Dollar Yang Perkasa.
“Bagaimanapun,
BI menghadapi situasi sulit, sama seperti yang dihadapi banyak negara karena
mata uangnya tenggelam oleh supremasi dolar AS. Ekonomi AS yang memburuk tapi
mata uangnya kian perkasa memang anomali dan sulit dicerna, namun situasi ini
tak bisa dilawan. Mayoritas dolar AS yang selama ini berada di luar AS,
terutama emerging markets, kembali ke ‘kampung halaman’ untuk berkonsolidasi.
Entah sampai kapan dolar-dolar itu akan kembali berinvestasi ke negara lain.”
Menyikapi Rupiah Secara Wajar-diambil
dari website Fiskal, Departemen Keuangan
Ya,
selama ini dollar (sejak tahun 1971-1973, saat kaitan dollar dengan emas
dilepaskan, 1 ons emas sama dengan 35 dollar) memang dalam kondisi terancam,
sekian banyak mata uang dollar AS yang berada di luar Amerika Serikat (AS),
sekitar dari 2/3 dari dollar kalo tidak salah─yang
jelas lebih dari setengahnya─kembali ke AS dan
menimbulkan inflasi dan gejolak ekonomi yang hebat di AS, bahkan global─dimana
seharusnya tidak terjadi secara berlebihan di beberapa negara,
seperti di Indonesia kita tercinta ini.
AS
selama ini berusaha mencegah kembalinya dollar tersebut, terlebih dengan
semakin meluasnya defisit neraca AS yang sempat menyentuh lebih dari 400 miliar
US dollar, yang berarti AS semakin “mengobral” dollar ke luas AS. Kembalinya
dollar tersebut sama dengan “bunuh diri” bagi AS. Akan terjadi inflasi yang
cukup signifikan angkanya untuk memperlambat pertumbuhan ekonomi AS. Selain
inflasi, saat ini saja AS sudah mengalami transfer asetnya ke pihak asing,
terutama berupa tanah di AS sendiri. Pintarnya,
AS saat itu sebenarnya tidak
sepenuhnya melepas kaitan minyak bumi dengan emas, well setidaknya tidak dengan
emas hitam atawa yang disebut dengan minyak bumi. Ya, denominasi emas hitam
ini dalam dollar, means that kalo mau
beli minyak bumi siapkanlah dollar. Hal ini memaksa negara-negara lain untuk
setidaknya menahan dollar dalam cadangan devisa mereka, misal Cina dengan
cadangan devisanya yang besar, yang mencapai lebih dari 1 trilyun dollar AS,
sepertiganya merupakan dollar AS.
Beberapa
negara mulai menyadari hal ini, dan bahkan berani mengambil tindakan untuk
mengganti penjualan komoditinya dengan dollar termasuk hasil minyak nya, yakni
Iran, Irak
(sebelum diserang) dll. Beberapa sebelum AS menginvasi Irak─dengan doktrin
pre-emptive war-nya
yang tidak jelas, yang membuat AS bisa menyerang siapa saja dengan dalih
melindungi keamanan negerinya─Irak telah mengganti
denominasi penjualan minyaknya dari dollar menjadi euro. Dalam suatu film
dokumenter
karya John Pilger (The World New Rulers), diakhir film terdapat suatu dokumen
dari United States Space Commands (USSC), yang menyatakan bahwa
globalisasi─versi AS─harus dipertahankan dan
mereka akan menggunakan kekuatan militer untuk menjaga hal tersebut, termasuk
menetralisir hal ancaman terhadap ekonomi (dollar AS), well lumayan menyeramkan
yah.
Iran
yang stance politiknya sejak 1979
umumnya selalu bersimpangan dengan AS, terlebih sejak naiknya kembali kelompok
konservatif ke tampuk pemerintahan dengan terpilihnya Ahmadinejad sebagai
Presiden Iran, berusaha sebisa mungkin untuk “menyerang” AS melalui dollar-nya
sendiri. Iran
sejak 3 tahun yang lalu telah merubah denominasi seluruh komoditi ekspornya ke
denominasi selain dollar, namun prefer
euro. Bahkan canggihnya, Iran
sudah membuka bursa minyaknya sendiri dengan denominasi selain dollar, namun
prefer euro. Dan hingga saat ini pun
bayang-bayang Iran akan
diserang oleh AS dan sekutunya juga belum pudar, bahkan di satu titik semakin
mengental dengan alasan isu nuklir Iran. Menarik untuk melihat apa
yang akan dilakukan Obama mengenai hal ini.
Iran (dan juga Venezuela)
termasuk pihak-pihak yang menyarankan mengubah denominasi dollar dalam
penjualan minyak OPEC (yang memproduksi 1/3 minyak mentah di dunia), namun
ditentang oleh gembong minyak Arab Saudi. Sekarang lihat keadaan rezim di
Venezuela dan Iran (Keduanya selalu diserang AS,
bahkan Chavez sempat mengalami kudeta yang gagal).
