Dari BNI Life untuk Pendidikan di Pedalaman
 



BNI Life berkenan menjadi Orang Tua
Asuh untuk 78 siswa-siswi SD, SMTP dan SMU di daerah Cibugel terhitung
mulai bulan Mei 2009 sampai dengan April 2010. 

Pertama kali Portalinfaq menginjak
daerah yang cukup terpencil ini saat realisasi penyebaran hewan qurban
beberapa waktu yang lalu. Semua berawal dari diterimanya proposal
permohonan hewan qurban untuk masyarakat miskin daerah ini yang jarang
sekali memperoleh bantuan daging qurban.
Ialah Kecamatan Cibugel Kabupaten Sumedang, daerah yang
mayoritas mata pencaharian penduduknya bertani ini, terbagi dalam 7
desa yang saling berjauhan. Usai program qurban inilah kami memperoleh
data data siswa dari seorang guru yang aktif memperjuangkan
keberlangsungan pendidikan anak anak didikanya dari kalangan keluarga
yang kurang mampu. Terakhir dari 7 desa tersebut terhimpunlah lebih
dari 150 siswa siswi SD, SLTP, dan SLTA dari keluarga kurang mampu yang
memerlukan biaya pendidikan. Alhamdulillah melalui proposal program yang kami 
ajukan
kebeberapa korporat, BNI Life diantaranya berkenan menjadi Orang Tua
Asuh untuk 78 siswa-siswi SD, SMTP dan SMU di daerah Cibugel terhitung
mulai bulan Mei 2009 ini. Maka untuk amanah BNI Life inilah pada Sabtu
2 Mei 2009 kami berkunjung kembali guna merealisasikan bantuan
pendidikan, berkoordinasi dengan relawan dan para mentor untuk
mentoring dan pendampingan belajar Anak Asuh.
Sahabat Portalinfaq yang dermawan, banyak sekali pelajaran
ruhani yang kami peroleh saat kami berdekatan dengan mereka. Sebut saja
Ai Suhartini salah seorang Anak Asuh penerima ”Beasiswa Cerah BNI Life
– Portalinfaq ”ini, tinggal bersama kedua orang tua dan tiga kakaknya
di sebuah rumah panggung tua dari kayu dan bambu berdindingkan bilik
anyaman bambu. Mungkin tidak terlalu luas rumah berukuran sekitar 4 x 5
meter ini untuk dihuni enam anggota keluarga, hanya ada dua kamar
berukuran 1,5 m2 sehingga tak jarang Ai dan kakaknya harus tidur di
balai dapur yang berlantaikan palupuh bambu. Ai memiliki dua kakak
laki-laki dan satu kakak perempuan yang semuanya hanya mengenyam
pendidikan hingga tingkat SD dikarenakan kondisi ekonomi. Ai kini duduk
di banku kelas empat SD, karena kagumnya dengan tugas mulia seorang
bidan, Ai pun bercita-cita untuk menjadi seorang bidan dengan terus
melanjutkan pendidikannya.
Tapi entahlah iapun sepertinya ragu dengan cita-citanya itu,
mengingat semua kakaknya pun mempunyai cita-cita yang tinggi dan juga
memiliki prestasi belajar yang baik namun semuanya harus tekuk berlutut
pada kondisi ekonomi keluarga. Ya,.. ayahanda Ai, Bapak Kaman 58 tahun
hanyalah seorang pemecah batu dengan penghasilan yang tidak menentu.
Pagi itu kami sempat bercengkrama dengan Ibu Sukaesih ibunda Ai
dan Lilis kakaknya sambil berdiang diri di tungku api tempat sang bunda
memasak. Ai dan salah satu saudara perempuannya dengan ramah
menyodorkan teh panas dan mempersilakan kami minum di bale- bale
sebelah dapur yang juga berfungsi sebagai kamar tidurnya. Sementara
sang ayah Bapak Kaman sudah pergi menyabit rumput untuk tiga ekor
kambing peliharaan mereka.
Menjelang tengah hari Bapak Kaman tiba dengan tumpukan rumput
hijau di pikulannya. Istirahat dan berbincang sejenak, kemudian kami
putuskan untuk ikut membantu Pak Kaman di lokasi pemecahan batu
tempatnya mencari nafkah di daerah aliran sungai yang tidak begitu jauh
dari kediamannya. Peluh mengalir membasahi tubuh kami, Subhanallah
begitu berat perjuangan Bapak yang sudah tidak muda lagi ini untuk
menafkahi keluarganya. Untuk mendapatkan satu kubik saja bisa memakan
waktu 3 sampai 4 hari, bahkan bisa lebih andai batu yang hendak di
pecah harus digali terlebih dahulu karena posisinya yang tertimbun
tanah.
Sahabat, ada hal yang membuat kami tertegun kagum terhadap
Bapak Kaman ini yaitu saat salah satu dari team Portalinfaq menunjuk
sebuah batu besar di sebuah tebing terasering ladang jagung tak jauh
dari tempat kami bekerja. Dengan bahasa sunda yang sedikit dikuasainya
teman kami bertanya kepadanya,
”Pak naha batu anu eta teu di belah, kan lebih gampang
dibelahna teu kedah digali heula? ” ( Pak, kalau batu yang itu kenapa
tidak di belah, kan lebih mudah di belahnya tidak usah digali terlebih
dahulu?”. ) ”Oo.. etamah anu batur Cep kedah izin atanapi digaleuh
