Bismillaahirrahmaanirrahiim…

*Alhamdulillaahi –l Khaaliqil kauni wa maa fiih, wa jaami'in naasi li yaumin
laa raiba fiih. Asyahadu an laa ilaaha illallaah, wa anna Muhammadan
rasuulullaah… wa ba'd…*

Perhatian dunia dalam beberapa hari ini tertuju pada Jalur Gaza. Invasi
tentara Yahudi ke Gaza menelan banyak korban terutama wanita dan anak-anak.
Korban luka-luka semakin memperbanyak deretan korban meninggal dunia. Dunia
pun merespon dengan berbagai macam aksi.

Di antara aksi sebagai bentuk kepedulian atas musibah yang menimpa kaum
muslimin di Palestina itu adalah aksi berupa bantuan kemanusiaan. Yang
paling menonjol dalam hal bantuan tersebut adalah Saudi Arabia, di bawah
pimpinan Raja Abdullah bin Abdul Aziz –*ayyadahullah*-. Ini bukan klaim
tanpa bukti. Sebagai contoh: Program "Donasi Untuk Palestina" digencarkan,
walaupun sudah sejak lama dicanangkan. Rumah-rumah sakit ternama di pusat
kerajaan Saudi difokuskan untuk menangani korban luka-luka akibat serangan
kaum Yahudi tersebut. Bantuan berupa makanan, pakaian dan obat-obatan juga
terus mengalir sampai tulisan ini diturunkan. Kalangan ulama pun tidak
tinggal diam. Baik perseorangan maupun lembaga/organisasi. Syeikh Abdul Aziz
Alu Syeikh dan Syeikh Abdurrahman As Sudais mengecam dengan keras aksi
serangan tersebut dalam khutbah jum'at mereka. Mereka dan umumnya para
khatib di Saudi tidak lupa mendo'akan kaum muslimin Palestina secara khusus.
Lajnah Daa'imah juga mengeluarkan pernyataan dalam menyikapi tragedi di
Jalur Gaza tersebut. Dan masih banyak lagi bentuk bantuan baik materi maupun
moril/spirit.

Namun ada segelintir orang menutup mata dengan kenyataan ini dan
berkomentar, *"Saudi Arabia adalah negara yang takut dengan Amerika dan
kurang memberikan bantuan yang konkrit kepada kaum muslimin di
Palestina."*atau kalimat yang semisalnya.

Terhadap siapa saja yang berkomentar seperti di atas, saya katakan:

Apakah maksud Anda dengan kata 'konkrit' bahwa Anda menginginkan agar
Pemerintah Saudi mengirimkan tentaranya ke Palestina untuk menghantam
pasukan Israel? Baiklah jika memang demikian, apakah Amerika akan tinggal
diam? Padahal Allah berfirman (yang artinya), *"…dan janganlah kalian
menjatuhkan diri-diri kalian dalam kebinasaan…"* (Qs. Al Baqarah: 195)

Taruhlah seperti apa yang Anda inginkan bahkan lebih dari itu -semua
pemerintah negara muslim mengizinkan rakyatnya untuk berjihad ke palestina
dan saya berhusnudzdzan Anda akan ikut serta di dalamnya-, maka Anda akan
berjihad di bawah bendera siapa di Palestina? Di bawah bendera HAMAS kah?
Atau berspandukkan AL FATH? Atau barangkali di bawah komando Jihad Islami
Palestina (JIP)? Atau Anda memimpin laskar jihad yang Anda buat sendiri?
Tahukah Anda bahwa jihad bukan hanya perkara mengucapkan dan
meneriakkan, *"…'Isy
kariiman… aw Mut syahiidan…"* (Hiduplah dalam kemuliaan atau matilah sebagai
syahid)? Namun jihad membutuhkan seorang imam dan *tandhim* (taktik dan
siasat perang). Dan yang lebih penting lagi, apakah Anda yakin bahwa
masing-masing front/partai/hizb itu berperang untuk meninggikan kalimat Laa
ilaaha illallaah? *Qul Haatu burhaanakum in kuntum shaadiqiin.*

Jika Anda mengatakan, *"Kaum muslimin harus berada dalam satu barisan dalam
menghadapi dan menyikapi Yahudi."*, maka saya tidak berbeda pendapat dengan
Anda. Bahkan tidak ada dua orang muslim yang berselisih pendapat tentangnya.
Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya (yang artinya): *"Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang
teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun
kokoh."*(Qs. Ash Shaff: 4)

Namun bagaimana Anda bisa mempersatukan barisan kaum muslimin untuk
berjihad, sedangkan di tengah-tengah mereka masih banyak kaum muslimin yang
menyembah kuburan, menghambakan diri kepada dukun (dengan mematuhi
persyaratannya atau menjalankan lelaku walaupun bertentangan dengan
syari'at), paranormal (dengan membenarkan berita gaib yang sampai
kepadanya), dan tukang pelet? Bagaimana pula halnya kalau kaum muslimin yang
terjun di medan jihad, banyak di antara mereka yang memakai jimat, atau
membaca mantera-mantera yang telah dirajah oleh mbah-mbah dukun supaya kebal
senjata api dan agar tidak terdeteksi oleh radar?! Bagaimana Anda akan
mempersatukan kaum muslimin dalam rangka
jihad<http://muslim.or.id/manhaj-salaf/kami-tidak-tinggal-diam-wahai-palestina.html>,
kalau segolongan di antara mereka tidak akan berangkat perang sebelum
melakukan thawaf (mengelilingi) kuburan seseorang yang dianggap wali? Atau
bagaimana pula jika segolongan yang lain tidak akan berperang kalau yang
menjadi imam bukan dari golongannya? Atau bagaimana kaum muslimin akan
bersatu padu dalam medan jihad, kalau mereka ketika dikumandangkan seruan
azan *"Mari mencapai kemenangan…"* 2x bermalas-malasan mendatangi masjid
(terutama waktu fajr/shubuh)?

