wah, statement pertama kok menarik ya. gimana tuh maksudnya ekonomi tidak selalu berhubungan dengan politik? tolong akh, dijelaskan di sini, biar menambah khasanah pemahaman anggota milis.
sepemahaman saya, memang setiap hal itu ada saatnya. jadi saya bisa sepakat, bisa tidak dengan hal ini, hehe (ngajak diskusi nih, hehe). ilmu itu dalam aplikasinya saling berkaitan, interdisipliner. karena permasalahan yang dihadapi juga saling berkaitan. bukankah, salah satu manfaat ilmu adalah menyelesaikan permasalahan? nah, tentang ekonomi politik, saya rasa itu akan selalu berhubungan ketika kita berbicara keadaan nyata. cuma, untuk merumuskan strategi, terkadang kita perlu membahasnya secara persial terlebih dahulu, meskipun pada akhirnya akan bertemu kembali dalam strategi yang dipilih. makanya, kalau berbicara ekonomi, terlebih ekonomi makro sebuah negara, bagi saya memang sulit dipisahkan dari masalah politik. bahkan, mungkin dengan masalah kesehatan, ahh, itu bisa juga selalu berkaitan... hehehe.... saya sempat membaca literatur tentang ekonomi politik. pada awalnya, pembahasan ekonomi begitu erat dengan pembahasan politik. karena begitulah, masalah yang dihadapi membutuhkan pembahasan erat antara ekonomi dan politik. makanya, menurut sejarahnya, adam smith, bapak ekonomi (yang tidak punya ibu ekonomi, hehe), setiap kali menulis ekonomi pasti tidak melepaskan asumsinya dengan politik. dan pemikiran selanjutnya pun seperti itu. kemudian, ekonomi politik ini semakin terpisah. sehingga dalam menyelesaikan masalah pun sendiri-sendiri. akibatnya, masalah pun juga tidak selesai-selesaik juga. karena itu, muncul pemikiran baru tentang ekonomi politik baru (sekedar intermezzo aja). inti pendapat saya, ekonomi dan politik akan senantiasa berhubungan jika kita melihat permasalahan yang dihadapi. namun, memang sesekali bisa kita pisahkan terlebih dahulu untuk menyederhanakan dalam menyelesaikan masalah, memudahkan menemukan solusinya. sehinggam pendapat saya, kalimat ekonomi politik tidak selalu berhubungan perlu dijelaskann, agar tidak menyesatkan. nah, tentang neoliberal? kira-kira itu bagus atau tidak? saya masih belum paham definisinya. akh, tolong coba dibandingkan dengan ekonomi islam, dalam tataran praktis di mana bedanya? ayo... siapa yang mau jawab...?? yup, cukup sekian dulu, ayo semarakkan diskusi kita. saya menunggu saling debat dan memberikan antitesis. tentang salah dan benar, itu urusan setelah kita saling berdiskusi. karena dari diskuri, kita bisa melihat dna mengajarkan mana yang benar. artinya, berpendapatlah! _________________________________ ADITYA RANGGA YOGA :) Presidium Nasional 4 FoSSEI +62 813 2888 5856 [email protected] Shariah Economics Forum (SEF) UNIVERSITAS GADJAH MADA --- On Tue, 6/30/09, Willy Mardian <[email protected]> wrote: From: Willy Mardian <[email protected]> Subject: Bls: FoSSEI harus netral....publish kebaikan boleh...tpi jangan yang negatif... {FoSSEI} Ismail Yusanto: Meski Dukung Perbankan Syariah , Boediono Tetap Neo Liberal To: [email protected] Date: Tuesday, June 30, 2009, 12:57 AM udahlah gak selamanya Ekonomi bertemu dengan Politik koq ...masih banyak lagi yang harus disambungkan agar jangan sampai ada "Kemusyrikan Ekonomi", klo kata DR Hasan At Turabbi. Ekonomi Neo Liberal sendiri dalam sejarah pemikiran Ekonomi tak pernah ada yang ada mungkin Ekonomi Gaya Klassik atau Neo Klasik. di sekolahnya Farizal gak ada EI khan ? siapa boleh tebak hati seseorang selain Allah ? dan semakin sering kita prasangka semakin susah kita mencari tauladan --- Pada Sen, 29/6/09, mohamad ahsani <ah_s...