Hari
ini dalam satu sesi dari program Social Entrepreneur Leader (SEL) yang digagas
oleh Dompet Dhuafa Republika, kami para peserta ditantang untuk menghasilkan
uang tanpa modal. Waktunya dibatasi dari pukul 09.00 – 11.00 WIB. Ruang
pelatihan sejenak menjadi riuh oleh peserta yang kebingungan. Bisa ngga ya? 
Gimana caranya? kata-kata itu yang
memenuhi pikiran semua peserta SEL. Akhirnya kami sepakat untuk jadi pedagang
asongan, lebih tepatnya jualan air mineral yang dikemas dalam botol plastik
berukuran 600 ml. 

 

Semua
peserta berhamburan keluar ruangan, menyerbu sebuah toko kelontong yang menjual
air mineral. “Eh…ada apa ini
ramai-ramai?”, Tanya si pemilik toko dengan nada panik. Setelah mendapatkan
cukup penjelasan, akhirnya si pemilik toko mengizinkan kami menjajakan air
mineral yang ada di tokonya dengan sistem konsinyasi.

 

Aku dan salah satu peserta bernama Marta
sepakat membawa 15 botol, padahal kami sepakat tiap orang membawa 5 botol.
”Bawa 15 botol berani ngga Mar?”, tanyaku. ”Oke...oke....”, Marta tak kalah
semangat. Biar tambah menantang pikirku waktu itu. 

 

”Aqua...aqua..air..air....”, orasi ala
pedagang asongan pun dimulai. Kaki terus melangkah penuh percaya diri meski
kostum ngga nyambung dengan profesi. Dengan kemeja putih, celana panjang hitam,
sepatu abu-abu, plus sisiran rambut bergaya retro, aku terus melangkah menuju 
gedung
Aneka Tambang (ANTAM). Ditengah jalan, ada taksi berwarna putih lewat. Spontan
saja kulambaikan tangan kiri sambil memegang botol Aqua.
”Aqua...aqua..air..air....”. Taksi itu pun berhenti sambil sang sopir tersenyum
ramah. ”Silahkan naik Mas....”. ”Lho...ngga-ngga..saya ini mau nawarin Aqua”. 
Ha..ha...aku
sangat kaget dengan reaksi sang sopir. Dia kira aku mau naik taksinya.
”Oh...maaf Mas...saya kira mau naik taksi, habis rapi gitu sih”, tutur sang
sopir sambil mesem-mesem. ”Wakakakak...Arief....Arief...”, semua peserta SEL
yang ada dibelakangku kontan saja terbahak-bahak. Hmm....salah kostum memang
merepotkan. 

 

Tiba
didepan ANTAM nampak antrian kendaraan didepan gerbang tol Lenteng Agung.
Dengan nekat kuajak Marta berjualan depan gerbang tol. Dengan posisi 
masing-masing dikanan-kiri kendaraan
yang antri, kamipun mulai beraksi bak para pejuang dengan semangat 45. Hanya
dalam tempo 15 menit, 5 botol ludes terjual. ”Mar...laku...!”, teriakku girang.


 

Sebuah
mobil mewah berwarna hitam ikut mengantri di gerbang tol. Di dalamnya nampak 2
orang pria yang berpakaian necis plus kacamata hitam. Elegan sekali, sepertinya 
eksekutif muda. “Om…Aquanya
Om..”, tawarku sambil pasang senyum. “Berapaan nih?”. ”Dua ribu aja kok”,
jawabku. ”Kok tumben murah, promosi ya?”, tanya si pengemudi dengan penuh
curiga. ”Ngga kok, asli Om...Aqua”, kataku coba meyakinkan. ”Beli 2 deh...”. 
”Oke...thank
you Om....”, ucapku dengan nada sok gaul. ”You’re welcome...”.
Wah…gaya bener tukang Aqua ngobrol
pake bahasa Inggris segala. 

 

Tak
berapa lama kemudian tukang sapu jalan tol menghampiri kami. ”Mas, kalo jualan
jangan disini!”, dengan nada sedikit membentak. ”Emang ngga boleh ya Pak?,
tanyaku berlagak bodoh. “Kalo mau jualan disini izin dulu sama KaSie jalan
tol”, tukasnya. ”Gitu ya Pak, dimana orangnya?”, tanyaku memberanikan diri
(sambil berpikir KaSie jalan tol itu apaan ya?). “Kantornya ada di belakang
gerbang tol”. “Baik Pak”, kataku sambil bergegas menuju kantor tersebut”.
Setelah bertemu dengan orang yang dimaksud, kujelaskan bahwa sedang dalam
proses pelatihan SEL. Namun tetap
saja KaSie jalan tol tak mau tau alasanku. ”Wah..kalo ketahuan orang Pusat,
saya yang kena marah Mas”. Akhirnya terpaksa aku mengalah, dan pindah lokasi. 
Lagipula,
memang ngga boleh kan jualan di
depan gerbang tol. 

 

Sambil
berjalan penuh kebingungan, Aku dan Marta memutuskan pindah ke bawah jalan
layang yang letaknya tak jauh dari ANTAM. Kebetulan sekali disitu ada pintu 
perlintasan kereta api, yang pada saat
tertentu ditutup sehingga menimbulkan antrian kendaraan. Dipadu dengan adanya
lampu lalu lintas, sungguh perpaduan yang klop untuk menimbulkan antrian
panjang kendaraan. Dengan sigap kami beraksi menawarkan Aqua botol ditengah
antrian. Awalnya terasa sangat sulit. Semua orang memberikan kode lima jari
merapat yang diangkat, lalu diarahkan kepada kami. Seakan sepakat untuk menolak
membeli. Ditambah panas Jakarta yang tiada duanya, lengkaplah penderitaan hari
itu. Sambil terus berjualan, hati pun dag dig dug khawatir kalau-kalau ada
teman atau saudara yang melihat. Gimana reaksi mereka ya kira-kira? Wah...pasti
aku malu banget nih. Malah sebelumnya aku dimaki-maki petugas Satpol PP yang
kebetulan lewat, karena berjualan di tengah pembatas jalan. Untuk saja ngga
”digaruk”, dimaki-maki saja sudah bikin nyali ciut. 

 

Alhamdulillah, hanya dalam tempo kurang
dari 1 jam, ke-15 botol itu ludes terjual. Sungguh sebuah kenikmatan dan
kebanggaan yang tiada duanya. Ini baru jualan 1 jam, bagaimana jika dalam
sehari jualan 8 jam. Dari satu botol Aqua, keuntungan yang didapat Rp. 750. Jika
dalam satu jam menjual 15 botol, maka Rp. 750 x 15 botol = Rp. 11.250. 
Dikalikan 8 jam, maka dalam sehari bisa
mengantongi uang sejumlah Rp. 90.000. Dengan asumsi berjualan selama 20 hari
dalam 1 bulan, maka Rp. 90.000 x 20 hari = Rp. 1.800.000. Wah...bisa kaya
mendadak nih pikirku. 

 

Nah, sejak saat itu tekad untuk menjadi
seorang entrepreneur makin membaja dalam hatiku. Ini hanyalah sebuah episode
pendek dari perjalanan meretas cita-cita mulia. Paling tidak, aku ngga bikin
susah orangtua. Sukur-sukur bisa bantu Pemerintah mengurangi kemiskinan. 

 

So,
sobat sekalian. What are you waiting for? Go Action! 

 

Arief
Wahyuadi, S.E.I.

Blog                 :www.akumandiri.multiply.com 

FB
& YM        : [email protected]

Mobile             : 08567851558 / 94712887

 

 

 

 

 




      

Kirim email ke