2008-10-27 10:34:00

        Memperkuat Mazhab Ekonomi Syariah               
         
        
        KH Didin Hafidhuddin
Guru Besar IPB, Direktur Pascasarjana UIKA Bogor dan Ketua Umum BAZNAS


Sejarah
telah mencatat bahwa pada setiap peristiwa ekonomi yang sangat dahsyat,
mazhab ekonomi baru muncul sebagai solusi. Dahulu ketika terjadi Great 
Depression/ (tahun 1920-an), mazhab ekonomi klasik versi Adam Smith telah 
gagal. 

Muncullah
kemudian mazhab ekonomi Keynesian sebagai solusi. Demikian pula
seterusnya sehingga kita melihat munculnya beragam mazhab dalam ekonomi
konvensional. Meski demikian, semua mazhab tersebut tetap berlandaskan
pada nilai-nilai yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, seperti
menjadikan materi sebagai tujuan utama dengan menggunakan dan
menghalalkan segala macam cara untuk mewujudkannya. 

Hingga
saat ini kita pun masih belum mengetahui bagaimana akhir dari sistem
kapitalisme yang sekarang berada pada titik yang sangat rendah. Namun,
tanda-tanda kehancurannya sudah sedemikian jelas. 

Joseph Stiglizt, seorang ekonom kawakan peraih Nobel, dalam sebuah wawancara 
dengan CNN
mengatakan bahwa dahulu kita menyuruh negara lain untuk mengikuti dan
mencontoh kita, tapi sekarang kapitalisme Amerika tengah menuju kepada
kematiannya. Sebuah pernyataan yang menyiratkan bahwa ekonomi AS berada
di ambang kehancuran. Bahkan, Paul R Krugman, peraih Nobel ekonomi
2008, telah berkali-kali mengingatkan akan kehancuran dan kegagalan
kapitalisme ekonomi. 

Ini merupakan pertanda bahwa kalau kita
ingin menyelamatkan kehidupan ekonomi, maka harus segera meninggalkan
kapitalisme dan kembali pada aturan Allah SWT (ekonomi syariah).
Akankah kehancuran dari ekonomi dan keuangan konvensional merupakan
jalan bagi munculnya kekuatan mazhab ekonomi syariah yang nantinya akan
mendominasi dunia?

Jawabannya sangat tergantung pada komitmen
kita semua, baik pemerintah, para alim ulama, pelaku bisnis, dan
masyarakat secara keseluruhan. Maukah kita semua bersama-sama
menjadikan ekonomi syariah sebagai tulang punggung perekonomian bangsa
dan dunia? Apalagi Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown, pada
pertengahan Oktober 2008 lalu telah menyerukan dunia untuk bersama-sama
menciptakan sistem keuangan dunia yang baru, menggantikan sistem yang
ada sekarang. 

Akhir pekan lalu dalam pertemuan di Camp David
Maryland AS, Presiden Bush dan Presiden Sarkozy dari Prancis bersepakat
bahwa krisis keuangan global ini memungkinkan munculnya alternatif
sistem keuangan yang baru. Namun, jika sistem tersebut masih berbasis
pada bunga dan hal-hal lain yang dilarang oleh ajaran Islam, saya yakin
pasti akan hancur juga.

Inilah momentum yang tepat untuk mulai
mensyariahkan perekonomian kita, untuk kembali menegakkan syariat-Nya
di bidang ekonomi dan bidang-bidang lainnya. Tentu saja ini bukan
pekerjaan yang ringan. 

Karena itu, pada kesempatan ini saya
akan mencoba memaparkan beberapa langkah yang bisa kita lakukan dalam
situasi dunia yang seperti ini dan dalam rangka memperkuat mazhab
ekonomi syariah. Pertama, hendaknya kita bersungguh-sungguh
melaksanakan sistem ekonomi syariah dalam arti sebenarnya. 

Di
samping kesesuaian akad atau transaksi dengan syariah Islam, juga roh
atau spirit ekonomi Islam harus muncul dalam diri setiap individu dan
institusi pengusung ekonomi syariah. Roh inilah yang nantinya akan
menggerakkan sendi-sendi kekuatan para pemangku kepentingan atau stakeholder 
ekonomi syariah. 

Yakinlah
bahwa dengan komitmen dan semangat berekonomi Islam yang tinggi, Allah
akan memberikan jalan keluar yang terbaik dan mashlahat. Roh ekonomi
syariah itu, antara lain kesungguhan (mujahadah), keterbukaan, keadilan, 
keseimbangan dan tidak berlaku zalim.

Kedua,
hendaknya kita selalu bersinergi dalam mengembangkan ekonomi syariah,
termasuk di dalamnya industri perbankan dan asuransi syariah maupun
institusi LKS lainnya. Prinsip ta'awwun harus mampu
direfleksikan dengan baik. Tidak boleh ada upaya saling menjegal dan
saling menggunting dalam lipatan hanya karena mengejar keuntungan atau
profit semata. 

Semua lembaga keuangan syariah harus bersatu
dan bersinergi. Ingatlah bahwa berjuang sendirian tidak akan
menghasilkan kejayaan. Sebaliknya, kalau kita berjuang bersama-sama,
dalam spirit dan jiwa yang sama, insya Allah industri lembaga keuangan
syariah (LKS) akan semakin berkembang dan mampu memberikan kontribusi
yang positif dalam pembangunan perekonomian bangsa. 

Allah SWT
berfirman dalam QS At-Taubah (9) ayat 71: ''Dan orang-orang yang
beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi
penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, 
mencegah dari yang munkar,
mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan
Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.''

Dalam ayat yang lain Allah
juga berfirman: ''Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di
jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu
bangunan yang tersusun kokoh.'' (QS Ash-Shaff [61]: 4).

Kemudian
yang ketiga, perlunya penguatan SDM yang memiliki kompetensi yang
sangat luar biasa, baik secara moral maupun secara intelektual (QS
Yusuf [12]: 55). Sudah saatnya kita semua, termasuk pemerintah, mulai
memikirkan bagaimana menumbuhkembangkan desain kurikulum pendidikan
ekonomi syariah yang terintegrasi, tepat arah, dan memiliki output serta tujuan 
yang jelas. 

Bagaimana
pun juga, akselerasi pertumbuhan pangsa pasar industri asuransi syariah
dapat berjalan dengan baik manakala didukung oleh SDM yang andal dan
berkualitas. Keempat, diimbau kepada para pengambil kebijakan negeri
ini, baik pemerintah maupun DPR, bersama-sama menjadikan ekonomi
syariah sebagai panglima kehidupan perekonomian nasional. 

Segala
perangkat regulasi dan aturan perlu untuk diperkuat secara
terus-menerus dan berkelanjutan. Tanpa adanya perjuangan di tingkat
regulasi, kita khawatir bahwa industri ekonomi syariah hanya akan
berjalan di tempat. Kita berharap bahwa pemerintah dan DPR tidak perlu
ragu lagi untuk terus menggulirkan kebijakan yang proekonomi syariah.


      

Kirim email ke