terus terang saya memang tidak sepenuhnya sependapat dengan beberapa kebijakan 
yang beliau lakukan saat menjabat sebagai Gubernur BI dan apa yang saya 
tuliskan berikut ini bukan dalam kapasitas keberpihakan politik, 

tetapi apakah hanya dengan mengatakan Boediono Tetap Neo Liberal bisa merubah 
keadaan,jangan sampai dengan stereotip Neo Liberal tersebut menjadi sebuah 
stigma seolah beliau tidak bisa berubah, at least beliau adalah seorang Muslim 
yang satu aqidah, harus ada upaya dakwah yang diberikan pada beliau tentang 
pemahaman Islam yang Kaffah salah satunya ekonomi syariah, jangan samakan sikap 
kita antara sesama Muslim dengan sikap terhadap kaum kafir,

terlepas dari segala kekurangan beliau, saya tetap menghargai potensi luar 
biasa berupa kecerdasan & prestasi akademis yang berhasil beliau torehkan, saya 
hanya bisa berdoa suatu ketika dengan potensi luar biasa yang beliau miliki 
beliau menjadi salah seorang yang berada dalam barisan terdepan membela Izzah 
Islamiyah.

kita harus berpikir apakah suatu ketika kita bisa memiliki prestasi di bidang 
akademis melebihi beliau? apakah kelak kita bisa menjadi seorang cendikiawan 
Muslim yang memberikan cahaya bagi peradaban minimla bagi negeri ini? sangat 
sedikit jumlah guru besar ekonomi di Indonesia yang berprinsip syariah, apakah 
kita (khususnya mahasiswa ekonomi) memiliki cita2 ke arah sana?

kalau saya boleh berkata terang-terangan pada pengirim artikel (maaf), apa sih 
prestasi yang sudah anda torehkan atau kontribusi nyata yang sudah anda lakukan 
bagi peradaban? minimal dengan kualitas nilai akademik sekelas Boediono 
(terlepas dari orientasi mata kuliah serta pemikiran), 

banyak orang2 cerdas dari kalangan ilmuwan/cendikiawan akademisi dengan titel 
profesor di berbagai bidang keilmuan tapi sangat sedikit yang memiliki 
pemahaman Islam yang Kaffah, di sisi lain mungkin ada pemikiran-pemikiran 
mereka yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam tapi beberpa kalangan Muslim 
hanya mampu mendebat saja tanpa diiringi bargaining power berupa peningkatan 
kapasitas intelektual yang memadai atau minimal setara dengan mereka, 

menurut saya saat ini bukan saatnya sekedar wacana atau mendebat saja, 
peradaban Islam itu harus dibangun oleh orang-orang Islam yang memiliki 
kompetensi & kapabilitas intelektual yang memadai, kita membutuhkan politikus, 
ekonom, teknokrat, birokrat dsb dengan paradigma Islam. Kita harus berpikir 
jangka panjang. Mungkin saat ini ada teman2 yang mempelajari bidang keilmuan 
tertentu, pelajari bidang tersebut secara mendalam karena suatu saat ilmu 
tersebut akan sangat dibutuhkan dalam membangun peradaban Islam. Ini adalah 
saatnya bagi kita untuk fokus meningkakan kapabilitas &kompetensi di bidangnya 
masing-masing tentunya dengan diiringi pemahaman aspek keIslaman secara 
berkesinambungan. 

saya menyadari bahwa pemahaman Islam saya masih jauh dari sempurna, tapi saya  
bertekad dengan cita-cita, menjadi seorang Muslim yang mampu memberikan 
manfaat&kontribusi nyata bagi peradaban Insya Allah

Apa yang saya tuliskan disini bukanlah untuk menggurui, saya bukan orang yang 
sepenuhnya paham tentang ekonomi syariah, tapi saya adalah orang yang harus 
berusaha keras untuk selalu belajar, mohon maaf jika ada kesalahan atau kata2 
yang kurang berkenan.

Muhammad Aldhira
mahasiswa FE UNPAD angk.2007





--- Pada Ming, 28/6/09, Farizal FoSSEI <[email protected]> menulis:

Dari: Farizal FoSSEI <[email protected]>
Topik: {FoSSEI} Ismail Yusanto: Meski Dukung Perbankan Syariah , Boediono Tetap 
Neo  Liberal
Kepada: [email protected], [email protected]
Tanggal: Minggu, 28 Juni, 2009, 1:45 PM











    
            
            


      
      Tim Sukses SBY Berboedi berkali-kali menyatakan bahwa Boediono itu
bukan ekonom neoliberal dengan alasan dia membolehkan perbankan
syariah. Benarkah, bila welcome terhadap perbankan syariah bisa disebut
ekonom yang tidak neolib? Umat jangan mau dibohongi. Untuk itulah
wartawan mediaumat.com Joko Prasetyo mewawancarai Juru Bicara Hizbut
Tahrir Indonesia Muhammad Ismail Yusanto, Selasa (23/6) sore di
Jakarta. Berikut petikannya.
Apa benar UU perbankan syariah atau kebijakan yang terkait dengan bank syariah 
itu merupakan peran besar Boediono?
Kalaulah
umpamanya benar bahwa Boediono berperan besar dalam hal itu tetap saja
itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menangkis bahwa Boediono itu
bukan neolib. 
Keberadaan bank syariah mencerminkan bahwa Indonesia tidak menerapkan ekonomi 
neolib?
Perbankan
syariah adalah salah satu instrument dari sistem moneter yang berlaku
di Indonesia yang menerapkan sistem ekonomi neolib ini. Sehingga
keberadaan perbankan syariah itu tidak mempengaruhi apa-apa terhadap
kebijakan moneter secara umum. 
Apalagi, volume bisnis bank syariah
di Indonesia itu masih di bawah 3%. Jadi masih sangat kecil bila
dibanding dengan skala usaha perbankan konvensional yang 97%. Sehingga
perbankan syariah itu tidak mempengaruhi postur terhadap perbankan
Indonesia. 
Nah, itu kalau mau dibilang Boediono berperan besara
dalam keberadaan perbankan syariah. Tapi kan faktanya tidak begitu.
Sesungguhnya orang-orang yang berperan besar adalah inisiator dan
pelaku perbankan syariah sendiri yang menginginkan UU semacam itu,
yakni Asosiasi Bank Syariah Indonesia atau Asbsindo.
Dalam hal ini
Boediono berposisi sebagai orang yang mau tidak mau harus meng-endors
atau mengesahkannya. Karena kalau Boediono menolak itu akan menjadi
sesuatu yang sangat tidak mengenakan posisinya. Siapapun yang ada di
posisinya akan melakukan hal yang sama. Lantaran perbankan syariah
sudah menjadi fakta bukan baru gagasan saja. Dan fakta itu makin lama
makin membesar dan membutuhkan UU terpisah dari UU perbankan
konvensional. 
Jadi saya melihat tidak ada yang istimewa dari
keberadaan Boediono terkait hal ini. Kecuali kalau Boediono itu dari
dulu dikenal sebagai orang yang mengagas bank syariah. Itu baru melawan
arus. Nah baru bolehlah diacungi jempol! Faktanyakan tidak. 
Bukankah ia juga mengatakan perbankan syariah itu bagus. Apakah ungkapan itu 
basa-basi?
Mungkin.
Tapi dia juga paham dong, secara intelektual bahwa bank syariah itu
memang bagus. Jadi siapa pun yang menyatakan bank syariah itu bagus
sebenarnya itu pernyataan yang biasa. Tidak ada yang istimewa. Karena
memang secara intelektual, secara empirik itu memang bagus!
Justru
kalau ada orang yang mengatakan bank syariah jelek itu bodoh. Kalau
ekonom ya ekonom bodoh. Keblinger! Sebenarnya yang aneh itu ketika
Boediono mengatakan bank syariah itu bagus. Itu dijadikan kredit point
buat dia. Padahal itu kan sangat biasa-biasa saja. 
Baru
sekarang-sekarang ini, saat menjelang pilpres 2009, Boediono dikatakan
sebagai orang yang paling berjasa dalam menelurkan UU perbankan
syariah. Sebelumnya dia tidak pernah sama sekali dikait-kaitkan dengan
perbankan syariah atau satu gagasan ekonomi Islam lainnya. Hatta di UGM
sekalipun ia tidak pernah mengajukan gagasan itu.
Lain halnya kalau
Boediono mengatakan, “bank syariah itu bagus harus dikembangkan. Bank
konvensional jelek harus ditutup”. Nah itu baru kredit poin buat
Boediono. Kalau Boediono berani ngomong begitu baru itu namanya berita.
Saya yakin dia tidak akan berani ngomong begitu! Karena pernyataan itu
hanya akan muncul dari seorang ekonom yang bermotif keimanan bukan
neolib.
Jadi motif dalam membangun perbankan syariah itu…? 
Ya..motif
ya… setidaknya ada dua.mengapa perbankan syariah itu dibangun. Pertama,
ada yang mendirikan bank syariah karena motif keyakinan, keimanan bahwa
bank syariah ini solusi yang terbaik dan islami yang menjauhkan unsur
riba dalam setiap transaksinya. Alasannya, dalam Islam riba atau bunga
bank itu haram dan harus dijauhi. Nah, sehingga orang-orang seperti ini
lebih memilih bank syariah dan secara tegas menolak bank konvensional. 
Kedua,
ya motif bisnis an sich. Dalam kacamata ini memang bank syariah tidak
terlalu beresiko bahkan dalam hitung-hitungan mereka bank syariah
memilik marjin keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan skema
bank konvensional. Sehingga bank konvensional pun membuka unit syariah.