@yahoo. co..id> menulis: Dari: mohamad ahsani <ah_s...@yahoo. co.id> Topik: FoSSEI harus netral....publish kebaikan boleh...tpi jangan yang negatif... {FoSSEI} Ismail Yusanto: Meski Dukung Perbankan Syariah , Boediono Tetap Neo Liberal Kepada: fos...@yahoogroups. com Tanggal: Senin, 29 Juni, 2009, 9:20 AM --- Pada Ming, 28/6/09, Farizal FoSSEI <fari...@fossei. org> menulis: Dari: Farizal FoSSEI <fari...@fossei. org> Topik: {FoSSEI} Ismail Yusanto: Meski Dukung Perbankan Syariah , Boediono Tetap Neo Liberal Kepada: alumni-muslim49@ googlegroups. com, fos...@yahoogroups. com Tanggal: Minggu, 28 Juni, 2009, 1:45 PM Tim Sukses SBY Berboedi berkali-kali menyatakan bahwa Boediono itu bukan ekonom neoliberal dengan alasan dia membolehkan perbankan syariah. Benarkah, bila welcome terhadap perbankan syariah bisa disebut ekonom yang tidak neolib? Umat jangan mau dibohongi. Untuk itulah wartawan mediaumat.com Joko Prasetyo mewawancarai Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia Muhammad Ismail Yusanto, Selasa (23/6) sore di Jakarta. Berikut petikannya. Apa benar UU perbankan syariah atau kebijakan yang terkait dengan bank syariah itu merupakan peran besar Boediono? Kalaulah umpamanya benar bahwa Boediono berperan besar dalam hal itu tetap saja itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menangkis bahwa Boediono itu bukan neolib. Keberadaan bank syariah mencerminkan bahwa Indonesia tidak menerapkan ekonomi neolib? Perbankan syariah adalah salah satu instrument dari sistem moneter yang berlaku di Indonesia yang menerapkan sistem ekonomi neolib ini. Sehingga keberadaan perbankan syariah itu tidak mempengaruhi apa-apa terhadap kebijakan moneter secara umum. Apalagi, volume bisnis bank syariah di Indonesia itu masih di bawah 3%. Jadi masih sangat kecil bila dibanding dengan skala usaha perbankan konvensional yang 97%. Sehingga perbankan syariah itu tidak mempengaruhi postur terhadap perbankan Indonesia. Nah, itu kalau mau dibilang Boediono berperan besara dalam keberadaan perbankan syariah. Tapi kan faktanya tidak begitu. Sesungguhnya orang-orang yang berperan besar adalah inisiator dan pelaku perbankan syariah sendiri yang menginginkan UU semacam itu, yakni Asosiasi Bank Syariah Indonesia atau Asbsindo. Dalam hal ini Boediono berposisi sebagai orang yang mau tidak mau harus meng-endors atau mengesahkannya. Karena kalau Boediono menolak itu akan menjadi sesuatu yang sangat tidak mengenakan posisinya. Siapapun yang ada di posisinya akan melakukan hal yang sama. Lantaran perbankan syariah sudah menjadi fakta bukan baru gagasan saja. Dan fakta itu makin lama makin membesar dan membutuhkan UU terpisah dari UU perbankan konvensional. Jadi saya melihat tidak ada yang istimewa dari keberadaan Boediono terkait hal ini. Kecuali kalau Boediono itu dari dulu dikenal sebagai orang yang mengagas bank syariah. Itu baru melawan arus. Nah baru bolehlah diacungi jempol! Faktanyakan tidak. Bukankah ia juga mengatakan perbankan syariah itu bagus. Apakah ungkapan itu basa-basi? Mungkin. Tapi dia juga paham dong, secara intelektual bahwa bank syariah itu memang bagus. Jadi siapa pun yang menyatakan bank syariah itu bagus sebenarnya itu pernyataan yang biasa. Tidak ada yang istimewa. Karena memang secara intelektual, secara empirik itu memang bagus! Justru kalau ada orang yang mengatakan bank syariah jelek itu bodoh. Kalau ekonom ya ekonom bodoh. Keblinger! Sebenarnya yang aneh itu ketika Boediono mengatakan bank syariah itu bagus. Itu dijadikan kredit point buat dia. Padahal itu kan sangat biasa-biasa saja. Baru sekarang-sekarang ini, saat menjelang pilpres 2009, Boediono dikatakan sebagai orang yang paling berjasa dalam menelurkan UU perbankan syariah. Sebelumnya dia tidak pernah sama sekali dikait-kaitkan dengan perbankan syariah atau satu gagasan ekonomi Islam lainnya. Hatta di UGM sekalipun ia tidak pernah mengajukan gagasan itu. Lain halnya kalau Boediono mengatakan, “bank syariah itu bagus harus dikembangkan. Bank konvensional jelek harus ditutup”. Nah itu baru kredit poin buat Boediono. Kalau Boediono berani ngomong begitu baru itu namanya berita. Saya yakin dia tidak akan berani ngomong begitu! Karena pernyataan itu hanya akan muncul dari seorang ekonom yang bermotif keimanan bukan neolib. Jadi motif dalam membangun perbankan syariah itu…? Ya..motif ya… setidaknya ada dua.mengapa perbankan syariah itu dibangun. Pertama, ada yang mendirikan bank syariah karena motif keyakinan, keimanan bahwa bank syariah ini solusi yang terbaik dan islami yang menjauhkan unsur riba dalam setiap transaksinya. Alasannya, dalam Islam riba atau bunga bank itu haram dan harus dijauhi. Nah, sehingga orang-orang seperti ini lebih memilih bank syariah dan secara tegas menolak bank konvensional. Kedua, ya motif bisnis an sich. Dalam kacamata ini memang bank syariah tidak terlalu beresiko bahkan dalam hitung-hitungan mereka bank syariah memilik marjin keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan skema bank konvensional. Sehingga bank konvensional pun membuka unit syariah. Dengan alasan yang sama pula hal ini terjadi bukan hanya di Indonesia, yang mayoritas penduduknya Muslim. Di negara-negara lain, seperti Inggris, Singapura, Australia, Amerika juga bank konvensional membuka cabang syariah. Bahkan City Bank, itu bank konvensional pertama yang membuka unit syariah. Sekarang ini kan HSBC pun membuka unit syariah. Agak sedikit menyimpang, namun menarik untuk diungkap. Dalam dialog di Bandung baru-baru ini, Boediono mengatakan butuh mata uang internasional yang baru pengganti dollar karena dollar didominasi oleh satu negara. Tapi ketika disodorkan bahwa uang pengganti itu emas ia menolak juga, dengan alasan mata uang emas itu tetap menimbulkan ketergantungan karena hanya negara-negara tertentu saja yang mempunyai emas. Apa benar seperti itu, jadi di mana letak keadilan mata uang emas itu, mengingat Islam mewajibkan mata uang itu haruslah emas atau berbasis emas? Justru kalau tujuannya agar menjadi mata uang internasional emaslah yang paling unggul. Karena ketika emas dijadikan mata uang dengan sendirinya uang emas tersebut menjadi mata uang internasional. Sama sekali tanpa memerlukan adanya political agreement. Lihat mata uang Euro, sekedar untuk berlaku di Eropa saja kan harus ada dulu kesepakatan politik oleh setiap negara yang tergabung dalam Masyarakat Ekonomi Eropa untuk menjadikan itu sebagai mata uang bersama. Emas tidak