SEBARAN KREDIT PERBANKAN & PEMBIAYAAN SYARIAH 

Selama tahun 2007, ekonomi global berada dalam gejolak yang dipicu oleh 
berlebihnya likuidiats dunia yang mendorong peningkatan arus modal jangka 
pendek, kemungkinan contagion effect dari krisis subprime mortgage, serta 
domino effect dan kecenderungan kenaikan harga minyak. Akibat kondisi tersebut, 
sebagian pihak khawatir, bahwa target pertumbuhan ekonomi Indonesia akan sulit 
dicapai. Namun, hingga akhir triwulan III-2007, kekhawatiran tersebut belum 
mempengaruhi target pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Berdasarkan pengumuman yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada 
tanggal 15 November 2007 yang lalu, pertumbuhan PDB triwulan III-2007 mencapai 
6,5% (y.o.y) atau meningkat sebesar 3,9% terhadap triwulan sebelumnya. Apabila 
pertumbuhan ini dapat dipertahankan hingga akhir tahun, maka target pertumbuhan 
sebesar 6,3% (y.o.y) pada tahun 2007, dapat dicapai. Sumber pertumbuhan 
terbesar pada triwulan III-2007 disumbang oleh sektor pertanian (1,3%), 
industri pengolahan (1,2%), serta perdagangan, hotel dan restoran (1,2%). 
Sektor industri pengolahan, masih merupakan penyumbang terbesar PDB tahun 2007. 
Sektor pertanian berhasil melewati sektor perdagangan, hotel dan restoran 
sebagai penyumbang kedua terbesar PDB Indonesia. Pertumbuhan yang besar pada 
sektor pertanian, terutama, ditunjang oleh pertumbuhan yang cukup tinggi pada 
sub sektor perkebunan (33,7%).

Pertumbuhan ekonomi akan optimal apabila stabilitas sistem keuangan dapat 
terpelihara dengan prospek yang baik. Di Indonesia, perbankan masih mendominasi 
sektor keuangan. Hal ini menimbulkan tingginya ketergantungan kepada perbankan 
sebagai sumber pembiayaan pembangunan dan perekonomian. Dengan demikian, 
apabila perbankan tidak dapat menyalurkan pendanaan kepada sektor riil, maka 
pengaruh kelambatan pertumbuhan ekonomi menjadi terasa.

Kondisi ekonomi global yang tidak menguntungkan tersebut, ternyata, tidak 
menghambat penyaluran kredit perbankan Indonesia. Bahkan, pertumbuhan kredit 
yang diberikan sampai dengan triwulan III-2007 telah mencapai 15,35% 
dibandingkan akhir tahun 2006. Pertumbuhan kredit tersebut sudah melebihi 
pertumbuhan kredit perbankan selama tahun 2006.

Sektor ekonomi yang mengalami pertumbuhan kredit paling besar adalah sektor 
konstruksi (32,60%) diikuti oleh sektor keuangan dan jasa dunia usaha (25,26%). 
Sektor ekonomi lain yang mengalami pertumbuhan kredit cukup tinggi adalah 
sektor pertambangan (23,10%). Akan tetapi, pertumbuhan sektor pertambangan 
tidak stabil pada tiap triwulan. Pada triwulan II-2007, pertumbuhan sektor ini 
mencapai 44,80%, namun pada triwulan III pertumbuhan tinggal 23,10%. Hal ini 
terjadi, karena sebagian besar kredit yang diberikan untuk sektor ini merupakan 
kredit modal kerja berjangka sangat pendek. Di samping itu, sektor perdagangan, 
hotel dan restoran juga mengalami kenaikan cukup tinggi (21,09%). Peningkatan 
kredit perbankan di sektor ini, dipicu oleh peningkatan pengeluaran konsumsi 
rumahtangga pada PDB Indonesia yang mencapai 5,3% (y.oy) pada triwulan III-2007 
dengan nominal sebesar Rp 644,5 trilyun.

Sektor ekonomi lain-lain (yang merupakan pembiayaan konsumsi) mempunyai pangsa 
paling besar dalam kredit yang diberikan oleh perbankan nasional (29,23%). 
Pertumbuhan kredit yang diberikan kepada sektor ini masih tetap tinggi 
(17,31%), meskipun tidak sebesar tahun 2005 dan sebelumnya yang mencapai di 
atas 30% per tahun. Pada sektor produktif terjadi pergeseran pada sektor 
ekonomi yang memiliki pangsa paling besar dalam kredit yang diberikan. Jika 
sebelum tahun 2007 yang paling banyak mendapatkan kredit adalah sektor industri 
pengolahan, maka per triwulan III-2007 sektor perdagangan, hotel dan restoran 
menjadi sektor produktif yang paling banyak mendapatkan kredit perbankan.

Sektor keuangan dan jasa dunia usaha mengalami peningkatan outstanding kredit 
yang cukup tinggi pada triwulan III-2007 (Rp 98.269 milyar) dibanding tahun 
2006 yang masih sebesar Rp 78.455 milyar. Kredit sektor ini, merupakan kredit 
yang ditujukan kepada lembaga-lembaga pembiayaan yang sebagian besar diteruskan 
menjadi pembiayaan konsumer di berbagai sub sektor.

