Ketika setan menjanjikan Anda kemiskinan dan menyuruh berbuat “fahsyah”,
Allah menjanjikan Anda ampunan dan karunia.

Terdapat beberapa riwayat terkait sebab turun ayat ini. Sebagi mukaddimah,
tidak masalah kita sebutkan di sini, dengan tujuan untuk menghadirkan
hakikat kehidupan yang dihadapi Al-Qur’an (saat ia diturunkan) dan hakikat
upaya yang diberikannnya untuk mendidik jiwa dan mengangkat derajatnya ke
posisi yang sebenarnya.

Ibnu Jarir meriwayatkan – dengan sanadnya – dari Al-Barrok bin ‘Azib –
radhiyallahu ‘anhu – dia berkata : Ayat ini diturunkan pada kaum Anshar
ketika penebangan pohon kurma (semacam peremajaan) mereka menyisihkan buah
kurma yang belum matang dan menggantungkannya dengan tali yang diikatkan di
antara dua tiang di Masjid Nabawi. Maka orang Muhajirin yang miskin
memakannya. Seorang di antara mereka sengaja memberikan yang buruk dan
dimasukkan (digantungkan) di ujung tongkat karena menduga hal tesebut tidak
masalah. Maka Allah menurunkan pada yang melakukannya “Dan janganlah kamu
memilih yang buruk-buruk lalu kamu infak-kan dari padanya, …”.

Demikian pula seperti yang diriwayatkan Al-Hakim dari Al-Bbarrok dan dia
berkata : Hadits tersebut shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Musli,
kendati mereka tidak mentakhrijnya.

Ibnu Hatim meriwayatkan – dengan sanadnya dari sumber lain – dari Al-Bbarrok
ra dia berkata : Ayat itu turun pada kami. Kami adalah para pemilik kebun
kurma. Ada seorang yang membawa kurma berdasarkan banyak atau sedikit
(panen). Lalu seseorang datag membawa kurma simpanannya dan
menggantungkannya di Masjid Nabawi. Ahlu Shuffah (beberapa sahabat miskin
yang tinggal di Masjid Nabawi) tidak memiliki makanan. Salah seorang di
antara mereka saat lapar memukul (kuram yang digantung itu) dengan
tongkatnya, lalu jatuhlah buah kurma yang belum matang dan yang sudah
matang. Iapun memakannya. Orang-orang yang tidak menyukai kebaikan datang
membawa buah kurma yang rusak, buah ujung dan yang belum matang lalu
digantungkan (di Masjid Nabawi), maka turunlah ayat “Dan janganlah kamu
memilih yang buruk-buruk lalu kamu infak-kan dari padanya, padahal kamu
sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata
terhadapnya”. Dia berkata : jika di antara kamu dihadiahkan seperti apa yang
dia berikan, niscaya dia tidak akan mengambilnya kecuali sambil memejamkan
mata dan karena malu. Maka setelah itu kami datang dengan membawa kurma yang
baik yang kami miliki.

Dua riwayat tersebut mirip redaksinya. Keduanya mengisyaratkan situasi,
kondisi dan realitas di Madinah saat itu. Juga memperlihatkan pada kita
lembaran yang bertentangan yang pernah dilukiskan kaum Anshar dalam sejarah
pengorbanan, kemurahan hati dan pemberian yang melimpah. Bagaimana ayat
tersebut memperlihatkan pada kita bahwa dalam satu jamaah terdapat contoh
ajaib yang tinggi, sedangkan contoh yang lain adalah yang membutuhkan
tarbiyah, perbaikan, dan arahan agar dapat menuju kesempurnaan. Sebagaimana
sebagian kaum Anshar membutuhkan larangan bagi kesengajaan memberikan harta
mereka yang buruk yang mana mereka sendiri terkadang tidak mau menerimanya
dalam bentuk hadiah kecuali karena malu menolaknya dan tidak pula terjadi
dalam transaksi bisnis kecuali dengan memejamkan mata. Artinya, sebuah
kekurangan dalam value (nilai), padahal mereka persembahkan untuk Allah.

Sebab itu, datang komentar Allah “ Ketahuilah sesunggugnya Allah Maha Kaya
lagi Terpuji”. Maha Kaya… Mutlak tidak butuh pemberian manusia. Jika mereka
meberikan sesuatu, maka pemberian itu untuk diri mereka sendiri. Maka
berikanlah yang terbaik dan juga dengan keikhlasan hati. Maha Terpuji….
Menerima yang baik-baik dan memujinya serta membalasnya dengan kebaikan
(syurga).

Setiap dari dua karakter tersebut sangat menggugah hati kita, sebagaimana
menggugah hati para kaum Anshar itu. “Wahai orang-orang beriman! Infakkanlah
yang baik-baik dari hartamu”. Kalu tidak, Allah tidak butuh pada harta buruk
yang diinfakkan itu. Sedangkan Dia hanya menerima dan memuji kalian jika
memberikan yang baik-baik sebagai balasan bagi yang ridha dan bersyukur.
Karena Allah adalah Pemberi rezki. Dia membalas pemberian kalian dengan
balasan terpuji, sedangkan harta yang kalian berikan itu adalah
pemberian-Nya juga sebelumnya. Inspirasi macam apa gerangan? Motivasi macam
apa gerangan dan tarbiayah hati macam apa gerangan yang erdapat dalam metode
yang amat dahsyat ini?

Manakala tidak mau berinfak atau memebrikan yang buruk dan jelek sesunguhnya
menunjukkan motivasi yang buruk dan keyakinan terhadap apa yang ada di sisi
Allah yang terganggu. Juga ketakutan pada kemiskinan yang tidak mungkin
dimiliki jiwa yang terhubung dengan Allah, bergantung pada-Nya dan menyadari
semua yang ada pada dirinya akan kembali kepada Allah. Allah membuka
faktor-faktor pendorong tersebut bagi orang-orang beriman agar terlihat
nyata dan agar mereka mengetahui dari mana tumbuhnya nafsu dan apa saja yang
mempengaruhi hati… Itulah setan. “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu
dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah
menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia . Dan Allah Maha Luas
(karunia-Nya) lagi Maha mengetahui. Allah menganugrahkan Al Hikmah
(kefahaman yang dalam tentang Alquran dan Sunnah) kepada siapa yang Dia
kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi Al Hikmah itu, ia benar-benar
telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah
yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”.

Setan menakut-nakuti kamu akan kefakiran. Itulah faktor yang mempengaruhi
jiwamu untuk tamak, kikir dan kompetisi tidak sehat. Setan juga menyuruh
kamu berbuat fahsyak (keji). “Fahsyak” adalah setiap maksiat. Artinya,
melampaui batas. Kendati kata “fahsyak” mendominasi makna makasiat tertentu,
akan tetapi kata tersebut juga mencakup semua bentuk maksiat. Ketakutan
fakir / miskin di kalangan kaum Jahiliyah sehingga mereka menguburkan
anak-anak wanita hidup-hidup juga diesebut “fahsyak”. Rakus dalam
mengumpulkan harta sehingga mendorong melakukan tarnsasksi riba, juga
disebut “fahsyak”. Sesungguhnya takut miskin disebabkan infak fi sabilillah
juga termasuk “fahsya”.

Ketika setan menjanjikan Anda kemiskinan dan menyuruh berbuat “fahsyak”,
Allah menjanjikan Anda ampunan dan karunia. “Allah menjanjikan kamu ampunan
dan karunia”. Didahulukan “ampunan” dan diakhirkan “ karunia”, karena
karunia itu sebagai tambahan di atas “ampunan”. Termasuk juga pemebrian
rezki di bumi ini, sebagai balasan pengorbanan di jalan Allah. “ Allah Maha
Luas (karunia) dan Maha Mengetahui”. Dia memberi kelapanagan (rezki) dan
mengetahui apa yang menjadi was-was (bisikan) dalam dada manusia dan apa
yang terbetik dalam hati.