perlu begitu. Jadi siapa saja bisa menggunakan mata uang emas, bahkan tidak memerlukan kesepakatan politik internasional sekalipun. Karena emas ini langsung bisa digunakan di sembarang tempat di berbagai negara. Terus bila dikatakan bahwa negara-negara tertentu saja yang menghasilkan emas atau mempunyai cadangan emas yang besar yang diuntungkan. Ya, memang seperti komoditas lainnya, seperti minyak misalnya. Kan negara yang mempunyai minyak terbesar memiliki keuntungan yang lebih besar. Jadi ada masalah apa? Yang memiliki minyak yang lebih banyak akan diuntungkan, yang memiliki emas lebih banyak akan lebih diuntungkan. . Ya, itu hal yang wajar saja. Tidak menggunakan mata uang emas pun. Menggunakan dollar misalnya, tetap saja yang memiliki emas terbanyak akan lebih diuntungkan. Benarkah bila penemuan emas besar-besaran di sebuah negara akan terjadi inflasi secara global? Ooh, insya Allah, itu tidak akan mungkin terjadi. Kenapa? Karena emas itu komoditas. Emas tidak akan mengalir dengan sendirinya karena emas akan mengalir bila dipertukarkan dengan barang dan jasa. Bila emas itu ditemukan oleh sebuah negara tentu saja emas tersebut akan diamankan oleh negara tersebut. Beda dengan mata uang kertas. Bila di-back-up atau disandarkan pada emas berarti mata uang emas. Mata uang kertas kan dicetak tanpa disandarkan pada apa-apa. Itulah yang menyebabkan inflasi secara global seperti yang selalu terjadi pada mata uang kertas yang berlaku saat ini. Uang terus dicetak, harga barang terus naik. Kan begitu. Jadi kalau emas itu dibelikan barang ya itu sebenarnya pertukaran barang dengan barang. Jika harga barang naik, harga emas pun ikut naik. Jadi emas relatif jauh lebih stabil dibanding mata uang kertas, saham, atau lainnya. Dollar bisa tidak ada artinya apa-apa ketika Amerika bangkrut. Saham juga demikian, bila perusahaan yang mengeluarkan saham itu bangkrut. Hal itu tidak berlaku bagi emas. Satu contoh sederhana saja. Seribu empat ratus tahun lalu. pada zaman Nabi Muhammad SAW, harga seekor kambing gemuk adalah 1 koin dinar, uang yang terbuat dari emas seberat 4,25 gram emas.. Nah, zaman sekarang juga sama! Kambing yang bagus dan gemuk harganya sekitar 1,5 juta rupiah. Coba tanya ke Antam atau penjual dinar, berapa harga 1 dinar sekarang, jawabannya mesti 1,5 juta rupiah. Padahal Khilafah Islam sudah lebih dari 80 tahun runtuh, tapi dinarnya tetap stabilkan? Coba kalau pakai uang kertas. Pasti harus dikilo dulu baru laku. Seperti halnya menimbang koran bekas. Jadi kalau tidak emas mau mata uang apa yang ingin diajukan sebagai alat tukar yang berlaku secara internasional? Kesimpulannya? Jadi neolib itu tidak bisa dilihat dari kata-kata tetapi dapat dilihat dari rekam jejak. Artinya, neolib tidaknya Boediono itu tidak bisa diukur dengan setuju atau tidaknya dia dengan berdirinya perbankan syariah. Tapi neolib tidaknya dia itu bisa dilihat dari apakah dia menganut Mazhab Konsensus Washington atau tidak. Konsensus Washington itu kan intinya pencabutan subsidi, privatisasi, dan liberalisasi perdagangan. Boediono kan kental sekali dengan ketiga hal itu.[] -- FARIZAL ALBONCELLI Blog: http://farizal- alboncelli. blogspot. com/ FS: [email protected] mobile: 021 950 42948 Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini! Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya sekarang!

