yah... itu khan setahu Mas Ekonomi2000feua.... berarti mas harus cari tahu
lebih banyak lagi...


Pada 17 September 2009 18:50, <[email protected]> menulis:

>
>
> Setahu saya belum ada media yg mengkonfirmasi keberadaan kantor dagang
> Israel di Jkt. Berita keberadaan kntr dgg Israel msh bersumber dr situs
> Israel sendiri.
>
> Pihak2 terkait dr pmrnth jg sdh mengkonfirmasi tdk adanya kntr dgg Israel
> di Indonesia.
>
> Eramuslim setahu saya jg belum mengkonfirmasi secara langsung ke pihak
> Israel ttg keberadaan kantor dgg mereka.
>
> CMIIW
>
> Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
> Teruuusss...!
> ------------------------------
> *From: * Farizal FoSSEI <[email protected]>
> *Date: *Thu, 17 Sep 2009 10:35:21 +0700
> *To: *<[email protected]>; <[email protected]>
> *Subject: *{FoSSEI} Penghapusan Pembukaan UUD '45?
>
>
>
> Eramuslim Senin, 07/09/2009 10:33 WIB
>
> Elit Indonesia, nampaknya, lebih mengikuti pemikiran seorang ekonom dua
> abad lalu daripada tujuan pendirian negara ini.
>
> David Ricardo, 1817, berbicara tentang keuntungan perdagangan melalui
> comparative advantage pada Principles of Political Economy and Taxation.
> Sementara Panitia Sembilan berbicara tentang tujuan pendirian Negara
> Indonesia pada Pembukaan UUD 1945.
>
> Ricardo, seorang ekonom dan broker saham, mengadvokasi perdagangan atas
> manfaat efisiensi produksi dan penambahan konsumsi. Sedangkan Panitia
> Sembilan –Soekarno, Hatta, dan kawan kawan- mengadvokasi penghapusan
> penjajahan di atas dunia. Mereka menyatakan, lalu menjadi sebuah konstitusi,
> bahwa merdeka adalah hak segala bangsa dan penjajahan tidak adil serta tidak
> manusiawi.
>
> Tapi, sebulan lalu, tanpa ribut-ribut dari elit republik ini, Indonesia toh
> membuka diri terhadap delegasi Israel untuk bisnis dan perdagangan. Dan
> dengan itu kita, secara tidak resmi, telah menyatakan lupa, dan mungkin
> maklum, terhadap kebiadaban Operasi Cast Lead pada awal tahun ini.
>
> Memang, Israel adalah sebuah negara unggul -dalam bidang IT, komunikasi,
> dan pertanian- yang layak berdagang dengan Indonesia. Perdagangan antar dua
> negara, menurut comparative advantage, akan menghasilkan efisiensi produksi
> sehingga rakyat dua negara dapat mengkonsumsi lebih banyak. Pada akhirnya,
> apakah  mungkin, berkat hubungan dagang dengan Israel, Indonesia akan lebih
> makmur dan sejahtera? Dan, sebagai contoh Mesir telah membuka hubungan
> bilateral dengan Israel, dan melakukan kerjasama diberbagai bidang, termasuk
> dibidang pertanian. Apakah Mesir sekarang menjadi negara yang lebih makmur?
>
> Namun, dalam Principles of Political Economy, Ricardo hanya seorang ekonom
> positif yang berbicara mengenai pengungkapan sebuah fenomena: manfaat
> hubungan dagang antar negara normal. Ia, seperti seorang ilmuwan yang
> berbicara tentang bunyi, mengungkapkan proses terjadinya bunyi tanpa
> berbicara bagaimana seharusnya bunyi yang baik bisa terjadi dan terdengar.
>
> Dan Israel, bukanlah sebuah bunyi yang baik. Pemerintahannya -yang keji-
> belum, dan entah kapan, berlaku baik terhadap negara jajahannya. Tepi Barat,
> sebuah daerah lemah, ditutup oleh 130 km tembok pembatas ilegal, dan Gaza
> dihancurkan oleh sebuah operasi militer era modern. Pemerintah Israel, yang
> tuli terhadap protes kemanusiaan, adalah sebuah perintah yang, selama 22
