http://akhsa.wordpress.com/2008/12/11/tanda-kebaikan-islam-seseorang/
Tanda Kebaikan Islam Seseorang
Dinukil dari buku “Keselamatan Insan dengan Menjaga Lisan”
Oleh: Fariq Gasim Anuz
Dari Abu Hurairah , ia berkata bahwa Rasulullah telah bersabda: “Termasuk dari
kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak penting
baginya.” (H.R.. Tirmidzi dan yang lainnya)
Imam Nawawi rahimahullah menyatakan dalam kitab Al Arba’in bahwa hadits ini
derajatnya hasan. Syaikh Salim Al Hilali menyatakan dalam buku “Shahih Al
Adzkar wa Dhaifuhu” hadits ini shahih lighairihi.. Kesimpulannya hadits ini
benar adanya dari Rasulullah.
Imam Ibnu Rajab rahimahullah (wafat tahun 795 H) mengatakan: “Hadits ini
merupakan fondasi yang sangat agung dari fondasi-fondasi adab.”
Beliau juga menyatakan pula tentang pengertian hadits ini:
“Sesungguhnya barangsiapa yang baik keislamannya, pasti ia meninggalkan
ucapan dan perbuatan yang tidak penting baginya, ucapan dan perbuatan
dia terbatas dalam hal yang penting baginya.”(Jami’ul Ulum wal Hikam)
Standar penting di sini bukan
menurut rasa atau rasio kita yang tidak lepas dari pengaruh hawa nafsu,
akan tetapi berdasarkan tuntunan syari’at Islam. Termasuk meninggalkan
ucapan dan perbuatan yang tidak penting adalah meninggalkan hal-hal
yang haram, atau yang masih samar, atau sesuatu yang makruh, bahkan
berlebihan dalam perkara-perkara yang mubah sekalipun apabila tidak
dibutuhkan, termasuk kategori hal-hal yang tidak penting.
Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan pula: “Kebanyakan
pendapat yang ada tentang maksud meninggalkan apa-apa yang tidak
penting adalah menjaga lisan dari ucapan yang tidak berguna sebagaimana
disebutkan oleh Allah : “Tidaklah seorang mengucapkan satu ucapan,
kecuali padanya ada malaikat yang mengawasi dan mencatat.” (Surat Qaaf: 18)
Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata: “Barangsiapa
yang membandingkan antara ucapan dan perbuatannya, tentu ia akan
sedikit berbicara, kecuali dalam hal-hal yang penting”.
Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam kitab Al Adzkar : “Ketahuilah,
sesungguhnya setiap mukallaf (muslim) diharuskan menjaga lisannya dari
segala ucapan, kecuali yang mengandung maslahat. Apabila sama
maslahatnya, baik ia berbicara atau diam, maka sunnah untuk menahannya,
karena kata-kata yang mubah dapat mengakibatkan akhirnya kepada yang
haram atau makruh, dan ini yang seringkali terjadi pada umumnya,
padahal mencari keselamatan itu tak ada bandingannya.” Artinya mencari
keselamatan itu sangat penting sekali.
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah (wafat tahun 751 H) berkata: “Menjaga
lisan adalah agar jangan sampai seseorang mengucapkan kata-kata yang
sia-sia, apabila ia berkata hendaklah berkata yang diharapkan terdapat
padanya keuntungan padanya dan manfaat bagi dien (agama)nya. Apabila ia
akan berbicara hendaklah ia pikirkan, apakah dalam ucapan yang akan ia
keluarkan terdapat manfaat dan keuntungan atau tidak? Apabila tidak
bermanfaat hendaklah ia diam, apabila bermanfaat hendaklah ia pikirkan
lagi, adakah kata-kata yang lebih bermanfaat atau tidak? Supaya ia
tidak menyia-nyiakan waktunya dengan yang pertama.” (Dinukil dari kitab Ad Da’u
wad Dawa’)
Selanjutnya beliau juga mengatakan dalam kitab yang sama: “Adalah
sangat mengherankan bahwa manusia mudah sekali untuk menghindari dari
memakan barang yang haram, berbuat zhalim, berzina, mencuri,
minum-minuman keras, memandang pandangan yang diharamkan, dan lain
sebagainya, tetapi sulit untuk menjaga gerakan lisannya, sampai-sampai
seseorang yang dipandang sebagai ahli agama, zuhud, gemar ibadah,
tetapi dia berbicara dengan ucapan yang membuat Allah murka padanya,
disebabkan ucapannya tersebut tanpa ia sangka-sangka menyebabkan ia
terjerumus ke neraka jahannam lebih jauh antara jarak timur dan barat.
