http://www.dakwatuna.com/2009/pemimpin/
Pemimpin
Editorial
7/7/2009 | 15 Rajab 1430 H
dakwatuna.com -
Pemimpin bukan seorang penguasa, karena penguasa cenderung
mengeksploitasi kekayaan negeri untuk kepentingan pribadi. Pemimpin
bukan pemerintah, karena pemerintah cenderung menganggap rakyat sebagai
jongos.
Saya masih ingat Syaikh Muhammad Abduh seorang pemikir muslim terkemuka pernah
mengatakan:
“Al amiiru laa man qaada biawaamirihii, bal man qaada
bi afa’aalihii (pemimpin bukan seorang yang memimpin dengan
perintah-perintahnya, melainkan yang memimpin dengan perbuatannya)”.
Pemimpin bukan raja, karena raja cenderung hanya mengurus
dirinya dari pada rakyatnya. Raja lebih identik kepada pemilik kerajaan
dan kekayaan yang ada di dalamnya, sementara rakyat hanya budak yang
tidak mempunyai kekuatan apa-apa.
Pemimpin dalam Islam adalah seorang pelayan. Karenanya ia
bukan kemulyaan (tasyriif) melainkan tugas dan beban (takliif). Dalam
Al Qur’an Allah subhaanahuu wata’aala menggunakan istilah khalifah,
yang artinya wakil. Maksudnya adalah seorang yang mewakili Allah di
bumi untuk melaksanakan segala aturan dan hukum-hukumNya. Berdasarkan
makna ini maka seorang pemimpin yang tidak ikut Allah tidak pantas
diberi gelar khalifah. Bila seorang pemimpin mewakili Allah, otomatis
ia pasti akan mewakili rakyatnya.
Sebagai wakil rakyat maka tidak akan
pernah mendhalimi mereka.
Namun akhir-akhir ini pemimpin dalam arti sebagai pelayan
kurang ditonjolkan. Sehingga rakyat yang sebenarnya memegang posisi
paling tinggi malah direndahkan. Sementara para pemimpin justeru sibuk
memperkaya diri di atas penderitaan rakyatnya. Berbagai janji digelar
menjelang pemilihan umum, bahkan tidak sedikit yang secara diam-diam
membeli dukungan dengan harga yang tidak tanggung-tanggung.
Namun
begitu kepemimpinan diraih, janji hanya menjadi janji, dan rakyat terus
mengalami penderitaan. Sungguh tidak mungkin rakyat menemukan ketenangan di
bawah
naungan seorang pemimpin pembohong. Rakyat tidak membutuhkan
janji-janji palsu. Rakyat memilih karena mereka tulus menginginkan
kebaikan. Tetapi di manakah kini pemimpin yang benar-benar jujur.
Pemimpin yang takut kepada Allah, sehingga amanah yang dipikulnya
dilaksanakan secara maksimal.
Lihatlah Rasulullah sallallhu alaihi wa sallam,
ketika memimpin. Bagaimana ia telah berhasil membangun persaudaraan,
sehingga semua merasa aman di bawah kepemimpinannya. Belum pernah ada
cerita bahwa seorang Yahudi atau Nasrani didzalimi pada zamannya.
Bahkan yang sering kita dapatkan adalah kisah bagaimana Rasulullah sallallhu
alaihi wa sallam
selalu memberikan makan kepada seorang Yahudi yang buta, membela
hak-hak mereka, sepanjang mereka tidak melakukan pengkhianatan.
Bukan
hanya ini, Rasulullah sangat tegas menegakkan aturan. Diriwayatkan
bahwa beliau pernah bersabda: ”Law anna faatimata binti Muhammad
saraqat la qatha’tu Yadahaa (bila Fatimah putri Muhammad mencuri, maka
akan aku potong tangannya)”.
Contoh lain lagi tercermin pada kepemimpinan Abu Bakar Ash shiddiq radhiyallahu
anhu
yang penuh dengan ketegasan dalam menjaga agama. Sekecil apapun yang
merongrong agama, segera di atasi oleh Abu Bakar sedini mungkin. Itu
nampak ketika Abu Bakar memerangi orang-orang yang menolak zakat. Abu
Bakar berkata: ”Lauqaatilanna man yumayyizu bainash shalaati waz zakaati (akan
aku perangi orang-orang yang membedakan antara shalat dan zakat)”.
Abu Bakar memang secara fisik kurus, tidak segagah Umar
bin Khaththab, tetapi dari segi ketegasan dan keberanian dalam
mengambil keputusan, Abu Bakar lebih kuat. Tidak bisa dipungkiri bahwa
dalam menentukan arah orientasi kepemimpinan yang penuh dengan
tantangan internal maupun ekternal bangsa sangat dibutuhkan
kepemimpinan yang tegas dan berani seperti Abu Bakar.
Umar bin Khaththab hadir dalam kancah kepemimpinan Islam
dengan pola yang lain lagi. Diriwayatkan bahwa Umar, masih makan roti
kering dan memakai baju yang penuh tambalan, justeru di saat ia
mencapai puncak keemasan. Setiap malam Umar keliling dari rumah ke
rumah, membantu orang-orang yang lumpuh. Umar juga sempat membelikan
kebutuhan sehari-hari bagi para janda yang suaminya gugur di medan
tempur.
Dikisahkan bahwa suatu malam Umar keliling mengecek
kondisi rakyatnya. Dari jauh nampak ada sebuah lampu menyala. Begitu
Umar mendekatinya, terlihat seorang ibu sedang masak dan di sampingnya
anak-anak kecil sedang menangis. Ketika Umar bertanya, sang ibu
menjawab: ”Anakku sedang lapar, dan aku memasak batu, supaya anakku tenang.”
Mendengar
hal itu, Umar langsung mengambil bahan bakanan dan menggendongnya
sendiri dari Baitul Maal di malam itu juga. Bahkan Umar sendiri
langsung memasaknya.
Perhatikan betapa sampai sedetil ini Umar menyadari
hakikat tanggung jawab kepemimpinan. Selain itu, suatu hari Umar pernah
berkata: ”Lain nimtunnahaar dhayya’turra’iyyah wa lain nimtullail
dhayya’tu nafsii (bila aku tidur di siang hari, aku telah abaikan
rakyatku, dan bila aku tidur di malam hari aku telah abaikan diriku
sendiri)”.
Suatu ungkapan yang pantas dijadikan pedoman dan ditulis dengan tinta emas oleh
setiap pemimpin. Wallahu a’lam bishshwab.
Akses email lebih cepat. Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke
Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer