*Tajarrud*


*Defenisi*

*1.         Menurut Bahasa.*

Lafal “Al Juradah” artinya sesuatu yang dikelupas dari sesuatu yang lain.

Lafal “At-Tajrid” artinya melepaskan pakaian.

Lafal “At-Tajarrud” artinya bertelanjang.

Sedang Lafal “Tajarrud lil Amri” artinya bersungguh-sungguh pada suatu
urusan.

Secara lughawi tajarrud bermakna: mengosongkan, membersihkan, melepaskan,
atau menanggalkan.



*2.         Menurut Syariat*



Makna syar’i tajarrud adalah: membersihkan dan melepaskan diri dari segala
ikatan selain dari ikatan Allah dan segala keberpihakan selain kepada Allah.




Menurut Imam Hasan Al Banna : *“Engkau harus tulus pada fikrahmu dan
membersihkannya dari prinsip-prinsip lain serta pengaruh orang lain. Sebab
ia adalah setinggi-tinggi dan selengkap-lengkap fikrah”.*



Menurut Al-Fadhil Ustaz Fathi Yakan di dalam karangannya “Ma Za Ya’ni
Intima’ Lil Islam”
*“Tajarrud bermakna anda mestilah ikhlas terhadap fikrah yang anda dukung”.*



Menurut Mahfuz Sidik* tajarrud Adalah "totalitas dan kesinambungan amal
jihadi yang kita lakukan sehingga Allah meringankan dakwah ini, dan hingga
kita berjumpa dengan Nya kelak. Bagi kader yang sudah menikah, tajarrud
adalah melibatkan keluarga dalam dakwah dan jihad. Bukan meninggalkan
mereka, sehingga terabaikan hak-haknya”.*



KH. Hilmy Aminudin memaknai* **tajarrud sebagai ketulusan pengabdian kader
dakwah bukanlah meninggalkan semuanya untuk dakwah tetapi membawa semuanya
demi kejayaan dakwah**.*

 Jadi secara umum Tajarrud adalah : “ *Mengkhususkan diri untuk Allah swt
dan berlepas diri dari segala sesuatu selain Allah. Yakni menjadikan gerak
dan diam serta yang rahasia dan yang terang-terangan untuk Allah swt semata,
tidak tercampuri oleh keinginan jiwa, hawa nafsu, undang-undang, kedudukan,
dan kekuasaan”.*



*Pembahasan*

“*Dakwah ini tidak mengenal sikap ganda. Ia hanya mengenal satu sikap,
TOTALITAS!!! Siapa yang bersedia untuk itu, maka ia harus hidup bersama
dakwah, dan dakwah pun melebur dalam dirinya. Sebaliknya, barangsiapa yang
lemah dalam memikul amanah ini, ia terhalang dari pahala besar mujahid dan
tertinggal bersama orang-orang yang duduk. Lalu Alloh akan mengganti mereka
dengan generasi lain yang lebih baik dan lebih sanggup memikul beban dakwah
ini”.*

Menjadi prinsip umum yang kita fahami dalam aktifitas dakwah, bahwa apabila
kita telah memilih dakwah menjadi panglima dalam setiap gerak dan langkah
hidup kita, maka yang selanjutnya harus kita miliki dalam merentasi jalannya
adalah sikap hidup yang totalitas. Imam syahid telah menggariskan satu dari
prinsip dakwah ini dalam rukun bai’at yang sepuluh yang ia wakilkan dengan
kata tajarud.

Mencoba menyelami samudera hikmah dari prinsip ini, betapa Imam syahid
memiliki pemahaman terhadap jalan dakwah yang mulia ini. Bahwa di antara
beragam pilihan hidup dan warna-warninya, maka dakwah adalah satu di
antaranya yang dapat kita pilih. Terserah kepada kita, apakah kita
memilihnya, atau mencampakannya untuk beralih pada pilihan orientasi
aktifitas kehidupan yang lain. Pilihannya hanya ada dua dan tidak ada yang
ketiga. Masuk dan melebur secara totalitas di dalamnya, atau tinggalkan
semuanya. Tidak ada pilIhan untuk memilih di antara keduanya pada
sebagiannya saja. Untuk dakwah segini, untuk selainnya segitu, tidak
sekali-kali tidak.

