Dari: arief dani <[email protected]>
Topik: [daarut-tauhiid] Ya RasulAllah, Very Beautiful Poem
Kepada: [email protected]
Tanggal: Jumat, 27 Maret, 2009, 5:46 AM


Ya Rasulullah Sallallahu Alayhi wasalam



Kami mohon ampunan melalui lidah yang penuh dosa

Kepada Allah azza wa jalla



Ya Rasullullah

Hidupmu adalah ampunan bagi dunia yang mengalir kedalam hati



Di usia satu tahun, engkau bersama Bani Sa’ad

Semua pengasuh menolak merawatmu

Karena itu langit murka, hingga berhenti menurunkan hujan

Daratan Bani Sa’ad kekeringan

Segumpal awan kecil terpana olemu, selalu mengikutimu

Orang berkumpul memohon hujan

Sayida Halima memelukmu erat, melindungimu dari sinar matahari yang menyayat

Segumpalan awan kecil di langit terpana olemu, senantiasa mengikutimu

Sang pendeta memelukmu sambil berdoa, memandang matamu yang indah

Dan lupa akan haus, hujan dan doa-doanya, tapi tidak lupa akan kedua pasang 
mata yang membuat awan terpana

Oh, rela kami melepas jiwa demi sekelibat pandangan mata indah itu

Awan tersihir oleh pandangmu dan menggumpal hingga menitikkan hujan

Banyak yang tak tahu mengapa hujan turun, mereka tak tahu siapa dirimu



Di usia enam tahun, 

Dalam perjalanan ke Al Madina Al Munawara, bersama ibumu dan Umi Aiman

Engkau merasakan diri seorang yatim disamping makam ayahmu

Di Abwa’a kau kehilangan ibumu dan memasuki Mekah sebagai yatim piatu

Abdul Mutalib semakin mencintaimu, Abu Talib semakin mencintaimu



Ya Rasulullah,

Apakah anak-anak Mekah menanyakan ibumu? 

Apakah kau menunduk setiap kali mereka menangis sambil memanggil, “ibu”?

Berapa kalikah angin Mekah membawa titik air matamu ke Abwa’a?

Berapa malamkah kau menangis dan memanggil, “ibu, ibu”?



Oh yang tercinta,

Untukmu kami menyebut bunda kami, “ibu”, 

untukmu kami menyebut ayah kami, “bapak”.



Di usia 25 

Engkau berbeda dari orang kebanyakan 

Bahkan tidak seorang pun mendekati sifatmu

Aura surgamu penuh ampunan, suaramu membawa kedamaian

Engkau adalah Muhammad yang terpercaya

Di usia 30, lautan ampunan terus mengalir 

Di usia 35 ,  datang.. datanglah yang tercinta, 

Jangan lagi menunda



Desahan mendalam mengetuk pintu-pintu langit

Datanglah yang tercinta, tak ada lagi penundaan

Engkau diundang ke puncak gunung Nur 



Di usia 40, Engkau berada di Gua Hira Gunung Nur

Malaikat Jibril turun dari surga

Setiap jengkal keberadaannya membawa damai dan doa

Hati para makhluk merindukanmu

Engkau bagi kami adalah cahaya senja, cahaya senja di antara gelapnya malam



Engkau adalah Nabiyullah, 

engkau adalah Habibullah Allah, 

engkau adalah Rasul Allah 



Mengapa mereka bersedih atasmu oh yang teragung?

Mengapa mereka menyerangmu?

Apa karena wafatnya Abu Thalib?

Apa karena tak seorang pun melindungimu?

Seperti saat engkau menitikkan air matamu di Ka’bah, 

Seperti saat engkau mengatakan, 

“aku merasa sepi setelah kepergianmu, wahai pamanku”



Kami ingat doamu di Masjidil Haram

Saat mereka menaruh kotoran di kepalamu

Biarkanlah kami memberikan kepala kami untuk melindungimu Ya Rasulullah

Lihat bagaimana mereka yang tidak beruntung melecehkan dan menertawaimu



Lihat! Siapakah gadis kecil yang berlari menuju ke arahmu di jalan-jalan kota 
Mekah?

Siapakah gadis kecil yang berlari seperti tahta turun dari surga?

“Siapa itu yang lari?”, Tanya mereka. 



