Quo Vadis Ekonomi Bensin? Secara historis, tinjauan terhadap krisis sumber energi fosil (minyak bumi, gas, batu bara) dapat dirunut kembali dari dimulainya era industrialisme pada awal abad ke-19 dengan ditemukannya mesin uap. Era inilah yang kemudian menjadi pijakan utama tren produksi massal yang juga mempelopori perkembangan moda produksi yang efisien. Maka, pemaksimalan keuntungan yang hendak dicapai oleh produsen akan diperoleh apabila ia mampu memaksimalkan produksi, kemudian muncul investasi besar-besaran yang dilakukan oleh para pemilik modal terhadap teknologi dan ilmu pengetahuan dengan tujuan untuk memperoleh metode produksi yang lebih efisien dan lebih cepat melalui inovasi teknologi dan ilmu pengetahuankhususnya ilmu pengetahuan terapan. Dengan berasumsi bahwa teknologi produksi yang dikembangkan tersebut menggunakan sumber energi yang berasal dari bahan bakar fosil, maka berlangsunglah evolusi fase produksi yang konsumtif terhadap sumber energi yang tak tergantikan tersebut. Fase ini kemudian berangsur-angsur menciptakan suatu kondisi dimana hajat hidup umat manusia (terutama di Amerika Serikat (AS) awalnya dan di negara-negara industri saat ini terutama Cina (RRC)) dengan gaya hidupnya yang terlanjur salah menjadi sangat tergantung terhadap energi fosil seperti minyak bumi, dengan kata lain terbentuklah sebuah fossil fuel based economy. Sementara minyak bumi telah menjadi bagian yang amat vital dan hampir mustahil untuk tergantikan dalam peradaban umat manusia, maka dengan habisnya cadangan minyak bumi sebagai suatu penyokong utama sistem penopang kehidupan manusia, maka hal tersebut bisa berarti akan memunculkan suatu revolusi umat manusia. Karena saling terkaitnya minyak dengan proses modernisasi yang bahkan telah dimulai semenjak faktor minyak mulai terlibat di dalam sejarahnya. Namun, umumnya manusia tampak tidak sadar akan krisis yang sedang terjadidan bahkan sepertinya tidak menyadari bahwa krisis akan terjadi akan datang beserta dampak yang bisa dibilang agak mengkhawatirkan, dengan kata lain just taken for granted! Kendati telah muncul kesadaran akan semakin menipisnya cadangan bahan bakar fosil dalam menyokong kegiatan produksi, dan munculnya upaya-upaya untuk menemukan sumber energi alternatif, atau lebih tepatnya menggantikan sumber energi fosil dalam proses produksi secara efisien dan massal atau skala yang besar. Ketergantungan yang semakin tinggi terhadap sumberdaya energi yang semakin menipis ini juga diperkuat dengan fakta bahwa hampir seluruh kegiatan industri di berbagai belahan dunia ini digerakkan oleh teknologi yang menggunakan sumber energi fosil. Penggantian bahan bakar fosil dengan teknologi alternatif akan memakan biaya dan waktu yang tidak sedikituntuk saat ini minyak bumi dengan rasio efisiensi energi yang ada masih merupakan sebuah primadona­ energisementara penangguhan kegiatan pemenuhan kebutuhan hidup umat manusia adalah suatu hal yang hampir mustahil, disamping itu perkembangan teknologi saat ini masih gencar menciptakan kebutuhan-kebutuhan baru dengan menggunakan basis sumber energi lama. Dengan kata lain bentuk-bentuk sumber energi yang dijabarkan, baik dari gas alam hingga nuklir belum dapat menggantikan peran minyak bumi sebagai tulang punggung sistem ekonomi atau modernitas yang ada. Bahkan untuk sumber energi terbarukan (panel surya atau yang lainnya) masih terkendala di mahalnya intrumen konversinya dan jauh sekali dari mencukupi untuk mensuplai energi untuk satu kota besar saja. Setiap bahan bakar alternatif yang diajukan memiliki kelemahan masing-masing dan tidak sebanding dengan kemudahan untuk mengkonversi energi yang terkandung di dalamnya dibandingkan dengan minyak bumijika Anda memikirkan biodiesel, biosolar, biofuel yang berasal dari produk pertanian (tebu, kedelai, sawit) berhentilah sejenak, coba lihat efek di AS saat ini dimana pengalih fungsi-an bahan makanan tersebut menjadi bahan bakar menyebabkan terjadinya kelangkaan dan mendorong kenaikan harga komoditas tersebut akibat harga yang tinggi, petani lebih cenderung menjual­ komoditas tersebut untuk keperluan bahan bakar. Akibat keberlimpahan manfaat dan kemudahan yang diperoleh dari minyak bumi menyebabkan perekonomian yang ada saat ini berikut pertumbuhannya merupakan sebuah halusinasi yang disebabkan oleh industrialisasi yang bersandarkan kepada minyak, termasuk didalamnya proses penciptaan uang kertas dalam sejarah perkembangan ekonomi. Kondisi perekonomian yang ada saat ini lebih merupakan high-entrophy economy, suatu perekonomian yang semakin perlahan semakin kehilangan energi yang menggerakkannya hingga diam atau mati atau bahkan menuju kepada suatu masa kehancuran. Hal ini kemudian diperparah dengan meningkatnya secara drastis konsumsi minyak bumi yang justru semakin mempercepat proses tersebut dengan konsekuensi akhir degradasi dan distorsi di berbagai bidang dan dimensi yang ditandai dengan fase kemunduran ekonomi secara drastis. Semakin sesaknya bumi dengan bertambahnya populasi umat manusia yang berjumlah 10 digit, memunculkan sebuah konsekuensi logis akan besarnya kebutuhan energi yang semakin besar pula, besar sekali. Bagi milyaran umat manusia yang mendiami bumi, sumber energi fosil atau bahan bakar fosil telah menjadi penopang perkembangan peradaban modern manusia selama lebih dari satu abad, hal inilah yang membuat kompleks isu energi, terlebih dalam domain politik dan perekonomian. Pada suatu sisi, peradaban modern secara ideal berfungsi menjadi penyokong kehidupan umat manusia melalui inovasi teknologi yang bermanfaat dalam mempermudah kelangsungan kehidupan, namun di sisi lain perkembangan teknologi justru menumbuhkan tren perilaku konsumerisme atas sumber energi fosil, sementara sumber energi ini semakin langka mengingat karakteristik ketersediaannya yang tidak dapat tergantikan dalam jangka waktu yang singkat. Pola hidup masyarakat konsumtif yang dibangun atas perekonomian yang umumnya berbasiskan industri berorientasi minyak sebagai komoditi maupun sebagai bahan bakar, membuat umat manusia terlena dan secara perlahanjika tidak segera menyadariterseret ke dalam suatu revolusi radikal yang tidak terelakkan. Maka berhematlah dan ganti gaya hidup kita, walau itu belum cukup untuk menyelesaikan masalah. Wallahualam bishawab.

