By Republika Newsroom
Jumat, 06 November 2009
JAKARTA--Aksesibilitas masyarakat terhadap BMT kian tinggi. Hal
tersebut terlihat dari angka yang pertumbuhan baik dari sisi simpanan
maupun pembiayaan BMT yang terus tumbuh setiap tahunnya.

Direktur
Eksekutif BMT Center, Ahmad Sumiyanto mengatakan dalam penelitian yang
dilakukan BMT Center terhadap sampel 50 anggotanya menunjukkan jumlah
anggota pembiayaan yang meningkat per tahunnya, ditambah dengan nilai
portofolio yang relatif kecil memperlihatkan tingginya aksesibilitas
masyarakat. 

“Akses terhadap lembaga keuangan akan mempercepat
transaksi-transaksi, sehingga menjadikan pertumbuhan ekonomi di daerah
akan meningkat,” kata Sumiyanto, Jumat (6/11).

Pemberian akses
bagi pengusaha mikro terhadap lembaga keuangan, tambahnya, merupakan
salah satu upaya untuk menuju distribusi ekonomi yang lebih merata dan
berkeadilan. Seperti ditunjukkan oleh data yang ada pemberian
pembiayaan kepada pengusaha mikro selalu lebih kecil dibandingkan
dengan pengusaha kecil, menengah maupun besar.

“Dari penelitian
ini diharapkan akan menjadi Policy Brief bagi pemerintah untuk
menentukan haluan kebijakannya dalam pemberian akses bagi pengusaha
mikro terutama dengan menggunakan pola syariah,” tandas Sumiyanto.

CEO
Permodalan BMT Ventura yang juga menjadi salah satu peneliti mengatakan
penelitian yang dilakukan kepada 50 anggota BMT Center di Jakarta,
Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI
Yogyakarta, dan Jawa Timur ini menggunakan data dari tahun 2005 hingga
2008. 

Dari data yang ada BMT mampu menyalurkan pembiayaan
kepada pengusaha mikro dengan jumlah pembiayaan per anggota pada tahun
2005 sebesar Rp 1,13 juta per portofolio pembiayaan; pada 2006 sebesar
Rp 1,16 juta per portofolio pembiayaan; 2007 sebesar Rp 1,94 juta per
portofolio pembiayaan dan pada tahun 2008 sebesar Rp 2,68 juta per
portofolio pembiayaan. “Hal ini menunjukkan bahwa BMT mampu menyentuh
pengusaha mikro,” kata Saat. 

Dari sisi banyaknya yang menerima
manfaat, jumlah anggota yang mendapatkan pembiayaan pun sangat besar
yaitu pada tahun 2005 tercatat 259.850 anggota, pada tahun 2006
tercatat 281.811 anggota tahun 2007 tercatat 313.225 anggota dan pada
tahun 2008 sebanyak 396.150 anggota

Adanya penelitian tersebut,
lanjut Saat, memungkinkan terbentuknya model bagi lembaga keuangan
mikro berbasis syariah yang dapat digunakan sebagai suatu sarana untuk
mereduksi kemiskinan. Hal tersebut, jelasnya, dapat dilakukan dengan
cara melakukan pembinaan dan pengembangan kapasitas diri dan usaha dari
masyarakat miskin akan tetapi aktif secara ekonomi  gie/ahi

 http://zanikhan.multiply.com/profile



      

Kirim email ke