Untuk sebuah renungan di hari IBU..........

--- On Mon, 12/22/08, Diar Rachman.Roesmin <[email protected]> wrote:
From: Diar Rachman.Roesmin <[email protected]>
Subject: Fw: Bunda Selalu Tahu
To: [email protected]
Date: Monday, December 22, 2008, 7:56 AM



 
 

saya tak pandai menulis, apalagi mengungkapkan 
perasaan..
tapi kalau membatja tulisan orang, saya gampang 
menangis
 
saya tahu kasih Ibu sepanjang masa... jadi nggak 
usah dibuat hari khusus untuk beliaupun, saya tahu pasti beliau selalu 
menyayangi saya...
.....selamat hari Ibu.....
 

Bunda Selalu Tahu 
Posted by: "Bayu Gautama" [email protected]   bayugautama 

Sat Dec 20, 2008 4:40 pm (PST) 
taken from http://warnaislam. com

Di detik pertama saya 
melihat dunia, Bunda tahu bahwa saya sangat
ketakutan mendapati dunia yang 
berbeda dari kehidupan indah sebelumnya
di dalam rahim Bunda. Saya menangis 
sekuat-kuatnya untuk menunjukkan
bahwa saya benar-benar takut dan takkan 
mampu hidup sendiri dalam
kondisi yang sangat lemah. Tapi ketika itu pula, 
Bunda tahu ketakutan
yang saya rasakan. Ia merapatkan tubuh ini ke tubuhnya, 
menyodorkan air
murni kehidupan dan mengusapkan jari lembutnya di punggung 
kecil ini.
Hangat kecupnya terasa di kening seraya berucap, "Jangan takut 
nak,
Bunda kan selalu menemanimu sampai kapan pun" 
Tangisan 
pertama saya, mungkin agak asing untuk telinga Bunda. Tapi Bunda cerdas 
luar
biasa, hanya perlu waktu beberapa saat saja untuk bisa memahami 
seribu
bahasa yang keluar dari mulut mungil saya. Ketika tiba-tiba Bunda 
mampu
membaca bibir saya dan berkata, “Oooh, haus ya sayang… “ dan 
di
tangisan lain Bunda menerjemahkan lain pula, “sakit ya nak, mana 
yang
sakit? tangannya? Sini Bunda usap-usap ya…” 

