Suatu siang saya
chatting dengan kawan lama. Dia bilang sudah ngga betah jadi karyawan, mau
mulai usaha. ”Bingung mau mulai darimana”, begitu keluhnya. ”Pokoknya udah ngga
betah kerja, ngga enak”. Nah, ini kawan aneh juga pikir saya. Udah tau ngga
betah, malah di betah-betahin. Kalau memang merasa ngga nyaman dengan sesuatu,
harusnya yang ’normal’ kan kita berusaha keluar dari ketidaknyamanan itu.
Bukannya membiasakan diri dengan ketidaknyaman itu.....

 

”Lalu mulai
darimana dong Rief?”, katanya. Ya kalau mau nekat sih langsung aja berhenti 
kerja. Feel the power of kepepet he....he....Tapi
kawan ini memang ngga berani resign. “Anak istri mau makan apa?”, jawabnya. Ya
makan nasi lah....^__^

 

Seringkali
memang kita mendengar begitu banyak kisah-kisah sukses para pengusaha. Dan 
sering
pula kita membayangkan akan sukses seperti mereka. Tapi ada sisi lain yang
terlupakan. Kita lupa bahwa untuk mencapai kesuksesan itu melalui sebuah proses
yang tidak sebentar, bahkan juga menyakitkan. Yang biasanya makan ayam setiap
hari, tiba-tiba berubah jadi tahu tempe. Biasa seminggu sekali belanja atau
nonton ke bioskop, eh....sekarang sabtu-minggu saja masih sibuk cari orderan.
Bahkan banyak pengusaha yang sudah sukses, dulunya barangkali jauh lebih miskin
daripada kita hari ini. Tapi toh, mereka berhasil melewati proses itu. 

 

Nah sobat,
kalau memang ingin hidup nyaman-nyaman saja lebih baik jadi karyawan sampai
usia senja. Jangan jadi pengusaha kalau takut menderita! Karena pengusaha
adalah orang-orang pemberani yang rela meninggalkan zona nyaman untuk kehidupan
yang lebih baik. 

 

 

Arief Wahyuadi, 12 Mei 2009      

www.akumandiri.multiply.com

 

 

 

 

 

 




      

Kirim email ke