Indonesia Korban, Bukan Sarang Teroris
oleh: Abdillah
Toha
Saya
berada di Geneva ketika musibah Mega Kuningan Jum’at lalu terjadi. Menghadiri
rapat IPU mempersiapkan pertemuan ketua DPR sedunia untuk tahun depan.
Sehari sebelumnya para delegasi mengucapkan selamat atas suksesnya demokrasi
dan
pemilu di negara terbesar keempat di dunia ini. Hari berikutnya, semua
menyampaikan belasungkawa. Inilah Indonesia. Satu hari kita dielu-elukan
sebagai
negara demokrasi terbesar ketiga di dunia yang stabil dan tumbuh secara pasti
menuju global leadership. Hari berikutnya kita digambarkan sebagai salah satu
sarang teroris di dunia.
Kita
dan seluruh dunia mengutuk tindakan biadab oleh segelintir orang ini. Tapi
cukupkah itu? Atau cukupkah kemudian kita menggunakan kekuatan represif dengan
atau tanpa senjata dimana-mana untuk membasmi terorisme? Ternyata tidak
atau belum cukup. Terorisme masih terus berjangkit di mana-mana.
Di
India, Pakistan, Srilanka, Rwanda, Filipina, Spanyol, Kongo, Mesir, London,
Irak, Serbia, Afghanistan, Lebanon, Thailand, Kashmir, Moskow, New York,
Oklahoma, Chechnya, Saudi Arabia, Jerman, Aljazair, Irlandia, China, Turki,
Indonesia dan banyak lagi. Di tempat-tempat ini terorisme pernah ada, sedang
terjadi, atau sebagian tampaknya masih akan terus berlanjut dengan modus dan
motivasi yg berbeda-beda. Bahkan di Palestina ada state terrorism. Terorisme
yang dilakukan secara resmi oleh sebuah negara
yang bernama Israel. Jadi, apa sebenarnya yang tidak beres di bumi manusia ini.
Beberapa diantaranya, menurut pandangan saya, adalah yang berikut ini.
Pertama,
adanya standar ganda dalam menyikapi berbagai gejolak dan fenomena di dunia.
Ada teroris (termasuk state terrorism) yg dibela karena dianggap membela
negara, ideologi atau keyakinannya, tapi ada kelompok tertindas di beberapa
negara yang berjuang utk kemerdekaan diberi label teroris, bahkan oleh PBB.
Pejuang kemerdekaan kita dahulu oleh penjajah Belanda juga mendapat julukan
ekstremis atau teroris.
Kedua,
adanya ketidak adilan global dan ketimpangan mencolok antara negara kaya dan
miskin, antara negara demokrasi dan otoriter, antara negara dengan militer yg
kuat dan yang lemah, antara negara nuklir lama, nuklir baru, dan non nuklir,
dan
yang utama antara kepentingan nasional masing-masing negara dan kepentingan
global bersama. Yang terakhir ini banyak contohnya ketika kita berbicara
mengenai masalah perubahan iklim, perdagangan dunia, pandemik dan
lainnya.
Ketiga,
lumpuhnya otoritas dunia seperti PBB yg berkali-kali gagal menjalankan misinya
karena ada kekuatan lebih besar yg menghalangi. Contoh terbaru adalah gagalnya
misi fact finding Dewan HAM PBB masuk
ke Gaza karena dihalangi oleh Israel yang menguasai pintu-pintu masuk ke Gaza.
Keempat,
adanya kecenderungan nasionalisme dan penguatan identitas etnik pasca perang
dingin. Bersamaan dengan runtuhnya blok Timur dan maraknya reformasi politik
dan
ekonomi menuju ke suasana demokratis yang lebih bebas, banyak kelompok-kelompok
etnis dan regional yang memanfaatkan peluang dan terdorong untuk memisahkan
diri
dari negeri induknya, sering kali dengan menggunakan kekerasan.
