Wow, debat yang klasik, bahkan beberapa muslim asing pun debat yang persis seperti ini via facebook, sayang sekali kenapa harus terjadi terkait dengan isu invasi Yahudi Laknatullah ke Gaza. Tapi coba lihatlah link berikut: http://www.mpacuk.org/content/view/2017/1/ dan lihatlah apa yang dilakukan zionis Yahudi: http://www.timesonline.co.uk/tol/news/world/middle_east/article693911.ece See, perang adalah tipu daya kan?! Bagaimana bisa jika Anda berjalan bersama teman Anda, jika Anda mau dibilang dia adalah saudara seiman Anda, yang seorang muslim kemudian ada seorang yang notabene nya adalah common enemy dari Anda dan teman Anda, yang kemudian datang menghadang dan menghajar teman Anda sampai babak belur. Yang Anda lakukan hanya melihat dan mengatakan: “Bro, Loe banyak melakukan bid’ah she Bro, makanya Loe dihajarin tuh! Tenang Bro gw lagi doain Loe dari sini neh, moga-moga luka Loe ga parah ya Bro” Sambil tetap melihat temannya dihajari!! Why oh why? Bukankah adalah doa Umar bin Khattab untuk mati ditangan seseorang yang membenci Islam? Dan itu sebuah kemulian? Terlebih matinya dalam keadaan memerangi mereka? Waktu kebetulan dalam perjalanan bersama seorang teman, kita singgah untuk Jumatan di sebuah Masjid. Khatib berkhotbah tentang Tsunami Aceh. Dalam khotbahnya khotib menyukuri dengan apa yang terjadi di Aceh dikarenakan itu adalah azab untuk rakyat Aceh. Duh, kontan temen saya yang kritis berkata, “Kok Ustad kaya gitu seh? Bukannya doain, malah ngaminin?!” Saya bukan seorang yang pro terhadap suatu partai tertentu, bahkan cenderung apatis terhadap partai-partai politik, semua. Bukankah Rasul saw. juga seorang pemimpin, dan jika sudah berbicara mengenai pemimpin maka tak lepas dari kekuasaan, maka tak lepas pula dari politik. So kenapa harus mentabukan politik/ Kenapa hal-hal yang kontraproduktif terhadap munculnya suatu kesempatan (atau usaha) untuk membuat orang non-muslim tertarik untuk mendalami Islam seperti ini selalu muncul? Kenapa kita ga bisa melihat persamaan kita aja dulu seh? Saya yakin orang muslim yang cerdas setidaknya dapat mengidentifikasikan suatu hal yang jelas-jelas terdapat perbedaan, setidaknya. Untuk hal-hal seperti Lia Eden itu nabi atau bukan, Ahmadiyah lurus atau bukan, berjilbab itu suatu keharusan atau bukan, orang yang tidak sholat itu muslim atau bukan? Sesederhana itu, jika setidaknya Tuhan kita masih sama Allah SWT, Nabi kita masih sama Muhammad saw., Kitab kita masih sama Al-Quran, Sholat kita masih sama 5 waktu, Puasa Ramadhan masih sama, dst… so what? Saya mau bertanya, kenapa ulama di Arab Saudi tidak berbicara kepada keluarga Kerajaan Arab Saudi, Al-Saud “Hey, Pak, dulu Rasulullah saw tidak menyuruh mendirikan kerajaan untuk memerintah, bid’ah tuh?!” Sudah tau mengenai Economic Hitman karya John Perkins kan? Jika ada suatu kelompok berkata “lancang” dan menjurus ke politik, maka dibilanglah itu bidah dan didukung oleh kerajaan. Ironisnya, balik lagi, coba donk, pihak kerajaan juga dievaluasi oleh ulamanya juga. Evaluasi bagaimana kebijakan-kebijakan kerajaan terhadap peribadatan di Arab Saudi (bahkan aturan berzakat), bagaimana bentuk hubungan Arab Saudi dengan AS. Setelah di evaluasi coba donk keluarin fatwa. Keambiaguan yang ada ini menimbulkan kesan bahwa ulama “digunakan” oleh kerajaan Arab Saudi untuk melegitimasi kekuasaan nya. Apakah iya? Terus bagaimana tersebut mendifisikan antara combatan dengan sipil? Bukankah di jaman modern ini harus terpisah jelas antara militer dengan sipil dimana terlihat jelas perbedaannya dengan konsep sipil dan militer waktu di jaman Rasulullah saw. Dengan kata lain terdapat sesuatu yang diada-adakan? So, kenapa menggunakan argumen dengan menggunakan konsp sipil-militer ini dan menyalahkan HAMAS─dan secara tidak langsung menyalahkan rakyat Palestina lainnya untuk berada dekat-dekat mereka, makanya jadi sial─terkait dengan konsep sipil-militer ini? Lebih jauh saya mau bertanya. Kenapa orang-orang yang justru tampilannya sangat Islami, jika Anda mendifisikan deskripsi berikut tampilan Islami, dengan jenggot lebat, sorban, celana congklang, dll. sangat gemar memikirkan kesalahan umat Islam tapi melihat Islam dihabisi pelan-pelan kok terkesan diam? Apakah karena, mau ga mau, mereka juga ada di sistem tersebut? Dan jika dikatakan bahwa itu bid’ah dan akan mendatangkan bencana, maka bersiaplah kita semua. Karena bencana bencana itu akan datang dimana-mana, karena semua sistem negara berarti bidah dan akan mendatangkan bencana. So, kenapa kita bersatu saja menghadapi bencana tersebut, instead of berbuat yang kontraproduktif terhadap Islam? Cobalah wakilkan sebuah kelembutan dalam wajah dakwah. Tentu hal itu akan sangat bermanfaat untuk meraih simpati untuk Islam. Apakah demonstrasi & turun ke jalan itu hal yang wajar? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers! http://id.answers.yahoo.com

