*Kita, Generasi Kerdil… Emangnya Gue Pikirin*

* *

*“Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar
kebangkitan. *

*Dalam setiap kebangkitan, pemuda adalah rahasia kekuatannya.*

* Dalam setiap fikroh, pemuda adalah pengibar panji-panjinya”*

Hasan Al banna





               “Zaman baru telah lahir, namun hanya melahirkan generasi
kerdil.” Gitulah kira-kira Schiller, seorang penyair dari Jerman
menggambarkan era generasi kita, yang katanya generasi millennium. Nggak
usah jauh-jauh ngeliat generasi kerdil di Jerman yang dilukiskan si Schiller
itu, kita liat sejarah bangsa kita saja makin lama makin bikin bingung,
terperangkap kejumudan dan makin terperosok jauh ke dalam labirin
ketidakpastian. 64 tahun merdeka, tapi kemerdekaan yang sebenar-benarnya
merdeka masih jauh panggang dari api.



Sejarah cuma bisa dirubah oleh para pemuda, kira-kira begitulah orang bijak
berkata. Adalah kemustahilan untuk bisa berubah jika sejarah dibiarkan di
monopoli oleh kalangan tua. Revolusi cuma bisa digerakkan oleh kalangan
muda.  Tapi pemuda yang bagaimana?



Kalo sedikit kita kilas balik sejarah bangsa ini, sebuah perubahan tak lepas
dari sosok yang dinamakan pemuda. Mulai dari pembentukan “Boedi Oetomo” pada
20 Mei 1908 yang sekarang biasa kita peringati sebagai hari kebangkitan
nasional, kemudian disusul oleh kongres pemuda dan pendeklarasian ‘Sumpah
Pemuda’  pada tanggal 28 Oktober 1928 sampai peristiwa 12 Mei 1998 yang
membawa bangsa ini menuju era baru yang disebut sebagai era reformasi.



Mereka adalah sosok-sosok pemuda yang kuat, punya visi, intelektualitas,
leadership, kemampuan organisasi sehingga mampu menggerakkan diri demi
kecintaan terhadap bangsa dan negara ini, menggerakkan untuk suatu
perubahan. Mereka bukanlah para pemuda yang mudah menyerah kemudian apatis,
pragmatis atau oportunis, hingga bau amis karena dipaksa keadaan.



Hari ini kita merindukan sosok-sosok pemuda seperti itu. Sosok-sosok pemuda
yang punya stamina moral dan spiritual yang kuat untuk bertarung mengahadapi
kompetisi dunia, bukan sosok-sosok pemuda yang hanya bisa melamun,
nongkrong-nongkrong di pinggir jalan sambil *ngelinting* ganja yang dibeli
dari uang hasil *malak* ortu. Bukan sosok pemuda yang cuma bisa menggandeng
sang pacar, sambil membayangkan hal-hal ‘romantis’ masa depan, padahal ia
sendiri belum mampu nyari uang hanya untuk sekedar mengisi perutnya.



Masa lalu bangsa ini dan bangsa manapun telah menjadi bukti, hanya
pemuda-lah yang bisa melakukan perubahan. Baik secara fisik, intelektual,
mental, spiritual, karakter dan moral yang dipandang dari studi ilmiah apa
pun, hanya pemuda-lah yang bisa mengeluarkan sebuah bangsa ini dari
kejumudan dan keterpurukan. Makanya, benarlah Bung Karno berkata, “berikan
aku sepuluh orang pemuda, akan aku ubah dunia!” Sanggupkah kita sebagai para
pemuda untuk bangkit, atau hanya "malu maluin" sekedar menunggu giliran?
Semuanya terserah kita. Atau kita hanya akan tetap menunduk malu, lemah dan
pasrah. Kalau begitu nggak salah yang dibilang si Schiller di atas, “Zaman
baru telah lahir, namun hanya melahirkan generasi kerdil.”  Dan generasi
kerdil ini tinggal bilang: "Emangnya gue pikirin!" [*Farizal
Alboncelli*] *Bahan
untuk buletin BARIS SMAN 49*


-- 
FARIZAL ALBONCELLI
Blog: http://farizal-alboncelli.blogspot.com/
FS: [email protected]
mobile: 021 950 42948

Kirim email ke