Malu-maluin ya miss indonesia bawa kampus UI, meskipun ana teman seangkatan gw 
gak setuju dengan zizi buat ikut-ikutan acara itu, oke lah ia memang smart 
meskipun gak cantik-cantik amat. ana tetap tidak mendukung siapapun putri 
bangsa ikutan miss universe. heran ya...?budaya barat pemerintah dan semua 
pihak mendukung dan memfasilitasi Miss Universe, sementara pengakuan 
batik,angklung, dan tari pendet pemerintah lambat merespons...ya gimana gak 
geram?

--- Pada Sab, 29/8/09, Farizal FoSSEI <[email protected]> menulis:

Dari: Farizal FoSSEI <[email protected]>
Judul: {FoSSEI} OOT: Antara”Miss Universe” dan ”Sapi Perah”
Kepada: [email protected]
Cc: [email protected], [email protected], 
[email protected], "ekonomi Syariah" 
<[email protected]>
Tanggal: Sabtu, 29 Agustus, 2009, 7:30 AM






 




    
                  Antara”Miss Universe” dan ”Sapi Perah”      
Oleh Adian Husaini

Menjelang bulan Suci Ramadhan 1430 Hijriah, media massa Indonesia banyak 
menyiarkan berita tentang prestasi yang diraih oleh Zivanna Letisha Siregar, 
anak Indonesia yang ikut dalam Kontes Ratu Kecantikan sejagad (Miss Universe) 
2009.  Hasil jajak pendapat di missuniverse. com pada Kamis (20/8/2009) 
menunjukkan, Zizi – panggilan Zivanna – menduduki peringkat ketiga, satu 
prestasi yang belum pernah diraih oleh putri Indonesia sebelumnya. Prestasi itu 
diraih karena banyaknya orang Indonesia yang mendukungnya lewat polling. Media 
massa pun gegap gempita mendukungnya. Banyak yang  secara terbuka bangga dan 
berharap, Zizi akan menang dalam kontes miss universe tersebut.


Menariknya, hampir tidak tampak lagi suara yang mempersoalkan keikutsertaan 
wakil Indonesia tersebut di pentas pemilihan Ratu sejagad. Nyaris tak terdengar 
suara MUI, Departemen Agama, NU, Muhammadiyah, dan sebagainya. Seolah-olah 
kehadiran Zizi di pentas kecantikan internasional itu memang sudah direstui 
oleh bangsa Indonesia. Padahal, dalam kontes tersebut,  Zizi menampilkan 
pakaian bikini yang pada tahun-tahun sebelumnya selalu mengundang kontroversi. 
Begitu kuatnya arus global informasi tersebut, sehingga mampu menyekat 
suara-suara yang berbeda. Semua seperti digiring untuk bungkam. Seolah-olah 
banyak yang sudah tahu akan resiko yang dihadapi jika berani mempersoalkan 
hal-hal seperti ini maka akan dengan mudah dikecam sebagai manusia yang sok 
moralis, menghambat kebebasan berekspresi, kaum radikal dan sebagainya.


Mungkin, sadar akan kekuatan besar seperti itulah, maka banyak yang memilih 
diam, atau enggan berkomentar. Semua seperti sadar, bahwa sekarang adalah zaman 
kebebasan. Ini zaman liberal. Semua serba boleh. Maksiat atau tidak maksiat 
tidak peduli lagi. Yang penting seru! Yang penting enak ditonton! Yang penting 
menghibur! Yang penting menghasilkan uang! Persetan dengan semua nilai moral 
atau agama!  


Padahal, diukur dari sudut pandang Islam, jelas keikutsertaan dalam kontes 
kecantikan seperti kontes Miss Universe adalah perbuatan haram. Itu jelas dosa! 
Itulah kemungkaran yang sangat nyata; mengumbar aurat di muka umum. Mungkin 
Zizi dan para pendukungnya berpikir, bahwa tubuh yang dimilikinya adalah 
miliknya sendiri, dan dia merasa seratus persen berhak untuk menggunakannya 
untuk tujuan apa saja sesuai kehendaknya. Tidak ada urusan dengan aturan Allah 
SWT. Mungkin, mereka juga berpikir, bahwa toh, tindakan itu tidak merugikan 
orang lain! Tidak mengganggu lain. Apa salahnya!


 Salah satu media internet yang mengkritik keras keikutsertaan putri Indonesia 
dalam ajang Miss Universe 2009 itu adalah www.voa-islam. com. Situs ini secara 
tegas mengkritik kontes tersebut: ”Beginikah kiblat kemajuan sebuah peradaban 
dimana wanitanya harus berani meludahi ajaran para Nabi, terutama Nabi Muhammad 
Saw? Beginikah simbol sebuah kemajuan peradaban dimana wanitanya akan dihormati 
manakala berani membuka dada dan paha? Ataukah beginikah standar kecantikan 
wanita manakala layak tubuhnya dijadikan simbol penglaris dagangan saja?