Setiap tengah malam, 
saya menangis, kadang karena haus, lapar atau karena tidak betah
usai buang 
air kecil. Tak pernah Bunda mengeluh, apalagi melanjutkan
tidurnya tak 
peduli. Secepat kilat ia bangun, mengganti popok,
membersihkan kotoran saya, 
atau menyusui saya yang kehausan. Baru
setengah jam Bunda terpejam, saya 
menangis lagi, kali ini karena nyamuk
yang mengganggu. Bunda tahu itu, 
sesungguhnya ia tak pernah benar-benar
terlelap. Antara sadar dan tidak, 
Bunda pasti terbangun setiap kali
lenguhan si kecil ini terdengar seraya 
sigap memberi apapun yang
diinginkan. 
Tak hanya ketika bayi, Bunda 
menemani saya tidur
hingga waktu-waktu saya menjelang remaja. Bunda tahu 
betul, saya selalu
rindu tidur di sisi bunda karena ingin mendengarkan 
dongeng seperti
dulu, atau sekadar merasakan hangatnya usapan lembut jari 
Bunda di
punggung. Kemudian nyanyian merdu Bunda mengiringi jiwa yang terbang 
ke
alam mimpi. Tak semerdu biduanita terkenal memang, tapi kasih 
yang
menyertainya membuat suara Bunda jauh lebih indah di hati. 
Lagu 
favorit saya adalah "Bintang Kecil",
karena Bunda menyanyikannya sambil 
memproklamirkan bahwa sayalah
bintang kecil itu, yang tak hanya bercahaya di 
malam hari, namun selalu
menjadi cahaya di dalam hati Bunda. Saya juga suka 
lagu "Pelangi"
sebab kata Bunda, memiliki saya sebagai anaknya jauh lebih 
indah dari
pelangi manapun yang pernah dilihatnya. Satu lagi lagu kesukaan 
saya,
terutama pada kalimat pinta, "ambilkan bulan bu…”, kata Bunda, tak 
hanya bulan, apapun yang saya minta akan diambilkan. 
Saat saya masih suka 
pipis di celana, Bunda tak pernah marah. Ia tahu saya sudah cukup merasa 
malu,
dan tak ingin menambah penderitaan dengan omelannya. Ia hanya 
menuntun
tangan kecil ini sambil menunjukkan tempat pipis yang
sebenarnya. 
Saat harus membersihkan bekas buang air kecil atau kotoran
yang bau nan 
menjijikkan, kadang ia tengah asik menikmati santapan
pagi, siang maupun 
malam. Dengan senyum terindah, ia tinggalkan
makannya untuk sesaat 
membersihkan saya. 
Kalau Bunda senyum saat saya mendapat nilai sempurna di 
sekolah, itu biasa. Namun senyum yang
sama terukir di bibirnya ketika nilai 
saya jeblok,benar- benar
membuat saya merasa berjalan di atas awan. Bunda 
tahu, marah karena
nilai jelek yang saya dapatkan tidak akan membenahi 
keadaan. Senyumnya
justru memberi saya arti bahwa ia tetap bangga terhadap 
anaknya dalam
kondisi apapun. Dan karena itulah, saya berjanji untuk 
senantiasa
memberi nilai setimpal untuk senyum indahnya itu. 
Saya pernah 
sakit, berhari-hari sampai tidak mau makan dan minum. Bunda sedih,
meski yang 
sakit anaknya, tapi ia lebih menderita dari siapapun di
dunia ketika itu. 
Bunda tahu, saat anaknya sakit maka ia akan merasa
dirinya lah yang sakit. 
Karena anak adalah buah hatinya, mutiara
jiwanya. Maka jika sakit buah 
hatinya, sakit pula dirinya secara
menyeluruh. Jika sakit mutiara jiwanya, 
sakit pula tubuh keseluruhannya. 
Pada akhirnya, ketika saya memutuskan untuk 
menikah. Bunda menangis, akan
ada orang lain yang mengisi hati ini untuk 
dicinta selain dirinya.
Meski demikian, Bunda tahu bahwa saya tetap selalu 
mencintainya lebih
dari apapun. Bunda tahu ia takkan kehilangan diri ini 
meski harus
berjauhan dan tak lagi tinggal serumah. Meski pada akhirnya 
ia
benar-benar merasa kehilangan, ia tetap pada keyakinannya, 
anak-anak
akan kembali padanya. 
Bunda benar, saya merasa takkan pernah 
bisa berdiri tanpa Bunda, sebab Bunda lah yang pertama kali melihat
saya 
belajar berdiri. Sejauh saya melangkah, kemana pun saya pergi,
Bunda lah yang 
memulainya dengan mengajari saya cara berjalan.
Sehebat-hebatnya saya menjadi 
pembicara dalam berbagai kesempatan, kata
pertama dari mulut ini Bunda juga 
yang mengajarinya. bahkan, jauh
sebelum saya melihat keindahan berbagai 
penjuru dunia, senyum Bunda
pula yang pertama kali saya lihat. Seelok apapun 
makhluk yang saya
temui di dunia, saya lebih dulu melihat wajah mulia Bunda. 

Kini, walau anak-anak jarang berkunjung, kerap lupa menelepon sekadar 
untuk
menanyakan kabar, Bunda tahu bukan karena anak-anak tak lagi 
mencintai.
Bahkan tanpa memberi tahu, Bunda selalu yakin anak-anaknya 
dalam
keadaan baik-baik saja, karena itulah yang tak pernah lupa ia 
panjatkan
dalam doa di sujud malamnya.
Maaf Bunda, karena sekarang justru 
saya yang sering lupa mencari tahu, apa Bunda baik-baik saja? Siapa
yang 
memberi obat ketika Bunda sakit? Siapa yang menemani Bunda
jalan-jalan sore, 
apa Bunda sudah makan malam … (gaw) Happy mothers day, mom 

Bayu Gawtama 

Life-Sharer 
http://bayugawtama. net 
087 87 877 
1961
 


      

Kirim email ke