heula”. ( ”O.. kalau yang itu punya orang Dik, harus izin atau kita
beli dulu ). ”Tah pami nu ieu mah masih keneh kagungan pun adi sareng
tos di idinan di beulah ku Bapak.” ( Nah, kalau yang ini masih tanah
kepunyaan adik saya dan sudah diizinkan untuk di belah”.) lanjut Pak
Kaman sambil menunjuk bongkahan batu yang kami kerjakan. Subhanallah
sahabat, Pak Kaman betul-betul berhati-hati dengan pekerjaannya, ia
tidak pernah mau memecah batu yang berada di ladang orang lain atau
tetangganya tanpa izin terlebih dahulu dari sang empunya.
”Dupi sa kibikna sabaraha Pak?” ...(”Kalau satu kibik berapa
harganya Pak?”). Lanjut teman kami. ”Etamah tergantung Cep, bisa lima
puluh rebu, opat puluh atanapi dua puluh lima rebu rupia”. (”Kalau itu
sih tergantung Dik, bisa lima puluh ribu, empat puluh atau dua puluh
lima ribu rupiah” ). ”Ari harga pasaranna mah lima puluh rebuan sa
kibikna Cep”. ( ”kalau harga pasaran sih lima puluh ribuan per kubiknya
Dik” ) lanjut Pak Kaman. Kontan saja kami bingung dengan harga yang
ditetapkan Pak Kaman ini, ”Naha geuning tiasa kitu Pak?” ( ”Kok bisa
begitu Pak?” ). ”Pan ari anu kurang mampumah kadang Bapak sok karunya
tos we sabaraha wae oge Bapak tampi nya paling kecil teh sakitar dua
puluh lima rebuan”. ( ”Kan kalau sama yang kurang mampu kadang Bapak
suka kasihan ya sudah berapapun Bapak terima, ya paling kecil sekitar
dua puluh lima ribuan”). Oppss... ada sesuatu yang menghentak di hati
kami mendengar penjelasan Pak kaman tentang pekerjaannya.
Subhanallah...., kami jadi berfikir luar biasa sekali Pak Kaman ini,
meskipun pekerjaannya berat dan untuk satu kubik batu saja harus
menguras waktu dan tenaga 3-4 hari namun ia masih rela dan mau berbagi
dengan warga lainnya yang membutuhkan. Sungguh sosok yang sangat jarang
kami temui kalau bukan di pedesaan seperti ini.
Lain lagi dengan ananda Jejen Supardan 13 tahun dan
keluarganya, ibunda Jejen yang sering sakit-sakitan ini pun harus
banting tulang mencari rumput tiap harinya untuk empat ekor domba
peliharaannya yang milik salah satu tetangganya di kampung Cidomas Desa
Buana Mekar kec. Cibugel jawa Barat ini. Sang Bunda hanya mendapat
paruhan dari anak domba peliharaannya saat domba itu beranak. Bagiannya
itulah yang bisa dijual untuk membantu makan keluarganya disamping upah
sang Suami yang seorang buruh di sebuah Lio (pakbik bata merah). Kami
cukup terkejut ketika Bu Mimih (49 tahun) cerita bahwa saat ini bahkan
dua bulan kedepan suaminya akan bekerja tanpa upah, mengingat dibulan
sebelumnya keluarganya sudah mengambil upah dimuka Rp. 800.000,- yang
harus dibayarnya dengan 10.000 buah batu bata merah dan harus
dicetaknya sekitar dua bulan kedepan. Bahkan sebelas tahun silam
dikarenakan kesulitan membayar biaya melahirkan dan kondisi Ibu Mimih
yang terus menurun pasca melahirkan Siti Yulianti adinda Jejen harus di
adopsi oleh warga kelurahan lain di kecamatan itu.
Ketika kami berbincang dengan Jejen Sabtu senja itu sepulang ia
membantu Ibundanya menyabit rumput, Jejen berujar bahwa kelak ia ingin
menjadi seorang direktur atau pengusaha yang memiliki banyak karyawan
dan ia bisa menggajinya dengan upah yang layak. Kami membesarkan hati
siswa ranking 2 di kelas VII SMPN Satu Atap Gunung Sangian ini bahwa
sepanjang kita tekun rajin dan gigih menggapai cita Insya Allah , Allah
selalu menolong. Ia bahagia luar biasa bahwa setahun kedepan ia akan
memperoleh Beasiswa Cerah BNI Life – Portalinfaq bahkan bisa berlanjut
asalkan ia mampu mempertahankan dan meningkatkan prestasi belajarnya.
Sahabat yang dermawan masih banyak Ai dan Jejen Jejen yang lain
di negeri ini yang saat ini memerlukan uluran tangan kita. Semoga
menjadi kebahagiaan bagi kita saat nanti mereka berhasil meraih citanya
setinggi bintang di langit impiannya. Aamien.
Untuk sahabat Portalinfaq yang berkenan mengangkat Anak Asuh
perorangan maupun korporat silakan menghubungi kami di hot line (021)
7278 6073 fax. (021) 7278 6074 atau melalui email ke
[email protected].
”Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang
sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka
yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu,
hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara
dengan tutur kata yang benar” (QS. An-Nisa, 9)


      

Kirim email ke