Dalam suasana gegap gempitanya paham kebebasan dan – meminjam istilah Taufik 
Ismail --  ”Gerakan Syahwat Merdeka”  di Indonesia, memang suara-suara yang 
menyerukan agar manusia Indonesia menjadi manusia-manusia yang lebih adil dan 
beradab menjadi tenggelam.  Padahal, ada al-Quran sudah mengajak perempuan 
untuk menutup auratnya: "Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: 
Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah 
mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan 
hendaklah mereka menutupkan kerudungnya ke dadanya" (QS An-Nur:31).


Nabi Muhammad saw juga pernah bersabda: "Ada dua golongan penghuni neraka yang 
aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk 
yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain,  dan wanita-wanita yang 
berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang 
bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. 
Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian." 
(HR. Muslim)


Betapa pun, Zizi adalah Muslimah. Bahkan, konon, ia adalah lulusan sebuah SMU 
Islam di Jakarta. Yang harus dilakukan jika seorang Muslim/muslimah ketika 
melakukan tindakan dosa adalah bertobat. Bukan malah bangga dengan tindakannya 
dan mengajak orang lain untuk mengikuti tindakan dosanya. Apakah Zizi, kedua 
orang tua, dan pendukungnya yang Muslim  tidak tahu bahwa tindakan mengumbar 
aurat seperti itu adalah tindakan dosa?  Sebagai sesama Muslim, kita WAJIB 
mengimbau dan menasehatinya. Kita tidak bertanggung jawab atas tindakannya. 
Masing-masing kita akan bertanggung jawab atas tindakan kita sendiri di hadapan 
Allah.

    
Sapi perah
   
Jika Zizi dan para pendukungnya enggan mendengar pendapat yang masih berbau 
agama, ada baiknya juga disimak pendapat Dr. Daoed Joesoef,  seorang 
cendekiawan yang dalam sejarah Indonesia dikenal sebagai tokoh sekular. Daoed 
Joesoef pernah menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) selama satu 
periode (1977-1982).  Semasa hidupnya, Daoed Joesoef dikenal dengan 
pemikirannya yang sekular.


Pemikirannya yang sekular telah banyak mengundang kritik dari para tokoh Islam. 
Tetapi, ada satu sisi pemikirannya yang sejalan dengan tokoh-tokoh Islam di 
Indonesia, yaitu kritik-kritiknya yang keras dan tajam terhadap keberadaan 
kontes ratu-ratuan.  Daoed Joesoef adalah doktor lulusan Sorbonne Perancis 
(1972) dan Ketua Dewan Direktur CSIS (1972-1998). Ia juga pernah menjadi 
anggota pengurus organisasi ”Angkatan Seni Rupa Indonesia” di Medan (1946), dan 
Ketua cabang Yogyakarta untuk organisasi ”Seniman Indonesia Muda” (1946-1947).


Betapa sekularnya pemikiran Daoed Joesoef bisa disimak dari sikapnya yang tidak 
mau mengucapkan salam Islam saat menjabat Menteri P&K. Dalam memoarnya yang 
terbit tahun 2006 berjudul ”Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran”, Daoed 
Joesoef  memberikan alasan: ”Aku katakan, bahwa aku berpidato sebagai Menteri 
dari Negara Republik Indonesia yang adalah Negara Kebangsaan yang serba 
majemuk, multikultural, multiagama dan kepercayaan, multi suku dan asal-usul, 
dan lain-lain, bukan Negara Agama dan pasti bukan Negara Islam.”  


Tentu saja, jika diukur pada tataran sekarang, pandangan dan sikap Daoed 
Joesoef semacam itu tampak ganjil. Tetapi, tidak semua pendapat Daoed Joesoef 
perlu ditolak. Ada pendapatnya yang sangat menarik untuk disimak dan 
direnungkan. Sebagai cendekiawan, pandangannya terhadap berbagai jenis kontes 
ratu kecantikan, bisa dikatakan sangat tajam dan mendasar. Saat menjadi Menteri 
P&K pula, Daoed Joesoef menyatakan secara terbuka penolakannya terhadap segala 
jenis pemilihan miss dan ratu kecantikan. Ketika itu memang sedang 
marak-maraknya promosi aneka ragam miss, ada Miss Kacamata Rayban, Miss Jengki, 
Miss Fiat, Miss Pantai, disamping pemilihan ratu ayu daerah, ratu ayu Indonesia 
yang langsung dikaitkan dengan berbagai jenis keratuan internasional. Dan 
semuanya, tulis Daoed Joesoef, ”menyatakan demi manfaat dan kegunaan 
(pariwisata) serta keharuman nama dan martabat Indonesia.”


Apa kata Daoed Joesoef tentang semua jenis ratu-ratuan tersebut? ”Pemilihan 
ratu-ratuan seperti yang dilakukan sampai sekarang adalah suatu penipuan, 
disamping pelecehan terhadap hakikat keperempuanan dari makhluk (manusia) 
perempuan. Tujuan kegiatan ini adalah tak lain dari meraup keuntungan 
berbisnis, bisnis tertentu; perusahaan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, 
salon kecantikan, dengan mengeksploitasi kecantikan yang sekaligus merupakan 
kelemahan perempuan, insting primitif dan nafsu elementer laki-laki dan 
kebutuhan akan uang untuk bisa hidup mewah. Sebagai ekonom aku tidak a priori  
anti kegiatan bisnis. Adalah normal mencari keuntungan dalam berbisnis, namun 
bisnis tidak boleh mengenyampingkan begitu saja etika. Janganlah menutup-nutupi 
target keuntungan bisnis itu dengan dalih muluk-muluk, sampai-sampai 
mengatasnamakan bangsa dan negara,” tulis Daoed Joesoef.


Menurut mantan dosen FE-UI ini, wanita yang terjebak ke dalam kontes 
ratu-ratuan, tidak menyadari dirinya telah terlena, terbius, tidak menyadari 
bahaya yang mengancam dirinya. Itu ibarat perokok atau pemadat yang melupakan 
begitu saja nikotin atau candu yang jelas merusak kesehatannya. Lebih jauh, 
Daoed Joesoef menyampaikan kritik pedasnya: ”Pendek kata kalau di zaman dahulu 
para penguasa (raja) saling mengirim hadiah berupa perempuan, zaman sekarang 
pebisnis yang berkedok lembaga kecantikan, dengan dukungan pemerintah dan restu 
publik, mengirim perempuan pilihan untuk turut ”meramaikan” pesta kecantikan 
perempuan di forum internasional.”


Dari 900 halaman lebih memoarnya tersebut, Daoed Joesoef memberikan porsi cukup 
panjang (hal. 649-657) untuk menguraikan buruknya praktik-praktik ratu-ratuan 
bagi perempuan itu sendiri. Perempuan tentu boleh tampil cantik. Tapi, Daoed 
Joesoef mengingatkan tiga hal. Pertama, jangan ia diumbar, dibiarkan untuk 
dieksploitasi seenaknya oleh orang/pihak lain hingga membahayakan dirinya 
sendiri. Kedua, jangan memupuknya secara berlebihan, karena bagaimana pun 
kecantikan itu hanya setebal kulit. Ketiga, kecantikan yang dipupuk dan lalu 
dijadikan standar personalitas perempuan berpotensi menjadi liang kubur  
perempuan yang bersangkutan.  Bila kecantikan itu redup, karena hanya setebal 
kulit, berarti perempuan itu tidak dapat lagi memenuhi standar yang telah 
dipatoknya sendiri. Orang lain, termasuk suaminya, akan membelakanginya, lalu 
berpaling ke perempuan cantik lain.

Semasa belajar di Paris, Daoed Joesoef mengaku pernah membaca sebuah kasus 
seorang guru matematika dipecat oleh Menteri Pendidikan Nasional Perancis, 
gara-gara guru tersebut mengikuti kontes ratu kecantikan daerah yang merupakan 
awal dari pemilihan ratu kecantikan nasional. Ketika itu tidak ada media yang 
membelanya, karena publik mengangga kegiatan seperti itu tidak pantas dilakukan 
seorang guru. Karena itu, menurutnya, jika ada pendidik yang membela kegiatan 
pemilihan ratu ayu, pantas sekali dipertanyakan bagaimana keadaan nuraninya.


”Apa kata inteleknya tidak perlu dipersoalkan, karena sekarang ini 
keintelektualan bisa disewa per hari, per minggu, per bulan, per tahun, bahkan 
permanen, dengan honor yang lumayan. Artinya, even seorang intelek bisa saja 
melacurkan kemurnian inteleknya karena nurani sudah diredam oleh uang,” tulis 
Daoed Joesoef.  


