aslmm,,wah subhanallah,,,makasih ya ukhti, tausyiahnya bagus..semoga kita semua 
bisa menjadi gula pasir yang tidak keliru..

--- On Sun, 4/5/09, Bunayah Safitri <[email protected]> wrote:

From: Bunayah Safitri <[email protected]>
Subject: {FoSSEI} Tausyiah euy...
To: [email protected], "ksei unj" <[email protected]>
Date: Sunday, April 5, 2009, 8:17 PM











    
            



Andai aku seperti sirup

 
Tak ada yang lebih gusar melebihi makhluk Allah yang bernama gula pasir. 
Pemanis alami dari olahan tumbuhan tebu ini membandingkan dirinya dengan 
makhluk sejenisnya yang bernama sirup.

Masalahnya sederhana. Gula pasir merasa kalau selama ini dirinya tidak dihargai 
manusia. Dimanfaatkan, tapi dilupakan begitu saja. Walau ia sudah mengorbankan 
diri untuk memaniskan teh panas, tapi manusia tidak menyebut-nyebut dirinya 
dalam campuran teh dan gula itu. Manusia cuma menyebut, "Ini teh manis." Bukan 
teh gula. Apalagi teh gula pasir.

Begitu pun ketika gula pasir dicampur dengan kopi panas. Tak ada yang 
mengatakan campuran itu dengan ?kopi gula pasir?. Melainkan, kopi manis. Hal 
yang sama ia alami ketika dirinya dicampur berbagai adonan kue dan roti. 
Gula pasir merasa kalau dirinya cuma dibutuhkan, tapi kemudian dilupakan. Ia 
cuma disebut manakala manusia butuh. Setelah itu, tak ada penghargaan sedikit 
pun. Tak ada yang menghargai
 pengorbanannya, kesetiaannya, dan perannya yang begitu besar sehingga sesuatu 
menjadi manis. Berbeda sekali dengan sirup.

Dari segi eksistensi, sirup tidak hilang ketika bercampur. Warnanya masih 
terlihat. Manusia pun mengatakan, "Ini es sirup." Bukan es manis. Bahkan tidak 
jarang sebutan diikuti dengan jatidiri yang lebih lengkap, "Es sirup mangga, es 
sirup lemon, kokopandan," dan seterusnya.
Gula pasir pun akhirnya bilang ke sirup, "Andai aku seperti kamu."

Sosok gula pasir dan sirup merupakan pelajaran tersendiri buat mereka yang giat 
berbuat banyak untuk umat. Sadar atau tidak, kadang ada keinginan untuk diakui, 
dihargai, bahkan disebut-sebut namanya sebagai yang paling berjasa. Persis 
seperti yang disuarakan gula pasir. Kalau saja gula pasir paham bahwa sebuah 
kebaikan kian bermutu ketika tetap tersembunyi. Kalau saja gula pasir sadar 
bahwa setinggi apa pun sirup dihargai, toh asalnya juga dari gula pasir.
Kalau saja gula pasir
 mengerti bahwa sirup terbaik justru yang berasal dari gula pasir asli. Kalau 
saja para penggiat kebaikan memahami kekeliruan gula pasir, tidak akan ada 
ungkapan, "Andai aku seperti sirup!" 

?wallahu?alam?





      
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke