By Republika Newsroom
Kamis, 08 Oktober 2009

JAKARTA-–Saat sejumlah bank mengumumkan akan membentuk bank syariah di tahun 
lalu diperkirakan bank-bank syariah baru tersebut akan dapat beroperasi di 
tahun ini. Namun hingga saat ini Bank Indonesia belum mengeluarkan izin bagi 
bank syariah.

Menurut Ketua II Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Sofyan Syafri Harahap, 
keterlambatan tersebut terjadi karena adanya pergantian pucuk pimpinan Bank 
Indonesia setelah Gubernur BI sebelumnya, Boediono terpilih menjadi wakil 
presiden. “Karena adanya pergantian pucuk pimpinan itu maka akhirnya juga 
terpengaruh terhadap keputusan internal di BI, sehingga berdampak pula terhadap 
industri perbankan syariah,” kata Syafri kepada Republika, Kamis (8/10).

Padahal, tambahnya, pelaku perbankan tampak sudah antusias menyiapkan pendirian 
bank syariah. Sofyan mengungkapkan pasar perbankan syariah yang tumbuh cukup 
baik serta populasi penduduk Indonesia yang mayoritas muslim menjadi pemicu 
bagi pelaku perbankan untuk mengembangkan industri keuangan syariah.

Saat krisis ekonomi global, kata guru besar Fakultas Ekonomi Trisakti ini, 
industri perbankan syariah mencuat. Apalagi saat kasus Bank Century terjadi hal 
itu juga menjadi momentum bagi bank syariah untuk terus maju. “Saya yakin hal 
seperti Bank Century tidak terjadi di bank syariah karena perbankan syariah 
benar-benar berhati-hati dan asal BI juga benar-benar dalam pengawasannya,” 
ujar Sofyan.

Sebelumnya diperkirakan dengan hadirnya bank-bank syariah baru di tahun ini 
pangsa pasar dapat mencapai sekitar tiga persen. Namun karena sejumlah BUS baru 
ditargetkan akan muncul di awal 2010, Sofyan menuturkan pangsa pasar perbankan 
syariah maksimal mencapai 2,5 persen tahun ini. Sebelumnya di 2008 industri 
perbankan syariah ditargetkan dapat mencapai pangsa pasar lima persen dari 
industri perbankan konvensional. gie/kpo
 http://zanikhan.multiply.com/profile



      

Kirim email ke