Daoed Joesoef  menolak argumentasi bahwa kontes kecantikan juga menonjolkan 
sisi-sisi intelektual perempuan dan banyak pesertanya yang mahasiswi. Juga ia 
menolak alasan, bahwa penggunaan pakaian renang dalam kontes semacam itu adalah 
hal yang biasa.  ”Namun tampil berbaju renang melenggang di catwalk, ini soal 
yang berbeda. Gadis itu bukan untuk mandi, tapi disiapkan, didandani, dengan 
sengaja, supaya enak ditonton, bisa dinikmati penonjolan bagian tubuh 
keperempuanannya, yang biasanya tidak diobral untuk setiap orang,” tulis Daoed 
Joesoef lebih jauh.


Bahkan, Daoed Joesoef menyamakan peserta kontes kecantikan itu sama dengan sapi 
perah: ”setelah dibersihkan lalu diukur badan termasuk buah dada (badan)nya dan 
kemudian diperas susunya untuk dijual, tanpa menyadari bahwa dia sebenarnya 
sudah dimanfaatkan, dijadikan sapi perah. Untuk kepentingan dan keuntungan 
siapa?”  


Terhadap orang yang menyatakan, bahwa yang dinilai dalam kontes kecantikan 
bukan hanya kecantikannya, tetapi juga otaknya, sikapnya, dan keberaniannya, 
Daoed Joesoef  menyatakan, bahwa semua itu hanya embel-embel  guna menutupi 
kriterium kecantikan yang tetap diunggulkan. ”Percayalah, tidak akan ada gadis 
sumbing yang akan terpilih menjadi ratu betapa pun tinggi IQ-nya, terpuji 
sikapnya atau keberaniannya yang mengagumkan,” tulisnya.


Terhadap alasan kegunaan kontes ratu kecantikan untuk promosi wisata dan 
penarikan devisa, Daoed Joesoef menyebutnya sebagai wishful thinking belaka, 
untuk menarik simpati masyarakat dan dukungan pemerintah. Kalau keamanan 
terjamin, jaringan transpor bisa diandalkan, sistem komunikasi lancar, bisa on 
time, pelayanan hotel prima, maka keindahan alam Indonesia saja cukup bisa 
menarik wisatawan.

Lalu, apa jalan keluarnya? ”Stop all those nonsense! Hentikan semua kegiatan 
pemilihan ratu kecantikan yang jelas mengeksploitasi perempuan dan pasti 
merendahkan martabatnya!” seru Daoed Joesoef. “Namun,”  lanjutnya, “kalau 
perempuan sendiri bergairah melakukan perbuatan yang tercela itu karena 
kepentingan materi sesaat tanpa mempedulikan masa depan anak-anak, ya mau 
bilang apa lagi!”.  

Meskipun kita tidak sependapat dengan banyak pemikiran sekular Daoed Joesoef, 
tetapi pandangannya tentang ratu-ratuan ini patut kita acungi jempol. Kini, di 
tengah-tengah semakin menguatnya hegemoni liberalisme nilai-nilai moral dan 
menghunjamnya paham materialisme, pendapat jernih Daoed Joesoef dalam soal 
peran dan kedudukan perempuaan perlu diperhatikan, khususnya bagi pejabat dan 
pemuka masyarakat. Secara terbuka Daoed Joesoef mengimbau:


“Kalaupun gadis-gadis kita yang cantik jelita lagi terpelajar, cerdas dan 
terampil serta berbudi pekerti terpuji dan berani,masih berhasrat menyalurkan 
energinya yang menggebu-gebu ke kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi 
kehidupan bermasyarakaat, berbangsa dan bernegara, siapkanlah diri mereka agar 
menjadi IBU yang ideal, memenuhi perempuan yang sebenarnya dalam keluarga, 
perannya yang paling alami, jadi bukan peran  sembarangan, karena mendidik 
makhluk ciptaan Tuhan yang dipercayakan oleh Tuhan kepadanya.  Jangan anggap 
bahwa mengasuh, membesarkan dan mendidik anak secara benar bukan suatu 
pekerjaan yang terhormat. Pekerjaan ini memang tidak menghasilkan uang, pasti 
tidak membuahkan popularitas, tentu tidak akan ditampilkan oleh media massa 
dengan penuh kemegahan, tetapi ia pasti mengandung suatu misi yang suci…”

.
Demikianlah, sebuah contoh pemikiran yang jernih tentang kedudukan dan martabat 
perempuan. Mudah-mudahan masih ada petinggi negara dan elite masyarakat yang 
mendukung pemikiran semacam ini, dan kemudian berani melakukan tindakan untuk 
menegakkan kebenaran, meskipun resikonya, dia bisa jadi tidak akan populer. 
(Depok, 20 Agustus 2009).


-- 
FARIZAL ALBONCELLI
Blog: http://farizal- alboncelli. blogspot. com/
FS: [email protected]

mobile: 021 950 42948


 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang 
Lebih Cepat hari ini! http://id.mail.yahoo.com

Kirim email ke