Seseorang menjawab…dia  Fatimah, anak perempuan Muhammad. 

Ibu dari kebenaran. Anak perempuanmu yang tercinta mengusap wajah dan
air matamu dengan telapak tangannya. Ia sangat mirip sekali denganmu Ya
Rasulullah. 

Ia hampir menjadi dirimu ketika wajahnya gembira dan tertawa atau ketika dia 
menangis.



Seperti kami dapat melihatmu dan mendengar engkau berkata, “Jangan menangis 
anakku”.

Mengapa mereka mengusirmu ke luar kota wahai ayahku?

Apakah karena engkau seorang diri?

Tidakkah mereka sadar akan pelindungmu?

Yang menjadikanmu yatim dan merawatmu?

Yang mengirimmu sebagai ampunan bagi dunia?



Mereka berkata, “Engkau gila! Engkau gila!”, tapi engkau tak membalas

Mereka berkata,” Engkau gila, kau adalah seorang pendongeng! 

Tetapi Kau tetap tidak membalas

Mereka berkata “siapa yang akan melindungi dan menyelamatkan kau dari kami?”

Kemudian engkau menjawab “Allah”… “Allah yang Terpuji”



Surgapun terselubung oleh kekaguman

Dan tahta yang tinggi bergetar menahan keharuan

Ketika engkau berkata “Ya Allah” di Badar

Dan Allah mengirimkanmu 3000 malaikat berkuda

124.000 sahabat bersamamu

Mereka semua berkata “kami lupa orangtua demi kau, Ya Rasulullah



Ya Rasulullah….,

Kau menapak jalan-jalan Madinah

Gadis-gadis kecil Bani Najjar melihatmu

Mereka begitu bahagia hingga tak tahu apa yang harus dilakukan



Kemudian Kau bertanya “apakah kalian mencintaiku?”

Ya kami mencintaimu Ya kekasih Allah, Ya Habibullah ..jawab mereka

Kau berkata “Allah tahu kalau aku juga mencintai  kalian”

Begitu banyak orang muda saat ini, bukan dari kaum Bani Najjar  

Tetapi mereka juga mencintaimu



Air mata mereka menjadi saksi kecintaan mereka kepadamu 

yang melebihi kecintaan mereka  pada diri mereka sendiri

Tiada orang lain bagi mereka, selain dirimu

Allah tahu kalau kau juga mencintai mereka



Di usia 60

Kau berdoa dan berkata “Wahai Sahabat Tertinggi”

Kau memakai jubah wol baru dengan baju putih

Dengan pakian indah itu kau berkunjung ke para sahabat

Dan kau mengibaskan telapak tanganmu ke lutut dan berkata “lihat betapa 
indahnya”



Salah satu sahabatmu berkata “berikan pada hamba Ya Rasulullah”

Mengapa memintanya padahal ia tahu kau menyukainya?

Dan sahabat tahu bahwa kau tidak akan pernah berkata tidak ketika seseorang 
meminta?

Kau memberikannya dan kembali memakai jubah bertambalmu yang lama



Pertemuan dengan Yang Tercinta masih seminggu

Mereka membuatkan jubah yang sama beberapa kali

Engkau tak berkenan dengan semuanya

Kau mengirim kabar kepada sahabatmu Abu Huraira… 

Bahwa beberapa orang akan datang mencariku dan berkata…

Kami ingin bertemu nabi meski itu meninggalkan anak dan harta kami

Kau bicara dengan sahabatmu, Anas, tentang kerinduanmu pada saudara-saudaramu

Kau berkata “aku rindu saudara-saudaraku, merekalah yang percaya padaku meski 
tidak bersamaku’



Wahai yang tercinta, sambil bersedih diatas podium di Madinah, 

Kau berkata “umati, umati”

Kaulah yang berdoa bagi semua umat dari mesjid Mekah

Dengan barakah Allah, kami menyembah dan bersaksi bahwa kaulah nabi terakhir

Kami percaya semua yang kau sampaikan berasal dari Allah

Kami mendengar dan patuh



Ya Rasulullah

Engkau masih berusia 40 tahun

Dan kau masih memimpin umatmu!


 ========================================== 
Aku Ingin Menjadi Peluru
Berjuang Menembus Ruang dan Waktu




      ____________________________________________________________________
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://id.yahoo.com/

Kirim email ke