Semoga bermanfaat..:)


--- On Sun, 19/7/09, IReF <[email protected]> wrote:

From: IReF <[email protected]>
Subject: Fwd: [ipgss-iium] Roket RX-420 & CN-235 Militer: Getarkan Australia,  
Singapura, Malaysia
To: [email protected]
Date: Sunday, 19 July, 2009, 1:33 PM



---------- Forwarded message ----------
From: Muhammad Abduh <[email protected]>

Date: 2009/7/18
Subject: [ipgss-iium] Roket RX-420 & CN-235 Militer: Getarkan Australia, 
Singapura, Malaysia
To: indoatiium <[email protected]>, [email protected]















 




    
                  Roket RX-420 & CN-235 Militer:
Getarkan Australia, Singapura, Malaysia
Oleh Cardiyan HIS

 

Momentum ini harus dijaga terus dan ditingkatkan sebagai kebanggaan atas 
kemampuan teknologi sendiri. Jangan sampai karya insinyur Indonesia ini dijegal 
justru  oleh orang Indonesia sendiri (biasa) para ekonom-ekonom Pemerintah yang 
sering menganggap karya bangsa sendiri sebagai terlalu mahal dan hanya 
buang-buang uang saja untuk riset ....! Inilah musuh yang sebenarnya. 
Waspadailah  kawan-kawan insinyur Indonesia.



Meski sudah berlangsung 2 pekan yang lalu, peluncuran roket RX-420 Lapan 
ternyata masih jadi buah bibir. Anehnya bukan jadi buah bibir di Indonesia yang 
lebih senang ceritera Pilpres, tetapi di Australia, Singapura dan tentu saja di 
negara tetangga yang suka siksa TKI dan muter-muterin Ambalat yakni Malaysia.



Seperti diketahui roket RX-420 ini menggunakan propelan yang dapat memberikan 
daya dorong lebih besar sehingga mencapai 4 kali kecepatan suara. Hal itu 
membuat daya jelajahnya mencapai 100 km. Bahkan bisa mencapai 190 km bila 
struktur roket bisa dibuat lebih ringan. Yang punya nilai tambah tinggi ini 
adalah 100% hasil karya anak bangsa, para insinyur Indonesia. Begitu pula semua 
komponen roket-roket balistik dan kendali dikembangkan sendiri di dalam negeri, 
termasuk software. Hanya komponen subsistem mikroprosesor yang masih diimpor. 
Anggaran yang dikeluarkan untuk peluncurannya pun “cuma” Rp 1 milyar. Kalah 
jauh dengan yang dikorupsi para anggota DPR untuk traveller checks pemenangan 
Miranda Gultom sebagai Deputi Senior Gubernur BI yang lebih dari Rp. 50 milyar. 
Apalagi kalau dibandingkan dengan korupsi BLBI yang lebih dari Rp. 700 trilyun. 
 



Mengapa malah menjadi buah bibir di Australia, Singapura dan Malaysia? Karena 
keberhasilan peluncuran roket Indonesia ini ke depan akan membawa Indonesia 
mampu mendorong dan mengantarkan satelit Indonesia bernama Nano Satellite 
sejauh 3.600 km ke angkasa. Satelit Indonesia ini nanti akan berada pada 
ketinggian 300 km dan kecepatan 7,8 km per detik. Bila ini terlaksana Indonesia 
akan menjadi negara yang bisa menerbangkan satelit sendiri dengan produk buatan 
sendiri. Indonesia dengan demikian akan masuk member "Asian Satellite Club" 
bersama Cina, Korea Utara, India dan Iran.