Betapa banyak orang yang demikian yang engkau lihat dalam hal wara’,
meninggalkan kekejian dan kezhaliman, tetapi lisannya diumbar ke sana
kemari menodai kehormatan orang-orang yang hidup dan yang telah
meninggal dunia, tanpa mempedulikan akibat dari kata-kata yang
diucapkannya.”
Ancaman yang disebutkan tadi berasal dari sabda Nabi :
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kata-kata, ia tidak memikirkan
(apakah baik atau buruk) di dalamnya, maka ia tergelincir disebabkan
kata-kata itu ke dalam api neraka sejauh antara timur dan barat.” (Muttafaq
Alaihi)
Terakhir sebagai penutup marilah kita simak nasehat dari Syaikh Muhammad bin
Shalih Al Utsaimin hafizhahullah yang diringkas dari karyanya Syarah Riyadhus
Shalihin:
“Seorang muslim apabila ia ingin baik keislamannya, maka hendaklah ia
meninggalkan apa-apa yang tidak penting baginya. Contoh: Apabila engkau
bingung terhadap suatu amalan, apakah engkau kerjakan atau tidak?
Lihatlah amalan itu apakah penting untukmu dalam hal dien dan dunia
atau tidak penting? Jika penting maka lakukanlah, kalau tidak maka
tinggalkanlah, karena keselamatan itu harus lebih diutamakan.
Begitulah,
janganlah engkau ikut campur dengan urusan orang lain, jika kamu tidak
memiliki kepentingan dengannya, tidak seperti yang dilakukan oleh
sebagian manusia pada hari ini berupa rasa ingin tahu terhadap urusan
orang lain, apabila ada dua orang yang sedang berbincang-bincang, maka
engkau datangi keduanya, ingin tahu apa yang sedang diucapkan oleh
mereka berdua, atau terkadang mengutus orang lain untuk
mendengarkannya. Contoh yang lain, jika engkau berjumpa dengan orang
lain, engkau bertanya kepadanya, “darimana kamu?”, “apa yang dikatakan si fulan
kepadamu?”, “apa yang kamu katakan kepadanya?”, dan
lain-lain sebagainya dari perkara-perkara yang tidak penting, dan tidak
ada faedahnya, bahkan ia menyia-nyiakan waktu, membuat hati gelisah,
dan mengacaukan pikirannya serta menyia-nyiakan kebanyakan dari
perkara-perkara penting dan bermanfaat. Engkau dapatkan seorang yang
dinamis, aktif dalam beramal, memiliki perhatian penuh terhadap
kebaikan bagi dirinya dan hal-hal yang bermanfaat baginya, maka engkau
dapatkan dia sebagai orang yang produktif.
Maka
kesimpulannya, jika engkau ingin melakukan atau meninggalkan suatu
pekerjaan, perhatikanlah! Apakah hal itu penting bagimu atau tidak?
Jika tidak penting, maka tinggalkanlah. Apabila penting, maka
kerjakanlah sesuai dengan prioritasnya. Begitulah manusia yang berakal,
ia sangat perhatian dengan amal kebaikan sebagai persiapan menghadapi
kematian, dan dia selalu menginstropeksi diri terhadap amal-amalnya
selama ini. Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua.”
==========================================
Aku Ingin Menjadi Peluru
Berjuang Menembus Ruang dan Waktu
Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman. Tambahkan mereka
dari email atau jaringan sosial Anda sekarang!
http://id.messenger.yahoo.com/invite/