IKAN BAWAL DIKAWININ…
(UPS… MAKSUDNYA DIASININ)
Eh ujan gerimis aje.. Ikan
teri diasinin
Eh jangan menangis aje..
yang pergi jangan dipikirin
Eh ujan gerimis aje.. ikan
lele ada kumisnye
Eh jangan menangis aje..
kalo bole cari gantinye
Mengapa ujan gerimis
aje.,. pergi berlayar ketanjung cina
Mengapa ade menangis aje..
kalo emang jodoh gak kemane
Eh ujan gerimis aje.. ikan
bawal diasinin
Eh jangan menangis aje..
bulan syawal mau dikawinin...
Jalan-jalan ke Menado..
jangan lupa membeli tanah
Kalo niat mencari jodoh..
cari yang keren seperti sayah.. (hahaha...)
(Benyamin
S & Ida Royani)
Sedikit bait dari Bang Bens (alm) yang
makin jarang kita dengerin, kecuali kalo kita sering main ke rumah orang-orang
Betawi (kalo kata Ust Rahmat Abdullah bukan Betawi, tapi Jayakarte...) yang
masih tradisional dan kental dengan budayanya. Saya sendiri paling nggak
seminggu sekali bisa dengerin lagu tersebut yang didendangkan tak jauh dari
tempat saya tinggal. Karena emang di dekat situ ada perkampung budaya Betawi
yang setiap akhir pekan (sabtu-ahad) pasti menggelar seni budaya tradisional
Betawi, kayak gambang keromong, ngelenong, dll.
Tapi kayaknya hal yang mau saya bahas
bukan kesenian budaya Betawi itu, tapi sedikit bait dari Bang Bens di atas.
"Eh ujan gerimis aje.. ikan bawal diasinin, Eh jangan menangis aje.. bulan
syawal mau dikawinin..." Emang, di bulan syawal ini makin sering
kita liat janur kuning tumbuh (siapa yang nanem ye..?) di pinggir jalan atau
depan gang. Kadang saya suka iseng ngitungin berapa janur kuning yang tumbuh
setiap saya keluar rumah bersama "istri" tercinta. Mungkin sekedar
survey atau siapa tahu bisa dijadikan bahan skripsi. "Pengaruh pernikahan
di bulan syawal terhadap peningkatan dana pihak ketiga di Bank Syariah"
hehehe...
Bisa jadi kan? Logikanya begini.... Karena
banyak ikhwan akhwat yang nikah di bulan syawal kemudian para tamu undangan
(yang juga ikhwan akhwat) sebagai nasabah bank syariah menarik sebagian dananya
untuk membeli kado atau sekedar uang amplop untuk kedua mempelai, sehingga
proporsi
dana pihak ketiga di bank syariah menjadi menurun. Nah kalo makin banyak ikhwan
akhwat menikah di bulan syawal (karena ikan bawalnya Bang Bens, hehe...)
mungkin bisa jadi akan mengakibatkan rush (penarikan secara serentak dan
besar-besaran oleh nasabah penabung) di bank syariah sehingga bukan nggak
mungkin bank syariah bisa colaps karena kesulitan likuiditas hingga
turun bala bantuan dalam bentuk BLBI (masih ada nggak ya?). Makin pusing aja
tuh Pak Ramzi dan rekan-rekan di DPbS BI. Udah target 5% sulit dicapai, terus
ditambah adanya rush dari nasabah bank syariah... hohoho... jauh banget
yah mikirnya?
Menikah... Hmm... sepenggal kata yang
sangat sering kita (ikhwan-akhwat) omongin. Entah itu ketika abis syuro', di
kantin, bahkan selepas menerima materi dari sang murobbi tercinta (kalo nt
masih punya morobbi dan masih sering dateng pekanan siy....). Orang suci,
menjaga kesuciannya dengan pernikahan dan menjaga pernikahannya dengan kesucian.
Begitu kata orang bijak.
Dalam suatu dauroh tentang pernikahan,
sang pembicara pernah bilang kurang lebih begini, "MENIKAH adalah
keindahan, kecuali bagi yang menganggapnya sebagai beban. Rumah tangga adalah
kemuliaan, kecuali bagi yang menganggapnya sebagai rutinitas tak bermakna.
Menikah,
dakwah dan jihad adalah seiring sejalan, kecuali bagi orang yang terkacaukan
logika dan nalarnya."
Kadang sebagian kita berfikir bahwa
menikah adalah sebagai buah yang di petik hasil dari dakwah kita selama ini
ketika masih bujang atau istirahat setelah lelah berdakwah. Seorang MR pernah
cerita ketika binaanya curhat bahwa dia ingin nikah, InsyaAllah nanti, pas
produktivitas dakwahnya udah optimal. Masih banyak yang harus dikerjakan untuk
dakwah
daripada hanya sekedar menikah. Dia berfikir masih jauh dari kualifikasi pemuda
yang di gambarkan sebagai jundi dakwah.
