"Neither globalism nor isolationism, neither
multilateralism nor unilateralism will best serve American interests. Its
interest will be most effectively advanced if AS eschews those extremes and
instead adopts an Atlanticist policy of close cooperation with its European
partners, one that will protect and promote the interests, values, and culture
of the precious and unique civilization they share."

( Samuel Huntington ) 

  

Film Supersize Me yang berhasil mendapatkan penghargaan di
festival Film Sundance 2004 dan juga berhasil menggondol penghargaan kategori
sutradara terbaik  di Festival Edinburg
2004 setidaknya telah membuka kembali lembaran file ingatan kita akan satu 
dekade
yang sarat dengan gelembung fenomena panjang dan membayar dengan mahal
hari-hari panjang dalam decade itu dengan sejumlah eksploitasi negara-negara
berkembang dan para sosiolog serta ekonom dunia hampir telah sepakat belakangan
ini sebagai sebuah grand design peradaban penduduk dunia pada satu wajah, satu
bendera,satu brand,dan satu kekuatan tunggal. 

 

Baik itu berasal dari para sosiolog maupun ekonom dunia. Hal ini sebagai
angin yang positif maupun pesimis dalam penyikapannya hampir menjadi
kesepakatan akan sederet konsekuensi dan implikasi yang mengarah pada analisa
awal sosiolog dan ekonom dalam mengidentifikasikan gejala ini dan kelak kita
lebih akrab memangggilnya dalam kamus peradaban kita sebagai Globalisasi. 

 

Standar ganda ?

 

Dipercayai oleh para pemeluknya yang memiliki andil besar dalam
penandatanganan GATT (Generate Agreement on Tariff and Trade ) yang dimulai di
Uruguai dan berkahir dengan penandatangan di Maroko ini bahwa globalisasi dapat
menggenjot pertumbuhan ekonomi dunia hingga mengentaskan kemiskinnan dan
mengentaskan pengangguran serta memberikan fasilitas kenyamanan berupa
kemudahan mengakses kesehatan dan kemajuan teknologi untuk mempercepat proses
perdagangan antar negara yang tak dapat dicapai dalam skala biasa oleh
negara-negara berkembang atawa bahasa realistisnya “Negara-negara Dunia Ketiga
yang Terbelakang”. 

 

Maka, Redho gak redho Globalisasi sudah nyata dan bukan lagi pada
tahap isu apalagi wacana seperti tesis yang diajukan oleh kalangan
tradisionalis dalam kajian sosiologi kontemporer dan kenyataanya still show
must go on serta memaksa para intelektual ekonomi hingga para menteri
keuangan di negara-negara miskin, menurut Joseph Stiglitz, untuk “berpindah
agama” jika perlu mendapatkan bantuan dan dana segar dari Bank Dunia dan IMF
yang dipercaya memiliki resep ampuh untuk mencegah depresiasi dan
berulang-ulangnya krisis keuangan dunia. 

 

Yeah  as we know kenyataanya
dalam pangsa liberalisasi perdagangan  setelah ditandatanginya GATT di Marakesh,
tersebut akhirnya menjelma bumerang, Kebijakan politik dumping di luar negeri
dalam perdagangan ekspor – Impor semakin dibatasi dengan sejumlah kuota dan
persyaratan yang rumit dari negara-negara maju bagi negara-negara pengekspor
mereka dari negara-negara berkembang seperti halnya yang menimpa Indonesia dan
sejumlah negara-negara Amerika latin dan Asia tenggara. 

 

Di sisi lain, Indonesia menjadi ladang subur politik dumping
negara-negara pengimpor seperti Australia, Jepang, dan Uni Eropa serta
diberlakukannya batasan terhadap kebijakan Proteksionisme yang menjadi
konsekuensi dari penandatangan GATT tersebut setidaknya telah membuat industri
dalam negeri seperti otomotif semakin tersisih dari persaingan dan yang paling
parah tak diminati oleh orang Indonesia itu sendiri. Although, Pemerintah
sudah begitu rajin untuk menggalakan himbauan mencintai produk dalam negeri
sendiri tapi masyarakat jelas lebih cerdas memilih pasar  yang tidak 
professional dan tidak memiliki advantage
yang kompetitif siap-siap harus angkat kaki digantikan oleh produk-produk impor
yang lebih kompetitif dan memberikan banyak kemudahan. Atau dalam sektor lain,
bagaimana produk udang Indonesia mengalami penolakan di Uni Eropa hanya dengan
alasan produk tersebut sudah mengandung zat antibiotika.

 

Di kawasan Amerika Latin pun mengalami hal yang sama, Sejumlah penolakan
atas ekspor ikan tuna dari negara-negara di regional tersebut oleh
negara-negara sasaran ekspor.Korea dan Jepang yang begitu bersemangat mengimpor
produknya ke negara-negara berkembang menjelma hipokrit ketika menyatakan baru
bisa membuka pasar ekspor berasnya pada 2010.Amerika Serikat yang juga akhirnya
tak jauh berbeda dengan negara-negara Industri Kapitalisnya  mengenakan standar 
ganda dalam perdagangan
pasar bebas. Seperti mensyaratkan verifikasi dari US Government dengan Turtle
Excluider Devise (TED) dengan alasan melindungi populasi penyu. 

 

Global Village ? 

Di bidang yang lain seperti yang ditayangkan dalam film Supersize Me
dengan sutradara Morgan Sporluck,  setidaknya telah membuka mata kita dengan
fenomena yang menurut para sosiolog 
sudah ada grand designnya tersendiri yang dirancang demi kemudahan akses
dan ekspansi lebih luas oleh Barat ke negara-negara dunia ketiga. 

