Sebagai wacana saja, dari fesbuk temen...

Jumat, 8 Mei 2009 | 01:35 WIB

Oleh: Roy Thaniago

Seorang kawan yang baru lulus kuliah ditolak di mana-mana ketika melamar
pekerjaan. Kesalahannya cuma satu, Ia terlalu bangga memakai bahasa
Indonesia.

TIDAK seperti kebanyakan pelamar lain yang berfoya-foya dalam bahasa
Inggris, kawan tadi memakai bahasa Indonesia dalam surat lamarannya. Jumlah
alasannya memakai bahasa Indonesia pun sama dengan kesalahannya itu, cuma
satu, yakni, ia melamar pada perusahaan yang ada di Indonesia, yang
masyarakat, rekan kerja, dan pimpinannya berbahasa Indonesia. Perusahaan
yang pekerjaanya bisa dikerjakan dalam bahasa Indonesia. Sialnya, kawan tadi
lupa, kalau perusahaan di Indonesia merasa hebat ketika berhasil mengaudisi
karyawannya dalam bahasa Inggris. Biar sedikit intelek, bro!

Dari perusahaan dengan banyak istilah asingnya – meeting, outing, order,
customer, owner, break event point, part time, office boy – mari beralih ke
bidang lain. Dalam pemerintahan, kebanggaan meminjam istilah Inggris juga
amat mengenaskan – kalau tidak mau disebut mengesalkan atau memuakkan.
Tampak sekali kalau para pejabat kewalahan untuk berkomunikasi dalam bahasa
Indonesia sepenuhnya, sehingga merasa perlu meminjam istilah asing.
Tengoklah istilah seperti impeachment, smart card, voting, sampai yang
paling tolol, busway.

Entah, tulah apa yang menelanjangi identitas kebangsaan kita. Kenapa
kata-kata asing bertaburan dalam percakapan sehari-hari? Bahasa Indonesia
seakan tak mampu bersolek dengan anggun bila tidak menggandeng bahasa
Inggris. Orang paling bodoh sekali pun diatur gaya berbahasanya agar fasih
melafal tengkyu, sori, serprais, sekuriti, syoping sebagai syarat penduduk
berwawasan global – walau pengetahuan dan nalarnya tidak diajak mengglobal.

Tidak ketinggalan – dan ini yang paling menyakitkan – institusi publik yang
seharusnya mendidik masyarakat, malah melayani kekeliruan berbahasa
tersebut. Kita lihat bagaimana sekolah-sekolah berbangga dengan mengganti
namanya dengan bahasa Inggris. Universitas mengiklankan dirinya di media
dengan istilah Inggris seperti admission, free laptop, the leading
university, faculty of management, dan seterusnya. Padahal target
pemasarannya adalah orang-orang yang sehari-hari berbahasa Indonesia.

Media cetak maupun elektronik juga melayani semua kekenesan ini. Simak saja
kata-kata yang mondar-mandir di halaman mata kita. Ada Today Dialogues,
Woman of the Year, Sport, Headline News, dan sebagainya. Pada SINDO, sebuah
media massa nasional, yang logikanya adalah sebuah media yang turut
bertanggungjawab terhadap budaya berbahasa, pun bersikap demikian. Coba
periksa koran ini pada tiap edisinya. Di halaman depan, mata pembaca sudah
dihadang dengan rubrik ‘news’ dan ‘quote of the day’. Usaha meng-inggris ini
belum usai, karena disusul di lembar-lembar berikutnya: rubrik ‘financial
revolution’-nya Tung Desem Waringin, rubrik ‘people’, rubrik ‘fashion’,
rubrik ‘food’, rubrik ‘rundown’, atau cap ‘special report’ pada artikel
tertentu. Jangan tersenyum geli dulu, karena bukan saja SINDO, koran-koran
lainnya pun tak luput dari gaya-gayaan berbahasa ini.

Mau contoh lain? Tak usah pergi jauh, karena cukup sambil duduk menggenggam
halaman ini, bayangkanlah segala sesuatu di sekitar anda: merek permen,
keterangan dalam bungkus mie instan, nama restoran, keterangan dalam gedung
(exit, toilet, emergency), dan seterusnya, dan sebagainya, yang kalau
dituliskan semua, artikel kali ini hanya akan memuat daftar ‘dosa’ tersebut.
Dan tentunya memanjangkan rasa jengkel.

Lalu, menjadi sehebat Inggris atau Amerika-kah bangsa ini ketika berhasil
mengadopsi bahasa mereka? Apakah dengan serta merta ekonomi negara menjadi
seciamik mereka? Apakah dengan begitu terlihat cerdas karena berhasil
mensejajarkan diri dengan bangsa Barat? Sampai sebegitu jijiknyakah kita
terhadap bahasa Indonesia sehingga pada kata ‘peralatan kantor’ perlu
ditemani kata dalam kurung ‘stationery’, ‘nyata’ ditemani kata dalam kurung
‘real’, atau ‘kekuatan’ yang ditemani ‘power’? Seakan mata kita lebih karib
dengan kata di dalam kurung ketimbang kata dalam bahasa Indonesia-nya.

