Assalamu'alaikum

  
Melalui Ujian Tuhan Menjadi Nyata

Baru
saja banjir menyapa ibu kota. Pelumpang dikejutkan dengan ledakan
besar. Salah satu Depo Pertamina terbakar. Ujian datang silih
berganti, seakan tidak habisnya. Berbicara tentang ujian. Kita akan
menemukan beragam cara manusia menyikapinya. Dari interpretasi sedih,
kecewa, derita dan sengsara. Bahkan ada juga yang memaknai sebagai ;
Bahagia, Seyum, Damai dan tertawa. Semua itu kembali kepada pribadi
masing-masing.

Ujian
dan cobaan berbagai macam bentuknya. Pemutusan kerja, Cerai, Sakit,
Perpisahan, kalah, Gagal, Kematian, selingkuh, ditipu, Banjir,
kebakaran, tanah longsor, gempa, kapal tenggelam, tabrakan, fitnah,
ancaman, kenaikan kelas, akhir semester… ( Biarlah yang membaca
melanjutkan. Pastinya wadah ini tidak cukup mewakili). Sekali lagi,
itu semua bagaimana kita memaknai. Apakah ujian sebagai pengkerdilan
? atau cobaan sebagai penghebatan diri ?

Bagi
mereka yang menjadikan ujian sebagai beban. Kehidupan rasanya sempit.
Pancaran indah sinar matahari seakan redup. Sepi dalam keramaian..
Nasi keras bagaikan batu. Air bak berduri. Terkadang anda akan
berjumpa, dengan orang-orang yang  telah mati sebelum ajal menjemput.

Berbeda
bagi pribadi-pribadi berjiwa besar. Ujian dan cobaan adalah
penghebatan diri. Pembangun mental. Penguat hati. Pengembangan diri.
Penghambaan diri kepada Allah. Dimata mereka, melalui ujian Tuhan
menjadi nyata.

Dikehidupan
orang-orang yang berjalan dalam ekpedisi kejernihan. Dikisahkan;
suatu ketika Nasrudin mengikuti ceramah keimanan. Pesan yang sangat
berkesan bagi Nasrudin adalah “ Tuhan Maha Baik”.
Langit
mulai mendung. Gemuruh Guntur besahutan. Kilasan kilat berkilauan.
Perjalanan pulang kerumah, Nasrudin diingatkan oleh penceramah. “
Din, diluar petir. Berdiamlah dulu. Nanti baru kamu pulang “.
Nasrudin menjawab sambil melangkah. “ Tuhan maha baik “.

Selang
beberapa meter. Paman nya menasehati “ Masuklah kerumah, diluar ada
petir !”. Nasrudin menjawab “ Tuhan Maha baik”. Mendekati
rumahnya,  Nasrudin diingatkan lagi oleh temannya “ Diluar ada
petir, nanti engkau tersambar. Masuklah kerumah !”. “ Tuhan Maha
baik”. Nasrudin membalas.

Diwaktu
Nasrudin melintasi pohon besar. Tiba-tiba terdengar keras halilintar.
Kilasan kilatnya mengilaukan mata. Suaranya memekik gendang telinga.
Petirpun menyambar batang pohon, jatuh atas kepala Udin. Seketika
malaikat izrail mencabut nyawa.

Nasrudin
protes kepada tuhan. “ Tuhan, katanya engkau Maha Baik. Tapi kenapa
engkau izinkan petir menyambar pohon ?” Tuhan menjawab “ Din,
bukankah ustaz sudah melarang mu pulang ? Pamanmu menasehati, temanmu
juga mengingatkan. Siapa yang berkuasa atas mereka ? siapa yang
mengutus mereka ? Bagaimana mungkin Aku langsung turun kepada mu ?
Sungguh engkau tak mampu menatapKu.

Dan
tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah
Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya,
berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau)
kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau." Tuhan berfirman:
"Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke
bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala)
niscaya kamu dapat melihat-Ku." Tatkala Tuhannya menampakkan
diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa
pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata:
"Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang
yang pertama-tama beriman."  
(
QS; Al-A’raf ; 143 )

Masih
tergambar jelas diingatan. Minggu 26 desember 2004. Tsunami menyapa
Aceh. Orang tua, pemuda, wanita, pria, suami, istri, anak-anak
Siapapun berusaha menyelamatkan diri. Berlari untuk mendahului
tentara Allah. Saya menemukan sebauh ektasi dan sensasi mendalam.
Merasakan kedekatan dengan Allah. Lebih dekat dari urat nadi.

Dan
apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka
(jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan
orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka
itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman
kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
(
QS; Al-Baqarah ; 186 )

Memang,
perjumpaan dengan Allah. Kata-kata dan logika tidak sampai
menjangkaunya. Ibarat menyampaikan manisnya pisang, kepada orang yang
belum pernah merasanya. Manis seperti susu. Lembek seperti mentega.
Pisang bukanlah susu. Dan tidak juga mentega. Hanya dengan
mengunyahlah, terasa manisnya. Karena melalui ujian tuhan menjadi
nyata.

Pasca
tsunami, Banyak sekali Allah menampakkan wujudNya. Fikiran tidak
sanggup menyentuh. Dinamakanlah dengan keajaiban. Foto antariksa
melukiskan. Di Srilangka, Air (Tsunami) berlafaz Allah. Mesjid-mesjid
berdiri dengan kokoh. Salah satunya, Mesjid Ulee-Lhee. Tepat
dibelakangnya laut lepas. Sampai kini, tetap menyangga bumi dengan
gagah. Bayi yang selamat, terdampar atas pohon. Konflik GAM dan TNI
meredam. Sungguh sangat banyak, Al-Malik menunjukan ;Melalui
Ujian Allah menjadi nyata.

Dikalangan
Muthmainnah ( jiwa-jiwa yang tenang ). Ujian adalah penambah
keimanan. Bukti nyata, Cinta dan Kasih sayang Ar-Rahman dan Ar-Rahim.

Apakah
kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang
kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum
kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta
digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul
dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya
pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu
amat dekat.
(
QS; Al-Baqarah ; 214 )

Melalui
ujian tersadarkan, bahwa ; Diri kecil, Allah Maha Besar. Hamba lemah,
Dia Maha Kuat.. Manusia tak terperdaya, Allah Maha Kuasa. Dan bukankahMelalui 
ujian tuhan menjadi nyata ? wallahu’alam.

 RAHMADSYAH
Certified Master NLP Practitioner I 081511448147 I Motivator & Trauma Therapist
www.rahmadsyah.co.cc


      Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/

Kirim email ke