"Apa kita gak malu, yang kita omongin
pernikahan melulu? Lihatlah pemuda-pemuda seperti Usamah bin Zaid yang menjadi
panglima besar di usia 18 tahun. Lihatlah Mush'ab bin Umair yang di usia 20
tahun
udah jadi duta untuk membuka dakwah di Madinah. lihatlah ali bin abi thalib...
bla.. bla..bla.." sang binaan terus bercerita dengan sangat ghirohnya. Allahu
Akbar!
Secara pribadi, sang MR kagum sama ghiroh binaanya
yang setegar gunung, mengalir bagaikan air, bergerak bagaikan ombak dan menawan
bagaikan awan (halah...). Semoga Allah menguatkannya selalu. Amin... Tapi kalo
mau diteliti lebih lanjut cara berfikir ikhwan itu bisa "berbahaya"
lho. Kayaknya tersirat dari kalimat beliau, seolah ada pertentangan antara
produktivitas dakwah dengan pernikahan. kayaknya, kalo udah nikah maka kita
nggak
bisa lagi meneladani Usamah, Mush'ab dan Ali. Dan kayaknya lagi pemikiran
beliau kalo udah menikah, tidak ada kemungkinan buat jadi aktivis dengan
kemuliaan sebagaimana ketika belum menikah. seolah-olah, puncak prestasi dakwah
selalu kita raih sebelum menikah. Kasarnya, beliau bilang "menikah dengan
seorang akhwat yang sholihah adalah buah dari dakwah".
Pernikahan di persepsikan sebagai terminal
perhentian, tempat memetik manfaat. Pernikahan tidak dianggap sebagai bagian
dari dakwah. pernikahan tidak di anggap sebagai episode tempat dua orang saling
menguatkan untuk lebih berkontribusi dan berprestasi dalam dakwah. Seakan
pernikahan adalah episode baru yang menjadi tujuan dalam dakwah selama ini.
sekali berarti sesudah itu mati. Kalo udah nikah, ya selesai dakwah...
Syukurlah, argumen yang beliau bangun
sekaligus menolak cara berfikir beliau. Mengutip dari siroh sahabat, sebelum
menjadi panglima di usia 18 tahun, Usamah bin Zaid telah menikah dengan Fatimah
binti Qois, di usia 16 tahun.sebelum menjadi duta ke Madinah, Mush'ab bin Umair
udah nikah sama Hannah binti Jahsy.. dan Ali bin Abi Thalib? Jangan ditanya...
beliau udah jadi menantu Rosul. Mereka telah berjibaku memimpin keluarga,
sebelum sukses memmpin dakwah.. Subhanallah...
Nah, buat temen-temen saya yang akan,
sedang dan telah menikah, mari kita bersedih ketika pernikahan memutuskan
keterlibatan kita dalam dakwah. Mari kita bersedih ketika pernikahan
menumpulkan produktifitas dakwah kita. mari menitikkan air mata jika dengan
menikah kita terhalang untuk menjadi orang-orang besar. Mari kita menangis di
hadapan
Allah jika pernikahan hanya akan melenakan manusia dari tugas agung untuk
berdakwah dan berjihad di jalanNYA. Jika demikian, dimana barokah yag sudah
seharusnya kita raih?
'Alaa kulli haal... Segalanya bermula dari
bagaimana cara kita mempersepsi pernikahan. Pernikahan disebut separuh agama,
karna ia-nya masalah aqidah. Masalah bagaimana persepsi kita terhadap Allah,
diri kita, dan pernikahan itu sendiri. Dan pernikahan juga di sebut separuh
agama, karena tanpa istri atau suami di sisi, banyak perintah Allah di dalam Al
qur'an belum akan terasa maknanya..wallahu a'lam..
Semoga pemahaman ini menjadi awal dari
bertambahnya barokah dalam pernikahan kita kelak, terutama dalam produktivitas
amal dan jihad di jalan-NYA.. Sungguh pernikahan adalah bagian dari dua hal
ini, maka jangan pernah memandangnya sebagai buah yang akan kita petik dan
rehat yang akan kita lakukan atas dakwah kita selama ini.. Rehatlah nanti aja,
ketika kaki kita melangkah dan memijak syurga Allah... oww.... indahnya......
Jadi.... Ikan
bawal mana lagi yang mau dikawinin? Hmm.. bisa-bisa besok nggak ada ikan bawal
lagi yang terhidangkan di meja makan dech....
(mungkin diganti ikan lele yang ada kumisnye..)
FARIZAL ALBONCELLI In tansurullah yansurukum wayu sabit akdamakum
FS: [EMAIL PROTECTED]
Mobile : +62856 9171 4916
+6221 950 42948