kalau dibilang ujung tombaknya sih betul sekali, memang marketing-lah yang ada didepan,, Bisa diibaratkan,,sebuah usaha bisnis atau sebuah perusahaan itu layaknya sebuah bangunan atau katakanlah bagai sebuah kapal yang sedang mengarungi lautan,, yang setiap bagiannya saling melengkapi satu sama lainnya dan tidak ada yang lebih penting diantara yang lainnya,,meski itu hanya sebuah baud skrup sekalipun penting artinya dalam merekatkan setiap bagian kapal walau baud tersebut mungkin tidak banyak terlihat dan menonjol, namun perannya tetaplah penting tapi menurut saya marketing hanya ada di permukaan,,bukan ada di dasar (fundament) apalagi di inti bisnis (jantung),,kualitas yang ada pada SDM-lah yang menentukan semuanya seperti kemauan (motivasi), kecerdasan, daya kreatifitas,,singkatnya ada pada kualitas kemampuan manusia-nya, intrapersonal dan interpersonal yang ada pada SDMnya.. kesuksesan dalam marketing tentu dihasilkan oleh orang-orang yang berkualitas,,begitu pula kesuksesan dibidang-bidang yang lainnya diperoleh karena orang-orang berkualitas di bidang tersebut.. " serahkanlah semua pada ahlinya, atau tunggulah kehancurannya "~Irwan IrawanJl. Jatimulya VII RT.01/11 Soekarno-Hatta,Bandung 40275HP.0856-904-1727visit http://irwanirawan.blogspot.com
----- Original Message ---- From: mutiarasawit <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Wednesday, July 9, 2008 6:03:00 PM Subject: {FoSSEI Kita} Ujung tomabknya tetap pemasaran Kiat sukses mengembangkan bisnis amat beragam. Mulai dari urusan permodalan, keberanian hingga soal organisasinya. Suatu hal yang menurut saya sangat fundamental ialah aspek pemasaran (marketing). Aspek inilah jantungnya bisnis, apalagi bagi yang baru akan memulai usaha. Berapapun jumlah modal kita dan sebagus apapun kantor kita, tak ada gunanya bila market bisnis kita nggak jelas atau nggak jalan. Sebaliknya, kita akan lebih mudah mendapatkan modal atau bahkan modal bisa pinjam kalau kita sudah punya pasar yang jelas. Sudah ada kepastian konsumen yang akan membeli produk kita. Artinya kalau kita melihat sebuah bisnis yang pasarnya jelas-jelas sudah kita pegang -- misalnya karena kita usdah di-order oleh pembeli dengan jumlah tertentu -- maka modal bisa dicari. Yang penting kita bisa meyakinkan pemilik modal bahwa pembeli dari produk dan jasa kita sudah pasti ada, si A, Si B, Si C, dst. Kalau kita belum bisa menyebut pasarnya si A, Si B, dst, paling tidak kita meyakinkan bahwa kita punya strategi yang sangat efektif untuk menjaring pelanggan. Sekali lagi, aspek pemasaran inilah sesungguhnya hal yang terpenting dan biasanya kebanyakan pemula bisnis yang gagal juga mentok alias kebentur di bidang ini. Karena itu kemampaun pemasaran ini harus terus diasah dan harus terus belajar menyukai dunia pemasaran. Kalau saya amati, pengusaha-pengusaha sukses yang awalnya karyawan biasa, umumnya mereka itu sejak awal memang suka dan tertantang dengan dunia marketing ini. Di perusahaan-perusaha an besar yang sudah masuk bursa, pada umumnya direktur utama juga dipercayakan ke mereka yang sebelumnya adalah direktur marketing. Kenapa bidang inilah jatungnya bisnis perusahaan. Tak hanya itu, umumnya para konglomerat yang sedang mendidik anaknya untuk bisnis biasanya dimasukkan atau dimagangkan dulu di bagian marketing di perusahaannya. Sekali lagi, ini bidang yang menjadi nyawa alias hidup-mati perusahaan karena bidang inilah yang secara langsung menghasilkan uang (generate revenue). Kalau kawan2 ada yang sudah baca salah satu buku laris Gramedia '10 PENGUSAHA YANG SUKSES MEMBANGUN DARI 0' disusun Sudarmadi, disitu jelas sekali tergambar bahwa entrepreneur2 yang diulas juga bisa sukses karena punya bekal pemasaran (Catatan: Bagi kawan2 yang sedang merintis bisnis sendiri perlu sekali membaca atau beli buku itu karena ada paparan kiat2 dari pengusaha besar yang mulai betul2 dari bawah). Mohammad Nadjikh, pemuda Gresik yang sukses pengusaha perikanan dan punya 5.000-an karyawan, mungkin bisa jadi contoh. Saat ia memulai bisnisnya modalnya amat terbatas karena sebelumnya juga karyawan pada umumnya. Tapi ia punya kenalan lama orang Jepang yang bersedia membeli ikan2 yang dipasok Nadjikh bila Nadjikh mulai mendirikan usaha sendiri. Artinya, Nadjikh sudah punya kejelasan pasar saat memulai. Meski baru satu pembeli, namun itu sebuah kepastian itu menjadi modal penting untuk berani mengembangkan. Lalu, kalau disimak pengusaha yang lain seperti Harry Sanusi, pengusaha yg juga diulas di buku itu, ia juga entreprneur yang sukses karena cara2 pemasaran yang inovatif, termasuk dalam mengeluarkan produk baru. Tak heran kalau di usianya yang masih muda Kino Group miliknya sudah punya perusahaan skala besar dengan karyawan diatas 2.000 orang. Pengusaha yang lain juga demikian, mereka menjadi bersemangat kalau sudah bicara apek penjualan/pemasaran produk atau jasanya. Disini pesan utamanya, kalau kita ingin sukses berbisnis sendiri, aspek pemasaran harus menjadi garapan utama kita dan kita harus belajar menyukai dan menjadi tertantang pada bidang ini. Ilmu manajemen keuangan boleh saja sederhana, sistem TI boleh saja belum punya, dan kantor boleh saja masih numpang di ruang garasi, tapi urusan marketing kita harus lebih kuat agar bisnis kita bisa berkembang. Kita harus melakukan hal lebih dari yang dilakukan pemain lain dan banyak memberikan terobosan, apalagi dalam melayani dan menangkap pelanggan. Manajemen keuangan yang rapi serta sistem TI dan fasilitas kantor yg bagus bisa menyusul kemudian bila pasar dari usaha kita sudah makin tumbuh dan terbentuk. Bagi pebisnis, marketing, marketing, marketing. Kata mereka yang sudah sukses, Marketing is everything. Salam sukses buat kita semua.