Kelima,
banyaknya negara-negara baru, terutama di Afrika dan sebagian Asia Tengah,
yang kemudian menjadi negara gagal (fail
state), negara tanpa hukum dan
tidak bertuan yang dikuasai oleh war lords, atau negara yang dirundung
konflik etnis dan agama tidak berkesudahan yang kemudian jadi ajang perebutan
kekuasaan antar kelompok elitnya.
Keenam,
hilangnya toleransi terhadap keyakinan, budaya, dan sistem yang berbeda-beda
antar negara karena alasan-alasan primordial yang tidak rasional serta karena
nafsu hegemonis dan kehendak menguasai sumber-sumber daya alam oleh
negara-negara yang merasa lebih kuat terhadap negara-negara yang alamnya kaya
tetapi pemerintahnya otoriter dan bergantung kepada sokongan kekuatan asing..
Di
negeri-negeri ini rakyatnya merasa dirugikan dan tidak mampu menyalurkan
keluhannya secara damai melalui saluran demokratis.
Ketujuh,
dan mungkin masih banyak akar maslah lain, adalah globalisasi yang dampak
negatifnya lebih dirasakan oleh negara miskin dan berkembang daripada sisi
positifnya. Proses pemiskinan yang dibarengi dengan kebodohan telah membawa
rasa
putus harapan sebagian warga dunia dan kemudian menciptakan peluang rekrutmen
bagi teroris-teroris baru.
Korban,
bukan sarang.
Di
forum-forum internasional, saya selalu mengatakan bahwa Indonesia adalah korban
terorisme, bukan sarang atau produsen teroris. Sebelum peristiwa 11 September
2001 dan tindakan militer Amerika sesudahnya sebagai “pembalasan”, Indonesia
tidak pernah mengalami serangan teroris “jenis baru” ini. Kita tertimpa
serangan teroris
bertubi-tubi sesudahnya. Yang terbesar adalah peristiwa tragis bom Bali tahun
2002 yang menewaskan 200 orang lebih, sebagian besar turis asing.
Dengan
memaparkan berbagai akar masalah internasional menyangkut terorisme tidak
berarti bahwa kita harus membebankan semua kesalahan diluar kita. Bukan pula
maksud kita untuk memahami kemudian menerima tindakan para teroris yang tidak
berperi kemanusiaan. Dengan alasan apapun membunuh manusia tidak bersalah tidak
dapat diterima. Namun demikian, yang ingin kita sampaikan adalah bahwa
tampaknya
terorisme masih akan berada ditengah-tengah kita dalam jangka waktu yang tidak
bisa ditentukan di masa datang bila kita tidak terus menjaga kewaspadaan.
Setelah hampir empat tahun merasakan “suksesnya” pembasmian terorisme, kita
kemudian sedikit lengah dan mendadak dikagetkan oleh peristiwa baru.
Kita
juga ingin menyampaikan bahwa cara berbagai negara memberantas terorisme belum
seluruhnya berhasil karena belum sepenuhnya menyentuh akar permasalahan.
Pendekatan represif dengan kekerasan diperlukan tetapi itu saja tidak cukup.
Perlu ditekankan bahwa terorisme adalah masalah global dan karenanya perlu
solusi global, antara lain dengan bersama membangun dunia yang lebih adil yang
terbebas dari kemiskinan serta ketidakadilan sosial dan politik.
Bagi
Indonesia, disamping memelihara terus kewaspadaan dan meningkatkan kemampuan
aparat keamanan dalam menjaga semua kemungkinan di dalam negeri, Indonesia
harus
pula meningkatkan peranan diplomasinya guna ikut mewujudkan dunia yang damai
dan
lebih adil, terutama di beberapa hot
spots pusat konflik dunia seperti di Timur tengah.
Peran serta seluruh anggota masyarakat dalam mendukung aparat kemanan perlu
pula dibangun secara sistematis tanpa harus menimbulkan saling curiga antar
warga negara yang dapat merugikan kita semua dan mengacaukan tujuan semula.
Jakarta,
20 Juli, 2009
Abdillah
Toha
Anggota
Komisi 1, DPR RI
Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi! Yahoo!
memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba!
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/