Masih cukup waraskah kita ketika menertawakan seorang artis muda yang
ber-Inggris ria, “hujan..beychek..ojhek”, yang padahal adalah cermin dari
ketidakberpribadian diri kita sendiri? Atau celakanya, latah pun kalau bisa
dibuat-buat agar yang keluar secara spontan adalah kata, ‘oh my god’,
‘monkey’, ‘shit’, ‘fuck you’, atau ‘event organizer’.

Pada kasus lain kita temukan bagaimana sikap sok inggris ini tidak diimbangi
dengan pengetahuan memadai. Contoh paling fatal, juga paling tolol, ada pada
isitilah ‘busway’ yang tidak mengindahkan aturan bahasa, terlebih logika.
Mana ada frase, “ke Blok M naik ‘jalanan bis’ sangat nyaman”.

Coba perhatikan, bagaimana kita melafal ‘AC’ (Air Conditioner) dan’HP’ (Hand
Phone). Bukankah kita menyepel a-se untuk ‘AC’ dan ha-pe untuk ‘HP’? –
padahal kalau sok Inggris layaklah dieja ei-si dan eitch-pi. Tapi tidak pada
‘VCD’ (Video Compact Disc) dan ‘PC’ (Personal Computer), karena kita
menyepel vi-si-di dan pi-si. Konyolnya, ‘Media Nusantara Citra’ (MNC), dieja
dengan em-en-si, bukan em-en-ce.

Yang paling menyedihkan, justru yang menghargai budaya (bahasa) Indonesia
adalah orang asing. Mungkin kita sudah bosan mendengar bagaimana bertaburnya
kelompok musik gamelan Jawa di Amerika. Di Eropa, beberapa konservatori
musik malah menyediakan jurusan musik karawitan atau gamelan bali. Tengoklah
yang terdekat, misalnya di Erasmus Huis, sebuah pusat budaya Belanda di
Kuningan, Jakarta Selatan. Dalam program bulanan kegiatan yang dicetak di
atas brosur, bahasa Indonesia-lah yang didahulukan, kemudian baru disusul
dengan bahasa Belanda kemudian Inggris. Bila ada pementasan pun, buku acara,
bahkan kata sambutannya pun – walau terbata-bata – mendahulukan bahasa
Indonesia. Gilanya, hal ini justru terbalik bila artis Indonesia yang
tampil.

Pada konser Nusantara Symphony Orchestra yang berkolaborasi dengan Tokyo
Philharmonie Orchestra di Balai Sarbini, 10 Juni 2008 lalu, sebagai
perwakilan dari Indonesia, Miranda Goeltom yang orang Indonesia memberi
sambutan, tentunya dalam bahasa Inggris. Lalu, sebagai perwakilan Jepang,
kata sambutan dari ‘Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Jepang untuk
Republik Indonesia’, Kojiro Shiojiri menyusul. Shiojiri yang asli Jepang
ini, yang tidak ada untungnya karena memakai bahasa Indonesia, malah dengan
pede-nya berpidato dalam bahasa Indonesia, meski terbata. Sudah cukup
muakkah membaca kenorakan kita di atas?

Memang, bahasa yang hidup adalah bahasa yang dinamis dan terus dirusak.
Tidak seperti bahasa yang sudah mati seperti bahasa Latin. Namun dalam
konteks ini, sama sekali tidak menandakan bahwa masyarakat Indonesia sedang
mengembangkan bahasanya secara sadar. Sebaliknya, masyarakat kita tidak
mempunyai kemampuan untuk mengenali fenomena budaya yang menggigiti
identitas bangsa. Tidak mampu mengatasi kekagokkannya sendiri terhadap
budaya asing. Mirip orang kampung yang merias berlebihan dengan segala
pernak-pernik kota sepulangnya ke kampung halaman.

Bangsa yang persoalan budaya-nya dianggap sepele bukan Indonesia sendiri.
Tenang saja, kita ada kawan. Bangsa Romawi adalah kawan yang dimaksud.
Secara militer Romawi memang menjajah Yunani, tapi dalam hal kultural,
Yunani-lah yang menjajah. Kalau kita, militer dijajah, budaya dijajah,
ekonomi juga dijajah. Lalu apa yang bisa membuat bangsa ini tidak terjajah?
Ketika tersinggung saat membaca artikel ini, begitu jawabnya.

Jadi, tersinggunglah!



Roy Thaniago
-- 
FARIZAL ALBONCELLI
Blog: http://farizal-alboncelli.blogspot.com/
FS: [email protected]
mobile: 021 950 42948

Kirim email ke