Assalam alaikum wr wb

Lihatlah, ini sesuatu yang kreatif dan efisien. Tidak ada sesuatu yang sia2.


http://www.dakwatuna.com/2009/warga-gaza-tak-kenal-kata-menyerah/

Warga Gaza Tak Kenal Kata Menyerah 
        
        Oleh: Tim dakwatuna.com 
        
 
 
        Tak Kenal Menyerah, Batu Bata Buat Rumah
dakwatuna.com - Gaza, “Bisa jadi
penjajah Israel berhasil memberlakukan blockade dan melarang masuknya
banyak bahan utama dan barang ke Jalur Gaza. Namun Israel tidak akan
berhasil memaksa kami melepaskan hak-hak kami atau melumpuhkan kekuatan
kami dalam menghadapi blockade ini.”
Kalimat itulah barangkali yang mewakili ungkapan
perasaan mayorits orang Palestina di Jalur Gaza hari-hari ini yang
kembali menggunakan cara-cara hidup nenek moyang mereka dan menggunakan
tanah untuk membangun rumah untuk bernaung mereka, setelah harapan
mereka melemah dalam merealisasikan sesegera mungkin janji-janji
rekonstruksi apa yang telah dihancurkan penjajah Zionis Israel.
Di Rafah misalnya, tidak jauh dari rumah yang
dihancurkan dalam salah satu agresi Zionis Israel, pemiliknya seorang
warga bernama Mahmud Abul Abd (45), mencetak tanah dari bekas rumah
yang dihancurkan Israel, untuk mendirikan bangunan sementara guna
mengatasi derita tanpa rumah sejak rumahnya dihancurkan dalam agresi
Israel terakhir.
Tanah, Alternatif yang Masuk Akal
Dengan tekad yang tinggi, Abul Abd dan orang-orang yang
membantunya bekerja menyiapkan cetakan-cetakan tanah berbentuk segi
empat. Cetakan-tetakan itu kemudian disusun meninggi membentuk rumah
yang akal menjadi tempat bernaung keluarga selama ini hidup dari rumah
ke rumah lain.
Kepada koresponden Infopalestina, Abul Abd mengatakan
dirinya sudah lama menunggu masuknya material bangunan sampai dia
merasa bahwa apa yang didengungkan tentang rekonstruksi Jalur Gaza
tidak lain hanyalah janji-janji yang tidak diketahui oleh siapapun
kapan itu terealisasi. Dari situlah dia dan yang lainnya berfikir untuk
membut rumah dari tanah.
Penggunaan tanah dalam membangun rumah-rumah kecil,
yang dikenal dengan nama “al Bakiyah”, menyebar di Jalur Gaza puluhan
tahun yang lalu sebelum berhenti penggunaannya setelah warga
menggunakan batu dan semen sebagai meteri bangunan.
Abul Abd mengatakan bahwa kakeknya hidup di rumah
tanah. Ayahnya lahir di rumah tanah. Hal itulah yang mendorongnya untuk
menghidupkan kembali ide membangun rumah dengan tanah.
Melempar Dua Burung dengan Satu Batu
Menurut Amir Syahin, salah seorang pekerja bangunan,
membangun rumah tanah sederhana membutuhkan dana sekitar 3 ribu dolar.
Pembangunan ini membutuhkan jenis tanah tertentu yang dicampur dengan
bahan perekat tertentu agar bisa dibentuk dan dicetak. Setelah itu
dibiarkan selama beberapa hari sampai kering sebelum digunakan untuk
membangun.
Sambil tersenyum dia mengatakan:
“Tanah yang digunakan adalah tanah liat yang berada
di bagian dalam bumi padang pasir. Di dapat dari penggalian terowongan.
Inilah yang disebut melempar dua burung dengan satu batu. Pertama kami
menggali terowongan untuk menembus blockade, kemudian tanahnya
digunakan untuk membangun rumah dalam rangka melawan blockade.”
Selama agresi terakhir ke Jalur Gaza, Israel telah
menghancurkan tidak kurang dari 20 ribu rumah penduduk secara total dan
sebagian. Serangan yang berlangsung selama 22 hari dan dimulai pada 27
Desember 2008 itu terjadi di tengah-tengah krisis bahan bangunan yang
terjadi di Jalur Gaza sejak 2 tahun setengah akibat larangan pasokan
material bangunan ke Jalur Gaza oleh Zionis Israel. Terutama semin dan
besi dengan dalih digunakan para pejuang perlawanan Palestina untuk
membangun tempat persembunyian di bawah tanah. (ip/ut)



      Mulai chatting dengan teman di Yahoo! Pingbox baru sekarang!! Membuat 
tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. 
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

Kirim email ke