Rasulullah *shallallaahu 'alaihi wa sallam* bersabda, *"Pondasi segala
sesuatu adalah Al Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah
jihad."* (HR. At Tirmidzi, Hasan Shahih). *Al Islam* itu sendiri
adalah *istislam
*(berserah diri) kepada Allah dengan mentauhidkanNya, dan *inqiyaad* (patuh)
dengan mentaatiNya, dan *baraa'ah* (berlepas diri) dari kesyirikan dan
pelakunya. Berdasarkan hadits ini, kaum muslimin tidak akan berhasil
menggapai puncak kejayaan, jikalau pondasi dan tiangnya keropos.

Jika Anda bersikap adil, mengapa Anda hanya menggugat Saudi Arabia? Bukankah
negara yang berbatasan dengan Palestina adalah Mesir, Yordania, Libanon
serta Syiria? Seharusnya negara-negara tersebut yang paling mudah untuk
mengirim pasukan-pasukannya mengepung dan meremukkan artileri dan infanteri
Yahudi. Namun pertanyaan politis yang harus Anda jawab terlebih dahulu
adalah: Apakah negara-negara Arab yang disebutkan terakhir (sebagai misal
saja) politik luar negerinya merupakan politik anti Amerika???

Dalam lingkup yang lebih sempit, idealnya negara-negara Arab seharusnya
bersatu dalam menyikapi tragedi berdarah tersebut. Namun, kenyataannya tidak
seperti yang diharapkan. Buktinya salah satu negara yang berbatasan dengan
Jalur Gaza menilai Hamas lah yang menyebabkan tragedi berdarah di kota yang
berhadapan dengan laut Mediterrania (*Al Bahru -l Mutawassith*) itu.
Sedangkan Saudi Arabia dan beberapa negara arab lainnya menilai Israel telah
melakukan sesuatu yang tidak berprikemanusiaan. Lihatlah! Sesama negara Arab
berbeda pandangan dan sikap. Dan yang demikian itu bukanlah hal yang baru.
Telah terjadi jauh sebelumnya pengkhianatan di kalangan negara Arab dalam
menghadapi Israel pada tahun 1967 dalam perang yang dikenal sejarah sebagai
Perang Enam Hari. Berbeda halnya dengan yang terjadi pada tahun 1973, di
mana bangsa Arab bersatu padu di bawah komando Raja Faisal bin Abdul Aziz –*
rahimahullah*- akhirnya berhasil memukul mundur dan mengusir Israel keluar
dari Sainaa'.

Oleh karena itu bersikaplah adil dan bijaksana dalam menilai segala sesuatu.
Jangan sembarangan menuduh tanpa bukti dan fakta. Mengapa kita disibukkan
dengan menilai dan mensifati orang lain dan lalai menilai diri kita sendiri?
Mengapa kita tidak berlomba-lomba melebihi Saudi Arabia dalam membantu
korban kedzaliman Yahudi tersebut? Silahkan saja bandingkan antara Saudi
Arabia dengan negara mana saja dalam hal donasi untuk Program Peduli
Palestina.

Akhirnya, mari kita mendo'akan kaum muslimin yang muwahhid yang menjadi
korban kedzaliman tentara Yahudi di Jalur Gaza khususnya, dan Palestina
umumnya, agar mendapatkan syahadah *fii sabiilillah* dan semoga kita
dikumpulkan bersama para Nabi, shiddiiqiin, para syuhada' dan orang-orang
shalih.

*Washallallaahu 'alaa nabiyyinaa Muhammad, wa aakhiru da'waanaa anil
hamdulillaahi rabbil 'aalamiin.*

Riyadh, 14 Muharram 1430 H

***

Penulis: Abu Yazid (dari Riyadh, Saudi Arabia)
Artikel 
www.muslim.or.id<http://muslim.or.id/manhaj-salaf/kami-tidak-tinggal-diam-wahai-palestina.html>


-- 
Stay Hungry, Stay Foolish
==========================
Denny Juzaili
Departemen Manajemen, Alumni Farmasi UI
Universitas Indonesia
===========================
p: 085693602410
p: 021-95657099
e: [email protected]
===========================
Pengajar Privat SD, SMP, SMA, IPA dan IPS, experienced!!!!!!!
===========================
"Wa qarna fii buyuutikunna wa laa tabarrajna tabarrujal jaahiliyyatil
uulaa...."

"Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Dan Allah menjadikan kalian sebagai
pengatur di dalamnya dengan turun temurun, lalu Dia melihat bagaimana kalian
berbuat. Maka hati-hatilah kalian dari dunia dan hati-hatilah kalian dari
wanita karena awal fitnah yang menimpa Bani Israil adalah pada wanitanya."

Kirim email ke