--- Pada Sel, 26/5/09, Ahmad Ifham <[email protected]> menulis:
Sebuah Evaluasi yang harus kita jawab dengan Bukti nyata. Menjawabnya dengan Tindakan jauh lebih produktif dibandingkan dengan perdebatan yang miskin realisasi.

Eko Susanto
Dari: Ahmad Ifham <[email protected]>
Topik: {FoSSEI} SETUJU dengan pernyataan DEKAN FE UI ttg EKONOMI SYARIAH
Kepada: [email protected]
Cc: [email protected]
Tanggal: Selasa, 26 Mei, 2009, 11:48 AM

Wah, kalau saya sangat setuju dengan tulisan yang memuat pernyataan2 Dekan FE UI tersebut. Faktanya memang begitu, buanyak kekurangan yang masih dimiliki oleh penerapan sistem bank islam di Indonesia. Dan perbankan syariah harus "terbuka" agar tidak "angker".
 
Sangat sangat dimaklumi bahwa banyak orang yang memiliki persepsi bahwa bank syariah di Indonesia adalah semacam bank konvensional yang "mengganti" istilah bunga dengan margin atau bagi hasil, dan lain lain dan lain lain. Dan ingat ::: dalam Publis Relations, persepsi itu muncul dari fakta yang ditemui.
 
Tugas kita semua agar bank syariah di Indonesia ni gak jadi angker. Biar target BI yang sekian persen sekian persen itu bener2 bisa realistis dan sesuai dengan yang diharapkan --dan bahkan bukan dari unorganic growth.
 
Salam kenal,
Ahmad Ifham Solihin, S.Psi.
Business Consultant (Sharia Banking) di http://anabatic.co.id untuk produk http://temenos.com
Penulis buku: Ini Lho, Bank Syariah!


From: Fahmi Basyah <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, May 26, 2009 5:21:27 PM
Subject: Re: [ekonomi-syariah] PERNYATAAN DEKAN FE UI TTG EKONOMI SYARIAH BERBAU SARA

Komentar saya:
 
Saya berkeyakinan apa yang disampaikan Mr Fiz bukan bermaksud "menimbulkan konflik di kalangan umat Islam" apalagi berbau "SARA" ataupun "Tendensius" .
 
Ada baiknya kita mengambil sisi positif dari pernyataan Mr Fiz, sebagai evaluasi atas implementasi ekonomi syariah yang secara realitas memang belum ideal.
 
Pun jika ada komentarnya yang menurut beberapa pihak membuat ketidaknyamanan, ada baiknya diklarifikasi langsung dan diskusi dengan yang bersangkutan.
 
Sejauh yang saya kenal, beliau cukup terbuka untuk menerima masukan, terlebih beliau juga bagian dari Saudara kita sesama muslim yang bisa jadi dikarenakan latarbelakang pendidikan sekularnya, memiliki persepsi yang kurang pas tentang ekonomi syariah.
 
Salam,
 
Fahmi Basyah
 
------------ --------- --------- --------- ------
Bumiputeramuda 1967, General Insurance
Sharia Division
 
Jl. Wolter Monginsidi No. 43
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12180
Phone : +6221 7234849, 72788574
Facs.  : +6221 72787952
 
-------Original Message----- --
 
Date: 05/26/09 15:35:03
Subject: [ekonomi-syariah] PERNYATAAN DEKAN FE UI TTG EKONOMI SYARIAH BERBAU SARA
 

Berikut saya sampaikan pernyataan Dekan FE UI tentang bisnis syariah di Indonesia yang dimuat di Koran Tempo 25 Mei 2009.
Menurut saya, pernyataannya sangat tendensius dan berbau SARA dan menimbulkan conflik di kalangan umat Islam. Rasanya sebagai org terdidik kurang elok kalau pernyataan menyakitkan sebagian umat.... Jadi kalu memang Mr. Fiz tdk suka, ya sebaikanya amalkan hadits Nabi Muhammad SAW : Falyaqul khairan aw yasmut : berkatalah yang baik atau diam. Apakah dia terlalu PD karena muda sdh jadi dekan? Mohon komentar anggota milis



Masyarakat Indonesia masih alergi dengan isu-isu sektarian.
JAKARTA - Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Firmanzah berpendapat, masih belum bangkitnya ekonomi syariah--khususnya perbankan syariah--di

Kemasan Syariah Kurang Menarik

Masyarakat Indonesia masih alergi dengan isu-isu sektarian.

JAKARTA - Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Firmanzah berpendapat, masih belum bangkitnya ekonomi syariah--khususnya perbankan syariah--di Indonesia karena para pelaku bisnis syariah tidak mampu mengemas produk-produk syariah dengan menarik.

"Wacananya selama ini kan hanya soal haram dan tidak haram saja," kata dia dalam perbincangan dengan Tempo di kantornya, Rabu lalu. Karena itu, ia menyarankan agar pelaku bisnis syariah membuka diri, membuat ekonomi syariah menjadi lebih keren, bersahabat, dan tidak angker.

Firmanzah juga mengingatkan, asosiasi masyarakat terhadap bisnis syariah masih lekat dengan simbol-simbol seperti jenggot dan celana menggantung. Akhirnya pikiran yang muncul adalah bisnis yang seram. "Jadi, gimana mau ada yang datang ke bank syariah? Jangan-jangan nanti diceramahi," kata doktor bidang Strategi dan Manajemen Internasional dari University of Lille, Prancis, ini.

Selain persepsi masyarakat yang keliru, Fiz menambahkan, masih banyak kendala lainnya yang membuat aset bank syariah jauh di bawah bank konvensional, termasuk regulasi, konsumen, dan budaya. "Ternyata masyarakat agak alergi dengan produk-produk yang berbau sektarian seperti Islam," ucapnya.

Apalagi, meski bank syariah memiliki istilah dan aturan main sendiri, benak konsumen masih belum lepas dari mekanisme di bank konvensional dalam membuat analisis investasi. Bahkan, dalam beberapa hal, mekanisme bagi hasil juga mengacu pada suku bunga.

Bank Indonesia mengakui industri perbankan syariah tahun ini sulit meningkatkan persentase asetnya dari total aset perbankan nasional. Persoalannya adalah kurangnya tenaga profesional di bidang syariah. Saat ini aset bank syariah masih sebesar 2,2 persen dari total aset perbankan nasional.

"Diharapkan tahun ini aset bank-bank syariah bisa mencapai 5 persen," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A. Sarwono, Jumat lalu. Dia menjelaskan, pertumbuhan perbankan syariah selama tiga tahun terakhir sangat pesat. Namun, perbankan syariah masih kekurangan sumber daya manusia sekitar 15 ribu orang. EFRI RITONGA | ENDRI KURNIAWATI


 






Yahoo! Mail Sekarang Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya!

<<IMSTP.gif>>

Kirim email ke