendalian jumlah penduduk dengan 
program keluarga berencana (KB) dan program2 lainnya, seakan tealh menjadi 
sederetan karakteristik suhartonomic kala itu. Namun, ternyata tidak selamanya 
dan tidak 100 % semua itu berjalan dengan mulus. Menurut salah seorang pengamat 
ekonomi senior, Pende Raja Silalahi “Strategi pembangunan pada awalnya 
sebenarnya sudah diketahui akan kelebihan dan kekurangannya yang pada akhirnya 
pada tahun ’86-an Pak Harto terpaksa  harus menerima bantuan luar negeri dengan 
bunga sekian % oleh negara pemberi pinjaman. Dengan optimid Pak Harto (alm) 
kala itu berkata , “jangan takut dengan utang, kekayan negara kita dapat 
membayarkannya”. Hal inilah yang menjadikan thn ’86  “gali lubang tutup lubang” 
hingga akhir masa kepemimpinannya, bahkan para jadi warisan bagi penerusnya. 
Rasa keoptimisan itu sebenarnyamuncul tidak hanya berdasarkan emosi semata 
saja, melainkan dengan berbagai pertimbangan dan
 dtrategi yang sudah diperhitungkan masak – masak. Namu, manusia hanya dapat 
berencana dan Dia-lah yang jadi Penentu segalanya.
  Lain halnya dengan Faisal Basri, salah seorang dosen FEUI ini mengatakan 
bahwa dari sekian program pembangunan perekonomian Pak Harto (alm)itu terdapat 
kelemahan lain, yaitu kekurangan dalam konsistensi pangan, seperti :
  -         adanya rafikasi pangan dengan menyaratakan makanan pokok rakyat 
menjadi beras
  -         distorsi terigu, bahannya diimpor begitu pun pada kedelai yang 
diimpor pula bahannya, dan sebagainya.
  Maka, menurut Faisal Basri dalam sebuah dialog di salah satu TV swasta, kita 
(Indonesia pada masa Pak Harto (alm)) tidak swasembada pangan, melainkan hanya 
swasembada beras dan itupun hanya berlangsung kira a- kira 2 – 3 tahun saja.
  Ikhwahfillah……
  Menanggapi fenomena itu, sebagai calon penerus baqr asshadr dengan 
iqtishadunanya, ibnu khaldun dengan muqaddimahnya, abu ubaid dengan al-amwalnya 
dan sederetan ekonom muslim lainnya, dimanakah peran serta kita? minimal 
tanggapan yang berdasarkan nilai – nilai syar’i disamping menggunakan aksioma 
rasionalitas juga tentunya.
ya............ sebagai realisasinyan kini sederetan program kerja FoSSEI tengah 
ada di depan mata; TEMILNAS VII di  UGM akan segera menyambut para calon 
intelektual muda ekonomi syariah (9 - 12 feb 08) untuk saling  berkompetisi, 
sharia economist training (set) reg. jabodetabek(22-24 feb 08) dengan ajang 
kaderisasinya, kampanye nasional (2008) sebagai intensifikasi sosialisasi  dan 
edukasi ekonomi islam dan program lainnya akan segera digelar. oleh karenanya, 
siapa yang mendukung secara penuh agenda - agenda tersebut akan dapat termasuk 
sebagai orang yang tidak hanya besar mulut atau NATO, insya Allah.


       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

Kirim email ke