Satu
sisi yang menarik dalam hal ini adalah, ironisnya krisis yang terjadi di AS (dan
juga kembalinya dollar ke AS), yang seharusnya memukul parah AS saja, tapi juga
menyebabkan perekonomian di negara-negara lain (yang notabene tidak terlalu
terkait) ikut terjembab ke dalam krisis. Dan yang lebih aneh, kenapa dollar
masih perkasa?
Memang tidak dipungkiri, titik kesetimbangan bergerak. Dan akan terus begitu,
sudah sunnatullah. AS mewarisi 2/3 perekonomian dunia sejak berakhirnya Perang
Dunia II dan terus menurun sejak itu hingga 1/3 hingga sekarang dan posisinya
terancam Cina dan India.
Bisa dibayangkan AS yang GDP nya lebih dari 10,5 Trilyun Dollar AS, bahkan
salah satu sumber menyebut 13 Trilyun dollar AS. Merupakan pasar yang mau tidak
mau tetap berpengaruh terhadap perekonomian global. Contoh sederhana, komputer
dan segala tetek bengek-nya aj di
Mangga 2 pada dasarnya dijual pake dollar. Dan saat ini segala sesuatu hampir
“terkomputerisasi”.
Selain
itu kaitan dollar dengan minyak bumi mau tidak mau pasti akan dijaga AS dengan
sangat-sangat. Dollar menjadi suatu mata uang yang banyak diinginkan saat ini
dikarenakan “kelangkaannya”. Negara-negara sebagian besar menahan dollar mereka
agar tidak keluar dan permintaan likuiditas sendiri di AS juga tinggi karena
sedang seret. Akibat permintaan yang tinggi dan maka harga dollar naik. Dan
sialnya hal ini berdampak terhadap perekonomian negara Indonesia kita
tercinta ini.
A.
Riawan Amin dalam bukunya the “Satanic Finance” menyatakan terdapat 3 pilar
dalam perekonomian satanic, yaitu
riba, fiat money (uang kertas), dan fractional reserve requirement (sejumlah
uang yang
harus dipegang oleh suatu institusi (bank umumnya) terkait deposito ataun
simpanan nasabah, untuk menangani transaksi sehari-hari). Untuk riba dan
fractional reserve requirement (untuk
hal ini terdapat di ilustrasi Gago and
Sago) hal tersebut sudah jelas dan AS membutuhkan sedikit tenaga dalam
melindungi
ini dan melepasnya dalam mekanisme pasar dan sebaiknya pula diperangi dengan
mekanisme pasar melalui perekonomian syariah atau perbankan syariah. Namun
untuk fiat money (dollar AS) dan
bentuk turunan sistemnya, AS akan habis-habisan melindunginya dengan “invisible
hand”-nya.
Walter
Russel Mead, menjelaskan dalam tulisannya “sticky power”, bahwa AS akan
menggunakan power-power yang ada, termasuk sticky power, dalam melindungi
kepentingannya. Sticky power yang
diibaratkan sebagai jaring laba-laba yang memerangkap lawannya dan menjeratnya
akan memaksa musuh-musuhnya menuruti keinginannya. Sticky power tersebut
dibangun sejak lama sekali, sejak PD II. Dimulai
dengan memberikan “bantuan” berupa hutang yang luar biasa besar kepada suatu
negara dan pada akhirnya akan membuat negara tersebut bergantung terhadap AS
dan juga terjerat hutang luar negeri, dan menyebabkan negara tersebut
“berpikir” kejatuhan AS juga berarti kejatuhan negara tersebut, sebuah
ketergantungan. Maka mau tidak mau negara tersebut tidak akan membiarkan hal
tersebut dan memilih berpihak untuk mendukung dollar AS. AS juga menggiatkan
dollarisasi─mengaitkan mata uangnya
dengan pergerakan dollar AS─terhadap negara-negara
lain. Setiap negara yang akan berusaha melepaskan ketergantungan akan
perekonomian
AS, khususnya lepas dari dollar AS akan menemui suatu usaha yang sulit, bahkan
tak jarang AS memainkan soft power
dan hard power-nya secara invisible
atau terang-terangan dalam multitrack
diplomacy-nya untuk “menggoyang” untuk mempertahankan hubungan tersebut atau
mencoba lebih menancapkan pengaruhnya di suatu negara yang memang memiliki
interest AS (umumnya emas dan minyak
bumi serta sumber daya lainnya yang berharga).
