*Membangun Komitmen Dakwah *

*Ekonomi Islam*

*(Spesial untuk Mujahid Ekonomi Islam di IsEF SEBI)*



*Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu
sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan
persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang
selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa
saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup
kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).*

(Al Anfaal: 60)

* *



Pengangguran, penimbunan barang, jeratan-jeratan hutang, krisis dunia yang
terus berulang-ulang, merupakan sebagian kecil dari bencana-bencana ekonomi
dunia yang ditimbulkan oleh ekonomi kapitalis. Terjadinya kemiskinan yang
semakin meluas di negara dunia ketiga dan ekploitasi ekonomi dari sekelompok
negara maju terhadap negara-negara berkembang telah menciptakan penjajahan
gaya baru. Kekacauan terjadi, tidak hanya dalam bentuk ekonomi, tetapi telah
meluas menyentuh pada wilayah hukum, sosial budaya, bahkan kancah
pertarungan politik. Kriminalitas dan konflik-konflik sosial menjadi
peristiwa keseharian yang menunjukkan ketimpangan sosio-ekonomi, sehingga
yang terlihat adalah instabilitas, dimana kemajuan tidak bermakna
kesejahteraan. Beberapa pakar ekonomi pun memprediksikan sebuah krisis yang
maha dahsyat yang akan terjadi.



Keyakinan kita sebagai Mujahid Ekonomi Islam, akan kerapuhan dan bobroknya
sitem ekonomi kapitalis menjadi sebuah keniscayaan bangkitnya sistem ekonomi
Islam. Keyakinan kita, –cepat atau lambat– segera runtuhnya ekonomi
kapitalis, memacu semangat kita untuk terus menerus mempelajari ilmu ekonomi
yang pernah mensejahterakan manusia dengan instrument zakatnya. Tapi yang
jadi pertanyaan, sejauh manakah komitmen kita terhadap bagian dari solusi
itu? Apakah hanya karena 'aji mumpung' perkembangan yang cukup pesat dari
ekonomi Islam? Apakah hanya karena 'pragmatisme bin opportunis' dari kondisi
perekonomian yang 'mendukung'? Mengingat kuliah di jaman sekarang ini
membutuhkan biaya yang sangat besar. Sehingga selepas keluar dari perguruan
tinggi, yang ada dalam benak kita adalah ingin secepatnya mendapat hasil
atau gaji besar, agar uang kuliah cepat kembali.



Dari ayat yang tercantum di atas, bahwa *"Dan persiapkanlah untuk menghadapi
mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…"* ALLAH memberikan 'instruksi'
kepada kita untuk melakukan totalitas (*tajarrud*) dalam memerangi
kebatilan. Totalitas bukan dalam perngertian salah kaprah bahwa kita harus
meninggalkan semuanya untuk dakwah (*amar ma'ruf nahi munkar*), namun
totalitas dalam arti sebenar-benarnya totalitas yaitu kita gunakan semua
yang kita miliki demi kejayaan dakwah. Harta benda, pekerjaan, waktu,
tenaga, dll yang kita miliki bukan penghalang dakwah tapi justru bisa
menjadi pendukung dakwah, apapun dan bagaimanapun kondisi kita.



Sebagai Mujahid Ekonomi Islam yang memiliki slogan 'Komunitas Intelektual
Muslim Basis Ekonom Muda' mencirikan bahwa pergerakan IsEF adalah pergerakan
dengan semangat yang membara, idealis dan kritis. Kata "Ekonom Muda"
mencirikan bahwa pemuda memiliki masa depan yang fokus pada bidang ekonomi
yang dapat ’*survive'* bahkan *'leading*'. Titik sentral yang bersumber pada
penyiapan SDM yang tangguh, berwawasan global tapi tetap idealis dan kritis.




Dengan slogan seperti itu, seharusnya sudah ada output-output yang
dihasilkan dalam perkembangan ekonomi Islam. Tidak hanya sekedar pemenuhan
SDM yang terjun langsung ke industri, tidak hanya juga menjadi ahli/dosen di
perguruan tinggi. Meskipun baik namun lebih dari itu, bahwa kerusakan yang
telah merajalela akibat sistem yang tidak mendukung dapat digantikan dengan
sistem yang penuh dengan nilai-nilai ilahiyah.



IsEF dengan slogannya yang jelas dan menyeluruh sudah seharusnya
mempersiapkan kader-kadernya, tidak hanya faham terhadap ekonomi Islam, tapi
lebih dari itu yaitu menumbuhkan komitmen agar kader-kadernya mampu
melakukan dakwah ekonomi Islam. Dengan segenap "…*kekuatan apa saja** yang
kamu sanggupi…"* mampu berperan, tidak hanya dalam tuntutan dakwah ekonomi
Islam yang *'survive'* tetapi juga harus '*leading*'. *Leading*, tidak hanya
dalam perlombaan-perlombaan semacam temilnas, LKTEI, lomba debat, dsb. tapi
terdepan dalam menghadapi *qadayatul ummat*, khususnya di bidang ekonomi.
Artinya, seorang kader IsEF, memiliki kemampuan untuk menjadi pilar
kebangkitan ekonomi Islam dan pengibar panji-panjinya.



Bukan hanya sekedar 'urgensi' yang biasanya kader hanya akan semangat ketika
di awal-awal saja, setelah itu kembali menurun. Akan tetapi jauh dari itu
adalah komitmen dakwah, khususnya di bidang ekonomi. Dakwah Ekonomi Islam
yang dirasa tidak menjadi beban para pemanggulnya. Beban ketika keadaan
ekonomi sedang sulit, beban ketika sedang tidak sehat, beban ketika segala
sesuatu tidak sesuai rencana, bahkan beban ketika waktu telalu sulit untuk
disisihkan karena bentrok dengan tugas kuliah, atau kesibukan sehar-hari
lainnya.



*Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar;
merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai
orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan
yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang
berat, (Ali Imran: 104-105)*

* *

Tidak ada yang terlewat. Mulai dari bangun tidur sampai tertidur kembali
menjadi aktifitas dakwah. Bahkan (kalau bisa) tidurnya seorang kader pun
menjadi aktifitas dakwah. Karena, masih banyak orang-orang diluar sana yang
belum 'tercerahkan' dengan indahnya ekonomi Islam. Padahal di lain sisi para
pengusung ekonomi kapitalis mengorbankan waktu tidurnya untuk terus
menyebarkan ke-kapitalisme-an mereka. *Wallahu'alam*.


-- 
FARIZAL ALBONCELLI
Blog: http://farizal-alboncelli.blogspot.com/
FS: [email protected]
mobile: 021 950 42948

Kirim email ke