Selasa, 09 Juni 2009 pukul 02:55:00
'Ekonomi Syariah Opsi Serius' 

Boediono nilai ekonomi syariah prosektor riil.


JAKARTA — Ekonomi syariah bisa menjadi kunci Indonesia keluar dari pengaruh 
krisis keuangan global saat ini. Salah satu sebabnya, sistem ekonomi berbasis 
nonribawi itu prosektor riil.

‘’Ekonomi syariah merupakan opsi yang serius bagi ekonomi kita,’‘ kata calon 
wakil pre siden (cawapres) yang diusung koalisi Partai Demokrat, Boediono, saat 
berkunjung ke redaksi Republika, Senin (8/6), di Jakarta.

Dibandingkan sistem ekono mi konvensional, Boediono meng akui transaksi dalam 
sistem ekonomi syariah dilandaskan pada kegiatan perekonomian yang konkret. Ini 
tentu berbeda dengan sistem konvensional yang boleh mendasarkan aktivitasnya 
pada transaksi derivatif.

‘’Kaitan dengan pembangun an di sek tor riil lepas,’‘ katanya. Sementara itu, 
sistem ekonomi syariah dilandasi pada sektor riil.

Konsep bagi hasil (risk sharing) tanpa menyerahkan tang gung jawab sepenuhnya 
kepada debitor, menurut mantan gubernur Bank Indonesia ini, juga se bagai 
konsep yang mestinya di ikuti perbankan konvensional.

Konsep ekonomi syariah pun tak me nge nal kesenjangan anta ra sektor riil dan 
finansial. Bila di ekonomi konvensional dua sek tor ini bisa berjalan tak se 
iring, di ekonomi syariah ada jem batan berupa bagi hasil atau sewa.

‘’Seringkali terjadi dana ha nya berpu tar-putar di sistem keuangan derivatif, 
tanpa turun ke sektor riil. Ini tidak ter jadi di ekonomi syariah karena konsep 
bagi hasil itu,’‘ jelasnya. Bahkan, sistem bagi hasil ini telah diterapkan di 
proyek infrastruktur.

Melihat perkembangan saat ini, eko nomi syariah bisa berpo tensi lebih besar 
lagi. Pertum buh an ekonomi syariah, diukur dari perkembangan perbankan syariah 
saat ini, baru sekitar dua persen.

‘’Ekonomi sya riah ha rus dimulai dari tingkat usa ha mik ro, kecil, dan mene 
ngah (UM KM),’‘ katanya.

Tapi, mantan menko Perekonomian ini mencermati, perkembangan ekonomi syariah 
jangan sebatas jor-joran pembukaan cabang perbankan syariah di mana-mana. Per 
tum buh an cabang harus di imbangi de ngan kuali tas layan an dan produk 
syariah.

‘’Landasan pertumbuhan eko nomi syariah harus rasional. Ja ngan sekadar 
mendirikan bank-bank perkreditan rakyat syariah, tapi nanti mati di te ngah 
jalan. Kalau ter jadi, yang rugi syariah juga.’‘

Kompetisi di antara pelaku ekonomi syariah juga harus se hat. ‘’Dan, jangan ada 
hambatan. Jangan juga terlalu ekstrem, nanti mandek.’‘

Sejak menjadi menkeu di Kabinet Gotong Royong, Presiden Megawati Soekarno 
putri, Boediono mengaku se lalu mendukung perkembang an ekonomi syariah. Kebi 
jak an ini ia lanjutkan ketika menduduki kursi menko Per ekonomian dan gubernur 
Bank Indonesia. ‘’Saya yakin ekonomi syariah bisa menan dingi ekonomi 
konvensional.’‘

Pengamat ekonomi syariah, Adiwar man Azwar Karim, menyatakan, ekonomi syariah 
semestinya memang menjadi opsi serius dalam sistem perekonomian di Tanah Air. 
‘’Sehingga, nilai-nilai syariah bisa menjadi opsi serius,’‘ katanya.

Adanya larangan melakukan transaksi derivatif, menurut Kepala Divisi Sya riah 
BII, Chairil A Aziz, menunjukkan sistem ekonomi syariah layak menjadi pilihan. 
‘’Transaksi di perbankan syariah harus jelas underlying transactionnya sehingga 
lebih aman,’‘ jelasnya.  evy/wed/gie


BOEDIONOMICS

Ada tiga sektor yang menjadi fokus Boediono dalam pembangunan ekonomi ke depan. 
Boediono berusaha menyeimbangkan dua sejoli tumpuan perekonomian, hard 
infrastructure dan soft infrastructure.

1. Infrastruktur.
Ini menjadi fokus dan kunci untuk melanjutkan pertumbuhan ekonomi. Sejak 11 
tahun terakhir, sektor ini pas-pasan, bahkan tertinggal dibanding negara Asia 
lainnya. Sektor listrik, pembangunan jalan, kereta api, dan sarana/prasarana 
infrastruktur lainnya (hard infrastructure) berperan penting dalam meningkatkan 
kesejahteraan ekonomi masyarakat.

2. Pelayanan masyarakat.
Sesuai slogan pemerintahan bersih, pelayanan masyarakat (soft infrastructure) 
menjadi poin penting berikutnya. Pengurusan tanah, KTP, dan hal remeh lainnya 
ternyata berimbas ke dunia usaha. Perbaikan ini harus sejalan dengan 
pembangunan infrastruktur fisik. Soft dan hard infrastructure merupakan dua 
sejoli tumpuan perekonomian.

3. Intervensi negara untuk kesejahteraan rakyat.
Intervensi ini terutama ditujukan untuk kepentingan masyarakat berpenghasilan 
rendah. Dana APBN harus dipakai untuk keperluan masyarakat luas, seperti 
pembangunan jalan di wilayah pelosok, bantuan langsung tunai (BLT), PNPM, 
Raskin, KUR, Program Keluarga Harapan, dsb.(-) 
Index Koran


      Yahoo! Mail Sekarang Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya! 
http://id.mail.yahoo.com

Kirim email ke