Sektor pertanian, meskipun masih mempunyai pangsa yang kecil terhadap total 
kredit yang diberikan oleh perbankan, secara perlahan meningkat pangsanya dari 
tahun ke tahun. Sektor pertanian secara tidak diduga oleh banyak pihak, dapat 
menjadi penyumbang petumbuhan PDB Indonesia terbesar pada triwulan III-2007.

Berdasarkan jenis penggunaan, outstanding kredit yang diberikan perbankan 
nasional, merupakan kredit modal kerja. Akan tetapi pertumbuhan paling tinggi 
terjadi pada kredit yang digunakan untuk konsumsi yang mencapai 17,38% dalam 
tiga triwulan dibandingkan dengan akhir tahun 2006. Kredit yang diberikan untuk 
investasi hanya Rp 172,462 milyar (18,87%) dari Rp 913.960 milyar total 
outstanding kredit perbankan nasional.

Perbankan syariah sebagai bagian perbankan nasional turut berkontribusi dalam 
sektor keuangan untuk membiayai sektor-sektor ekonomi dalam PDB Indonesia. 
Pangsa pembiayaan syariah per triwulan III-2007 masih 2,80% dari total kredit 
yang diberikan oleh perbankan nasional. Pertumbuhan pembiayaan syariah selama 
triwulan III-2007 masih jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan kredit yang 
diberikan perbankan nasional, yakni 25,16% dibandingkan akhir tahun 2006.

Pangsa pembiayaan syariah terbesar diberikan pada sektor jasa dunia usaha 
(30,25%), diikuti oleh sektor lain-lain/konsumsi (22,94%) dan sektor 
perdagangan (15,62%). Dari komposisi tersebut, dapat dilihat bahwa lebih dari 
separuh pembiayaan syariah terdistribusi untuk penggunaan konsumsi. Hal ini 
menunjukkan komposisi pembiayaan yang berkaitan dengan konsumsi pada perbankan 
syariah jauh lebih besar dari komposisi yang ada pada perbankan umum nasional.

Sektor-sektor ekonomi produktif, seperti sektor pertanian, sektor pertambangan, 
sektor industri pengolahan, dan sektor konstruksi mengalami penurunan pangsa 
dari tahun ke tahun pada komposisi pembiayaan yang diberikan oleh perbankan 
Syariah..

Sektor pertanian, yang saat ini dapat menjadi penyumbang pertumbuhan PDB 
terbesar, bukan hanya mengalami penurunan pangsa pada pembiayaan syariah, 
tetapi juga mengalami penurunan outstanding dari tahun ke tahun dibandingkan 
pada tahun 2004. Sektor pertanian hanya memiliki pangsa 2,54% dari total 
pembiayaan yang diberikan perbankan syariah pada triwulan III-2007. Padahal 
pada tahun 2004, sektor pertanian, sempat mendapatkan 7,59% dari pangsa 
pembiayaan Syariah.

Sektor produktif, di luar pertanian, meskipun mengalami peningkatan outstanding 
pembiayaan syariah, namun mengalami penurunan pangsa dibandingkan total 
pembiayaan yang diberikan. Sektor industri yang menjadi penyumbang PDB hanya 
mendapat pangsa 4,68% dari total pembiayaan syariah. Sektor ini mengalami 
penurunan pangsa secara bertahap sejak tahun 2004. Sedangkan sektor produktif 
lainnya hanya memperoleh pangsa masing-masing 1,92% untuk sektor pertambangan, 
8,91% untuk sektor konstruksi, serta 6,12% untuk sektor transportasi dan 
komunikasi.

Dari data di atas, dapat dilihat bahwa pembiayaan syariah di Indonesia saat ini 
belum terpola. Jika pada tahun 2004 dan sebelumnya, komposisi pembiayaan yang 
berkaitan dengan konsumsi dengan sektor produktif masih berimbang, maka saat 
ini justru komposisi pembiayaan yang berkaitan dengan konsumsi semakin jauh 
meninggalkan sektor produktif.

Dengan demikian, jika merujuk kepada tujuan semula didirikannya perbankan 
syariah, seharusnya perbankan syariah tidak mengucurkan pembiayaan dengan porsi 
besar kepada pembiayaan konsumsi. Perbankan syariah perlu mengingat kembali, 
bahwa tujuan semula didirikannya perbankan syariah adalah untuk mendorong 
pertumbuhan sektor produktif di segmen mikro, kecil, dan menengah. Namun 
apadaya, masih banyak hal yang belum bisa dilakukan oleh pelaku bank syariah 
untuk mencapai sebuah idealisme akibat berbagai faktor dan kepentingan yang 
melatarbelakanginya.


Penulis: MERZA GAMAL (Pengkaji Sosial Ekonomi Islami) 


      

Kirim email ke