Selain
itu ekspor gaya
hidup juga ikut berpengaruh. Gaya hidup dan
nilai-nilai masyarakat AS yang sangat boros dan berlebihan juga ikut diekspor
ke negara-negara berkembang, yang pada akhirnya mempengaruhi juga gaya hidup
(terutama
konsumsi) dan nilai-nilai di negara-negara berkembang. Hal ini juga ikut
mempengaruhi perekonomian dan membuat perekonomian sangat bergantung kepada AS,
terutama gaya
hidup yang penuh dengan “komponen import”. Akan sangat sulit melepaskan gaya
hidup, walau bisa.
Namun dibutuhkan suatu kesadaran dan usaha yang keras, itupun jika sudah mepet
banget. Sticky power itulah yang dimainkan AS sejak lama sekali, dan
nampaknya Indonesia, sejak awal Orba dengan adanya UU PMA 1967 telah
terpengaruh untuk masuk ke dalam jaring perangkap tersebut.
Usaha-usaha
yang mengancam pilar kekuatan dollar AS baik secara langsung atau tidak
langsung akan segera direspon (cara lembut atau keras/militer) oleh AS. Untuk
melindungi eksistensi dollarnya dan pengaruhnya, AS menggagalkan usaha/gagasan
dibentuknya Asian Monetary Fund (AMF) dan juga usaha negara-negara produsen
bahan mentah atau hasil bumi yang signifikan yang berusaha melepas kaitan
komoditinya dengan dollar, terutama minyak bumi. Hal itu akan membuat
negara-negara melepas dollarnya dalam cadangan devisanya karena dianggap tidak
signifikan lagi.
Jadi
gagasan dibentuknya suatu mata uang tunggal atau single currency pasti akan
menghadapi suatu “hambatan” besar. Untuk
dinar dan dirham juga dibutuhkan suatu cadangan emas dan perak yang besar untuk
meng-cover volume perdagangan yang
ada, dimana umumnya negara-negara berkembang belum mampu. Mungkin bisa untuk
sementara menggunakan uang kertas, dengan syarat fiat money tersebut tidak
dikaitkan dengan suku bunga dan tidak
boleh diperdagangkan., yang berarti mau tidak mau hanya ada satu jenis mata uang
saja (mungkin, hanya saja akan berdarah-darah) atau memang mengeluarkan aturan
pegging (mematok) mata uang (yang akan
sulit dilakukan, dikarenakan harus mempunyai cadangan devisa yang cukup besar
dan komoditi andalan pula, atau memiliki perekonomian yang sama sekali tidak
bergantung dari perekonomian luar, bisakah?).
So
dapat disimpulkan bahwa kuatnya dollar AS (walau AS sedang resesi) dan mengapa
negara kita terpengaruh sangat kuat dalam resesi ini, tidak terlepas dari
hal-hal berikut:
-
Walau kemunculan cina dan India
membuat sinar perekonomian AS meredup, kapitalisasi perekonomian AS masih kuat
dan berpengaruh dalam perekonomian global.
-
Masih kuatnya kaitan dollar dengan minyak bumi dan komoditi berharga lainnya
dan hal ini berpengaruh dalam supply-demand dollar dikarenakan, negara-negara
masih membutuhkan dollar dalam cadangan devisanya demi memenuhi kebutuhannya.
Hal ini membuat dollar secara otomatis menjadi mahal, dikarenakan demand
terhadap dollar tinggi baik di AS sendiri dan di luar AS.
-
Perekonomian Indonesia yang dikatakan secara fundamental kuat, namun juga secara
fundamental belum terlepas dari sticky
power AS.
Perlahan
tapi pasti terjadi pergeseran dalam titik kesetimbangan. Pasar berusaha
meng-koreksi
sistem yang ada dengan secara dialektis dalam bentuk suatu regulasi. Dengan
pertemuan G-20 yang hasilnya berupa koreksi
terhadap sistem yang ada, sebenarnya secara prinsip tidak mengalami perubahan
yang signifikan. So mungkin inilah saat yang tepat untuk menggiatkan
perekonomian syariah dan menggiatkan gaya
hidup syariah pula, yang terbebas dari sticky
power.
Banyak
“ghanimah” menanti, mereka yang saat ini dikecewakan dengan sistem konvensional
yang ada. Kemudian gaya hidup ke mal dan jajan
ke restoran cepat saji a la Mc Donald dan Kentucky atau sebangsanya dialihkan ke
pasar-pasar tradisional dan restoran-restoran lokal punya anak bangsa. Dan satu
lagi, himbauan Menkeu Perekonomian dan Gubernur BI untuk melepas dollar adalah
tepat, bukan merupakan langkah panik yang disuarakan sejumlah orang. Lepaslah
dollar Anda jika memang Anda punya (atau buat saya saja, he he, abis itu saya
jual tentunya, he he).
Clean government. Is it possible?