Allah idak hanya memberikan harta dan tidak ahanya ampunan. Akan tetapi
memberikan “hikmah”, yakni kemampuan merealisasikan niat, lurus, menyadari
penyakit dan tujuan dan meletakkan masalah pada temapatnya dengan tepat dan
visi serta kesadaran penuh. Allah menganugrahkan Al Hikmah (kefahaman yang
dalam tentang Alquran dan Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan
barangsiapa yang dianugrahi Al Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi
karunia yang banyak”. Diberikan-Nya niat dan-Nya pula kesadaran mengenal
penyakit dan tujuan sehingga tidak tersesat dalam menilai permasalahan /
perkara. Diberikan-Nya kemampuan melihat yang mencerahkan yang membimbing
memperoleh yang baik dan benar dari pergerakan dan perbuatan… Semua itu
adalah kebaikan yang banyak dan beragam.

“Dan tidka ada yang dapat mengambil peringatan keculi mereka yang memiliki
pemikiran”. Orang yang memiliki “lub” yakni akal, dialah yang ingat dan
tidak lupa, hati-hati, tidak lalai, mengambil pelajaran dan tidak terjerumus
ke kesesatan. Ini adalah tugas akal. Tugasnya adalah mengingat petunjuk
wahyu dan bukti-buktinya serta memanfaatkannya sehingga tidak hidup
main-main dan lalai.

Hikmah ini diberikan Allah kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Hikmah itu
terkait dengan kehendak Allah Subhanah. Ini adalah kaedah dasar dalam
konsepsi Islam. Yakni, mengembalikan segala sesuatu pada kehendak mutlak dan
pilihan Allah. Pada waktu yang sama, Al-Qur’an menetapkan hakikat lain,
yakni siapa yang menginginkan hidayah dan berusaha meraihnya serta
bersungguh-sungguh untuknya, maka Allah tidak akan menghalanginya dan bahkan
menolongnya : “ Dan orang-orang yang bersusngguh-sungguh di jalan Kami pasti
Kamu tunjukkan jalan Kami dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang baik
(professional)”. Hendaklah merasakan ketenangan setiap orang yang datang
meraih petunjuk Allah bahwa kehendak Allah akan memberinya pentunjuk, hikmah
dan kebaikan yang banyak.

Ada hakikat lain – sebelum membahas masalah ini dengan luas – sebelum
meninggalkan renungan ini pada firmal Allah: “ Setan menjanjikan padamu
kemiskinan dan menyuruhmu berbuat “fahsyak”, sedangkan Allah Allah
menjanjikan padamu ampunan dan karunia. Dan Allah Maha luas (karunia) dan
Maha Mengetahui. Dia memberika “hikmah” kepada orang yang dikehendaki….”.

Sesungguhnya di hadpan manusia hanya ada dua jalan, tidak ada jalan yang
ketiga. Jalan setan atau jalan Allah. Apakah dia mendengar janji Allah atau
janji setan. Siapa yang tidak berjalan di atas jalan Allah dan mendengarkan
janji-Nya maka orang itu pasti berjalan di atas jalan setan dan mengikiuti
janjinya. Sebab itu, tidak ada manhaj (yang lurus) kecuali hanya satu, yaitu
“al-haq”… Manhaj yang disyariatkan Allah. Selain itu adalah milik setan dan
dari setan.

Hakikat ini ditetapkan Al-Qur’an Al-Karim dan diulang-ulang serta amat
ditekankan, agar tidak ada lagi argumentasi bagi orang yang ingin menyimpang
dari manhaj Allah, kemudian mengklaimnya sebagi petunjuk dan kebenaran;
dalam masalah apa saja. Tidak ada lagi remang-remang atau tertutup. Allah…
atau setan. Manhaj Allah…. atau manhaj setan. Jalan Allah… atau jalan setan
bagi yang menghendaki dan memilihnya. “Agar celaka orang yang celaka dengan
nyata (argumentasi) dan hidup (dalam petunjuk) orang yang hidup dengan
nyata”. Tidak ada lagi remang-remang, tertutup dan terbungkus… Sesungguhnya
yang ada hanyalah “hudan” (petunjuk) atau kesesatan. Hak itu hanya satu dan
tidak berbilang. “Dan tidak ada lagi setelah hak itu melainkan kesesatan”.(
 Tafsir Fi Zhilalil Qur'an

-- 
FARIZAL ALBONCELLI
Blog: http://farizal-alboncelli.blogspot.com/
FS: [email protected]
mobile: 021 950 42948

Kirim email ke