Tajarrud menuntut kita untuk:

Pertama, membebaskan dari keterikatan dan loyalitas kepada selain Allah dan
pihak-pihak yang direkomendasikan oleh-Nya. Sebagaimana yang dicontohkan
para Nabi, di antaranya: Nabi Musa as. Yang ber-tajrrud dari Firaun. Ketika
Allah swt. memerintahkan Kepada Nabi Musa untuk mendakwahi Firaun, Firaun
menjawab, “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu
kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari
umurmu. (Q5. 26.-18). Tapi itu tidak menjadi penghalang bagi Nabi Musa untuk
tetap menyampaikan kebenaran dan mengajak Firaun untuk bertaubat dan beriman
kepada Allah. Karena loyalitas Nabi Musa bukanlah kepada Firaun. Nabi Musa
malah mengatakan, “Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah (disebabkan)
kamu telah memperbudak Bani Israil” (QS. 16:24). Sama sekali tidak ada
perasaan terikat.

Kedua, membebaskan diri dari segala pengaruh selain pengaruh shibghah
(celupan) Allah swt. Jadi tidak, cukup hanya bertajarrud dari orangnya tanpa
tajarrud dari ideologi, akhlak, pemikiran, pengaruh, dan rayuan-rayuannya. Apa
artinya kita membenci Zionis, kalau kita melestarikan perilaku-perilaku
Zionis dalam diri kita. Apa artinya kita membenci orang-orang yang
menghalang-halangi penerapan Syari’at Islam, sementara kita sendiri tidak
menunjukkan keseriusan untuk menjalankannya dalam kehidupan nyata. Hanya
dengan menerima sepenuhnya celupan Allah yang berupa aqidah, ibadah, akhlak
dan menolak segala celupan selain itu manusia benar-benar menjadi abdi
Allah. Firman-Nya:

"(Pegang teguhlah) celupan Allah. Dan siapakah lagi yang lebih baik
celupannya selain dari celupan Allah." (Al-Baqarah: 138)

Ketiga, mempersembahkan jiwa dan harta secara mudah hanya untuk Allah swt,
dan hanya dalam rangka mencari ridho-Nya. Rasulullah saw. bersabda:

"Allah telah menjamin bagi orang yang berjihad di jalan Allah, tidak ada
yang mendorongnya keluar dari rumah selian jihad di jalan-Nya dan
membenarkan kalimat-kalimat-Nya untuk memasukkannya ke surga atau
mengembalikannya ke tempat tinggal semula dengan membawa pahala atau
ghanimah." (Diriwayarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Keempat, tajarrud untuk dakwah ditandai dengan selalu menimbang segala
sesuatu dari sudut pandang kepentingan dakwah dan selalu mengarahkan segala
sesuatu untuk kepentingan dakwah. Jadi, makna tajarrud itu bukanlah
meninggalkan segala sesuatu dengan dalih dakwah. Melainkan justru melibatkan
segala sesuatu untuk mendukung dakwah. Adalah Rasulullah, da’i ideal itu.
Beliau adalah panutan dalam segala sisi kehidupan, termasuk dalam
kehidupannya dengan lingkungan sosial terkecil yakni keluarganya.

Ketika kita menyeru (mendakwahkan) Islam kepada manusia, kita menyeru
semata-mata hanya demi Allah swt. bukan untuk kelompok semata, organisasi
atau partai. Kita menginginkan umat untuk membawa pemikiran dan ide-ide
Islam. Kelompok hanya sebagai sarana bukan tujuan. Oleh karena itu kita
tidak seharusnya menyeru umat hanya demi kelompok yaitu dengan mengajak
mereka untuk bergabung dengan kelompok kita.

Ada kekeliruan persepsi mengenai makna totalitas dakwah (tajarrud) ini,
dimana kader dakwah harus meninggalkan semuanya untuk dakwah. Padahal
pengertian yang tepat adalah ketulusan pengabdian kader dakwah untuk membawa
semuanya demi kejayaan dakwah. Misalnya ketika kemampuan dan kecenderungan
seorang kader adalah analysis, synthesis, dan evaluasi bidang ekonomi, maka
kader tsb tidak diminta meninggalkan itu semua dan masuk fakultas syariah
sehingga bisa mengajarkan Islam. Tapi yang diinginkan adalah bagaimana
caranya agar kemampuan dan kecenderungan tsb dapat dimanfaatkan se-optimal
mungkin demi kejayaan dakwah.

kita gunakan semua yang kita miliki demi kejayaan dakwah. Anak, istri, harta
benda, pekerjaan, waktu dan tenaga yang kita miliki bukan penghalang dakwah
tapi justru bisa menjadi pendukung dakwah. Sehingga antara keluarga dan
dakwah, antara profesi dan dakwah tidak lagi saling dipertentangkan tetapi
saling mendukung.  (wallahu'alam)


- farizal
-- 
FARIZAL ALBONCELLI
Blog: http://farizal-alboncelli.blogspot.com/
FS: [email protected]
mobile: 021 950 42948

Kirim email ke