Dengan alasan yang sama pula hal ini terjadi bukan hanya di
Indonesia, yang mayoritas penduduknya Muslim. Di negara-negara lain,
seperti Inggris, Singapura, Australia, Amerika juga bank konvensional
membuka cabang syariah. Bahkan City Bank, itu bank konvensional pertama
yang membuka unit syariah. Sekarang ini kan HSBC pun membuka unit
syariah. 
Agak sedikit menyimpang, namun menarik untuk diungkap.
Dalam dialog di Bandung baru-baru ini, Boediono mengatakan butuh mata
uang internasional yang baru pengganti dollar karena dollar didominasi
oleh satu negara. Tapi ketika disodorkan bahwa uang pengganti itu emas
ia menolak juga, dengan alasan mata uang emas itu tetap menimbulkan
ketergantungan karena hanya negara-negara tertentu saja yang mempunyai
emas. 
Apa benar seperti itu, jadi di mana letak keadilan mata uang
emas itu, mengingat Islam mewajibkan mata uang itu haruslah emas atau
berbasis emas?
Justru kalau tujuannya agar menjadi mata uang
internasional emaslah yang paling unggul. Karena ketika emas dijadikan
mata uang dengan sendirinya uang emas tersebut menjadi mata uang
internasional. Sama sekali tanpa memerlukan adanya political agreement.
Lihat mata uang Euro, sekedar untuk berlaku di Eropa saja kan harus ada
dulu kesepakatan politik oleh setiap negara yang tergabung dalam
Masyarakat Ekonomi Eropa untuk menjadikan itu sebagai mata uang
bersama. 
Emas tidak perlu begitu. Jadi siapa saja bisa menggunakan
mata uang emas, bahkan tidak memerlukan kesepakatan politik
internasional sekalipun. Karena emas ini langsung bisa digunakan di
sembarang tempat di berbagai negara. 
Terus bila dikatakan bahwa
negara-negara tertentu saja yang menghasilkan emas atau mempunyai
cadangan emas yang besar yang diuntungkan. Ya, memang seperti komoditas
lainnya, seperti minyak misalnya. Kan negara yang mempunyai minyak
terbesar memiliki keuntungan yang lebih besar. Jadi ada masalah apa?
Yang memiliki minyak yang lebih banyak akan diuntungkan, yang memiliki
emas lebih banyak akan lebih diuntungkan. Ya, itu hal yang wajar saja.
Tidak menggunakan mata uang emas pun. Menggunakan dollar misalnya,
tetap saja yang memiliki emas terbanyak akan lebih diuntungkan. 
Benarkah bila penemuan emas besar-besaran di sebuah negara akan terjadi inflasi 
secara global? 
Ooh,
insya Allah, itu tidak akan mungkin terjadi. Kenapa? Karena emas itu
komoditas. Emas tidak akan mengalir dengan sendirinya karena emas akan
mengalir bila dipertukarkan dengan barang dan jasa. Bila emas itu
ditemukan oleh sebuah negara tentu saja emas tersebut akan diamankan
oleh negara tersebut. 
Beda dengan mata uang kertas. Bila
di-back-up atau disandarkan pada emas berarti mata uang emas. Mata uang
kertas kan dicetak tanpa disandarkan pada apa-apa. Itulah yang
menyebabkan inflasi secara global seperti yang selalu terjadi pada mata
uang kertas yang berlaku saat ini. Uang terus dicetak, harga barang
terus naik. Kan begitu. 
Jadi kalau emas itu dibelikan barang ya
itu sebenarnya pertukaran barang dengan barang. Jika harga barang naik,
harga emas pun ikut naik. Jadi emas relatif jauh lebih stabil dibanding
mata uang kertas, saham, atau lainnya. Dollar bisa tidak ada artinya
apa-apa ketika Amerika bangkrut. Saham juga demikian, bila perusahaan
yang mengeluarkan saham itu bangkrut. 
Hal itu tidak berlaku bagi
emas. Satu contoh sederhana saja. Seribu empat ratus tahun lalu. pada
zaman Nabi Muhammad SAW, harga seekor kambing gemuk adalah 1 koin
dinar, uang yang terbuat dari emas seberat 4,25 gram emas. Nah, zaman
sekarang juga sama! Kambing yang bagus dan gemuk harganya sekitar 1,5
juta rupiah.
Coba tanya ke Antam atau penjual dinar, berapa harga 1
dinar sekarang, jawabannya mesti 1,5 juta rupiah. Padahal Khilafah
Islam sudah lebih dari 80 tahun runtuh, tapi dinarnya tetap stabilkan?
Coba kalau pakai uang kertas. Pasti harus dikilo dulu baru laku.
Seperti halnya menimbang koran bekas. Jadi kalau tidak emas mau mata
uang apa yang ingin diajukan sebagai alat tukar yang berlaku secara
internasional?
Kesimpulannya?
Jadi neolib itu tidak bisa dilihat
dari kata-kata tetapi dapat dilihat dari rekam jejak. Artinya, neolib
tidaknya Boediono itu tidak bisa diukur dengan setuju atau tidaknya dia
dengan berdirinya perbankan syariah. Tapi neolib tidaknya dia itu bisa
dilihat dari apakah dia menganut Mazhab Konsensus Washington atau
tidak. Konsensus Washington itu kan intinya pencabutan subsidi,
privatisasi, dan liberalisasi perdagangan. Boediono kan kental sekali
dengan ketiga hal itu.[]

-- 
FARIZAL ALBONCELLI
Blog: http://farizal- alboncelli. blogspot. com/
FS: [email protected]

mobile: 021 950 42948


 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang! Membuat 
tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. 
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

Kirim email ke