> hari operasi Cast Lead, membunuh 1409 orang, di mana 83 persen-nya adalah
> korban sipil.
>
> Sementara Indonesia, setidaknya 64 tahun lalu, adalah sebuah cita-cita
> luhur. Mereka, di alinea pertama pembukaan konstitusinya, berbicara tentang
> kemerdekaan dan penghapusan penjajahan. Seperti seorang komponis, Indonesia
> 64 tahun lalu berbicara tentang penyusunan bunyi yang baik: bagaimana
> seharusnya hubungan luar negeri, ketertiban dunia, harus terjadi.
>
> Indonesia, memang, berbicara juga tentang kemajuan kesejahteraan umum,
> namun, pada konteks yang berbeda. Kesejahteraan umum dalam konstitusi adalah
> kesejahteraan rakyat kecil -konteks 1945- yang belum mampu untuk makan tiga
> kali dalam sehari. Bukan kesejahteraan umum untuk penambahan konsumsi agar
> lebih banyak, yang tidak jelas untuk apa, selain obesitas. Dan bukan
> kesejahteraan umum, hasil perdagangan luar negeri, yang dibangun dari darah
> rakyat negara lain.
>
> Namun, pada saat-saat ini, Indonesia telah mengabaikan cita-cita luhur itu.
> Efisiensi produksi dan penambahan konsumsi, jauh lebih penting daripada
> tujuan sesungguhnya negara ini didirikan. Perdagangan dan kerjasama dengan
> Thailand, misalnya, menjadi jauh lebih penting dari soal kemanusiaan dalam
> konstitusi. Indonesia, lalu memilih diam terhadap kekejian pelarungan
> ratusan Muslim Rohingya ke laut.
>
> Hal serupa dengan Cina, di mana pemberian kredit dan lakunya ekspor migas
> merupakan hal yang lebih penting dari konstitusi negeri. Penindasan Muslim
> Uighur lantas menjadi soal dalam negeri Cina, yang tidak usah diusik-usik,
> bukan soal keadilan sosial seperti dalam konstitusi.
>
> Solidaritas Asia, 60 tahun lalu, rasanya, tidak dengan mudah berulang. Saat
> itu, 19 negara Asia sangat konsisten mendukung kemerdekaan Indonesia dan
> menjadi pengecam keras Agresi Belanda II. Pembukaan hubungan dagang dengan
> Belanda, pada saat itu, mungkin akan menjadi sebuah pengkhianatan tak
> terlupakan. Dan sejarah mencatat, negara ini berhutang budi, sangat banyak,
> terhadap solidaritas seperti itu.
>
> Namun memang, seperti kata Ketua Kadin, perdagangan dengan Israel -apabila
> benar terjadi- dapat menguntungkan Indonesia. Keunggulan mereka di bidang
> IT, komunikasi, dan teknologi pertanian -seperti hanya mereka yang memiliki
> keunggulan tersebut- bisa membuat rakyat Indonesia lebih makmur dan
> sejahtera.
>
> Dan kemakmuran itu, dibangun di atas legitimasi pembunuhan 1409 orang,
> dalam sebuah operasi selama 22 hari. Kesejahteraan, yang dibangun di atas
> pemakluman terbunuhnya 111 perempuan dan 355 anak-anak.
>
> Maka, sebuah keniscayaan. Kesejahteraan yang dibangun dengan pengabaian
> prinsip dasar, dapat dipastikan, selalu dibangun di atas legitimasi
> pencabutan hak hidup orang lain.
>
> Dan kita tahu, itu bukan hanya soal dagang luar negeri, tapi, bisa juga
> soal cara sebuah partai politik membangun kekuatannya. Seperti
> kesejahteraan, dengan pengabaian prinsip keadilan dan kebenaran.
>
> *Rizki A.Hakim (Alumni Dept FE UI) - [email protected]*
>
>
> --
> FARIZAL ALBONCELLI
> Blog: http://farizal-alboncelli.blogspot.com/
> FS: [email protected]
> mobile: 021 950 42948
>   
>



-- 
FARIZAL ALBONCELLI
Blog: http://farizal-alboncelli.blogspot.com/
FS: [email protected]
mobile: 021 950 42948

Kirim email ke