 

Dalam Film Dokumenter yang langsung diperankan oleh oleh Morgan Sporluck
itu diperlihatkan bagaimana sang sutradara melakukan penelitian seberapa jauh
dahsyatnya kerusakan yang ditimbulkan oleh Junk Food seperti Mc Donald dengan
memakan berbagai variasi produk McD selama 30 hari lamanya dan baru terasa 
“something
wrong” ketika menginjak hari ke-8 mulai adanya gejala addicted dan disusul
geala lainnya seperti naiknya berat badan dua kali lipat,penurunan
gairah,kenaikan kadar gula dan kolesterol,tekanan darah di atas normal dll. 
Namun
McD baru satu di antara produk globalisasi budaya lainnya yang telah menggiring
warga dunia untuk tunduk pada satu budaya.wajah,brand,warna, hingga sistem
politik dan kalau perlu agama.  

 

 Ada lagi sebuah film pendek yang
pernah saya saksikan jauh lebih kasar dan vulgar. Bagaimana globalisasi telah
menyulap negara-negara berkembang atau bahasa realistisnya “Negara-Negara Dunia
Ketiga” serta terbelakang sebagai surga bagi corporate-corporate
multinasional.Menghisap keringat sumber daya alam dan manusia Indonesia untuk
memaksimalkan laba  dan memotong
seringkas mungkin beban-beban dengan menekan biaya yang muncul dengan mencari
lokasi industry yang paling murah dan Indonesia lah surga nan menawan tersebut.


 

 

 

Tatanan Dunia Jilid II ? 

 

However, tesisnya Globalisasi sebagai dinamika perdatangan pasar
bebas dunia yang bila tak saja dipandang dari segi globalisasi ekonomi dalam
wujud liberalisasi perdagangan maupun sosiologi, menghadapi antitesa yang
muncul dari semangat mengembalikan pasar bebas yang lebih beradab dan
berkeadilan. Ketidakaadilan dan ketimpangan social budaya hadir meruyak tatanan
sistem penduduk dunia yang dulu dipercaya oleh penganutnya sebagai New World
Order telah membuat tesis kemakmuran dan kesejahteraan melalui globalisasi
telah terpatahkan. 

 

Dan memang fitrahnya, Keadilan sebagai ukuran berapa lama kehidupan suatu
bangsa dapat bertahan hidup dan kesejahtaraan yang dapat dapat lahir dari Yang
Menciptakan Dunia dan seisinya.Bijaknya dalam menyikapi globalisasi dunia dalam
realiatas yang kini kita harus hadapi baik sebagai pelaung mapun tantangan,
tingal memutar balik paradigm ilmu ekonomi dari wajahnya yang “sadis” hingga
wajahnya kembali menemukan fitrahnya yang telah  terputus.

 

 Fitrahnya bertauhid dan
mengembalikan paradigma scarcity pada cita rasa yang elegan atau dalam
bahasanya Pak Ali Sakti dalam acara Diklat Ekonomi Islam Di Universitas
Pancasila, How to maximizing what you have to contribute to others.Bukan
bagaimana memaksimalkan just what you have today seperti dalam
paradigmanya Kapitalisme dengan pelbagai wajah kembarnya. Karena hakikatnya
semua yang kita miliki hanyalah amanah untuk dikelola dan digali potensinya
untuk kemakmuran bumi dan seisinya , persis seperti pasal 33 Undang-undang
dasar negara kita,dan akan kembali pada Yang Maha Menciptakannya dari tiada dan
akan kembali dipertanggung jawabkan semua yang kita miliki. 

 

Secara substantif, seperti sebuah judul buku Ekonomi Islam yang
belakangan ini baru terbit Ekonomi Islam Substantif . Kebijakan-kebijakan
Pemerintah atau yang banyak disusulkan oleh para ekonom dalam hal Ekonomi
Global dan reaksi masyarakat dunia atas serbuan globalisasi menunjukkan pada
kita selama ini sejatinya semua mengerucut menuju sistem perekonomian dan wajah
budaya yang sesuai dengan fitrah individu manusia itu sendiri .Kalau dekade ini
para pemuja liberalisme dan para pemeluk serta pembela globalisasi semakin
bersemangat berteriak lantang atas nama kemakmuran dan kesejahteraan maka apa
namanya kalau bukan menafikkan fitrah ? 

 

Dan terlalu banyak naluri manusia yang dibelenggu dalam paradigma
rasionalitas hingga akhirnya dimunculkan kembali mulai dari merumuskan ulang
konsep ekonomi kerakyatan meski lebih banyak berkesan politis hingga penurunan
suku bunga bank Indonesia dan dan seluruh bank sentral dunia besar-besaran
seolah-olah telah melabrak pakem konvensional yang selama ini dianut.

 

 Kalau semua telah mulai mengerucut
pada kebijakan yang substantifnya bersentuhan dengan fitrah manusia maka
Ekonomi Syariah bukan bermakna merombak total dari awal namun upaya pencerdasan
manusia-manusia baru Indonesia agar membedakan mana yang layak dimodifikasi
semula  dan mana yang lebih pantas dibuang
ke tong sampah sejarah. Tatanan dunia jilid dua bukan berarti politik isolasi
di kutub pertengahan kita berdiri menuju Negeri Indonesia barakah yang bukan
utopia tinggal selangkah dan Tatanan dunia pun lebih manis dan sejahtera 
!(Yassin El Cordova) 

 

 http://telagaalkautsar.multiply.com/



 

 




      Firefox 3: Lebih Cepat, Lebih Aman, Dapat Disesuaikan dan 
Gratis.http://downloads.yahoo.com/id/firefox

Kirim email ke