Nah kekhawatiran Australia, Singapura dan Malaysia ini masuk akal, bukan? Kalau 
saja Indonesia mampu mendorong satelit sampai 3.600 km untuk keperluan damai 
atau keperluan macam-macam tergantung kesepakatan rakyat Indonesia. Maka 
otomatis pekerjaan ecek-ecek bagi Indonesia untuk mampu  meluncurkan roket 
sejauh 190 km untuk keperluan militer bakal sangat mengancam mereka sekarang 
ini pun juga!!! Kalau tempat peluncurannya ditempatkan di Batam atau Bintan, 
maka Singapura dan Malaysia Barat sudah gemetaran bakal kena roket Indonesia. 
Dan kalau ditempatkan di sepanjang perbatasan Kalimantan Indonesia dengan 
Malaysia Timur, maka si OKB Malaysia tak akan pernah berpikir ngerampok 
Ambalat. Akan hal Australia, mereka ada rasa takutnya juga. Bahwa mitos ada 
musuh dari utara yakni Indonesia itu memang bukan sekedar mitos tetapi sungguh 
ancaman nyata di masa depan dekat.



 
CN 235 Versi Militer
Rupanya Australia, Singapura dan Malaysia sudah lama “nyaho” kehebatan 
insinyur-insinyur Indonesia. Buktinya? Tidak hanya gentar dengan roket RX-420 
Lapan tetapi mereka sekarang sedang mencermati pengembangan lebih jauh dari 
CN235 versi Militer buatan PT. DI. Juga mencermati perkembangan PT. PAL yang 
sudah siap dan mampu membuat kapal selam asal dapat kepercayaan penuh dan 
dukungan dana dari pemerintah.



Kalau para ekonom Indonesia antek-antek World Bank dan IMF menyebut 
pesawat-pesawat buatan PT. DI ini terlalu mahal dan menyedot investasi terlalu 
banyak (“cuma” Rp. 30 trilun untuk infrastruktur total, SDM dan lain-lain) dan 
hanya jadi mainannya BJ Habibie. Tetapi mengapa Korea Selatan dan Turki 
mengaguminya setengah mati? Turki dan Korsel adalah pemakai setia CN 235 
terutama versi militer sebagai yang terbaik di kelasnya. Inovasi 40 
insinyur-insinyur Indonesia pada CN 235 versi militer ini adalah penambahan 
persenjataan lengkap seperti rudal dan teknologi radar yang dapat mendeteksi 
dan melumpuhkan kapal selam. Jadi kalau mengawal Ambalat cukup ditambah satu 
saja CN235 versi militer (disamping armada TNI AL dan pasukan Marinir yang ada) 
 untuk mengusir kapal selam dan kapal perang Malaysia lainnya.



Nah, jadi  musuh yang sebenarnya ada di Indonesia sendiri. Yakni watak orang 
Indonesia yang tidak mau melihat orang Indonesia sendiri berhasil. Karya 
insinyur-insinyur Indonesia yang hebat dalam membuat alutsista dibilangin orang 
Indonesia sendiri terutama para ekonom pro Amerika Serikat dan Eropa: “Mending 
beli langsung dari Amerika Serikat dan Eropa karena harganya lebih murah”. 
Mereka tidak berpikir jauh ke depan bagaimana Indonesia akan terus tergantung 
di bidang teknologi, Indonesia hanya akan menjadi konsumen teknologi dengan 
membayarnya sangat mahal terus menerus sampai kiamat tiba.



Kalau ada kekurangan yang terjadi dengan industri karya bangsa sendiri, harus 
dinilai lebih fair dan segera diperbaiki bersama-sama. Misalnya para ahli 
pemasaran atau sarjana-sarjana ekonomi harus diikutsertakan dalam team work. 
Sehingga insinyur-insinyur itu tidak hanya pinter produksi sebuah pesawat 
tetapi setidaknya tahu bagaimana menjual sebuah pesawat itu berbeda dengan 
menjual sebuah Honda Jazz. Kalau ada kendala dalam pengadaan Kredit Ekspor 
sebagai salah satu bentuk pembayaran, tolong dipecahkan dan didukung oleh dunia 
perbankan, agar jualan produk sendiri bisa optimal karena akan menarik bagi 
calon pembeli asing yang tak bisa bayar cash.    



    sumber: http://bennisurbakti.com/2009/07/17/259/

-- 
Muhamad Abduh 
PhD Candidate

Islamic Economics & Finance

International Islamic University Malaysia
+60163503502


 

      

    
    
        
        
        
        


        


        
        
        
        
        






      Get your new Email address!
Grab the Email name you&#39;ve always wanted before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke