By Republika Newsroom
Jumat, 13 November 2009
JAKARTA--Sinergi antara dunia kampus dan industri keuangan syariah kian
diperlukan seiring dengan berkembangnya industri tersebut di Indonesia,
termasuk industri asuransi syariah. Untuk meningkatkan sinergi dengan
industri itu, UIN Syarif Hidayatullah pun kini menjajaki untuk
membentuk laboratorium asuransi syariah.

Ketua Program Studi
Muamalah UIN Syarif Hidayatullah, Euis Amalia, mengatakan untuk praktik
asuransi syariah di UIN sebenarnya sudah memiliki mata kuliah praktikum
asuransi syariah, aktuaria dan underwriting, namun untuk laboratorium
asuransi syariah belum dibangun secara terpisah. “Laboratorium asuransi
syariah sekarang lagi proses, kita sedang merancang softwarenya. Insya
Allah tahun ini laboratorium sudah jalan,” kata Euis kepada Republika,
Jumat (13/11).

Untuk laboratorium dan praktikum asuransi syariah
UIN bekerja sama dengan Takaful Indonesia, Bumida Syariah dan Allianz
Syariah. Sebagai bentuk sinergi kampus dengan industri, kata Euis,
pihaknya juga mengadakan seminar atau workshop dengan mengundang
praktisi untuk meningkatkan pengetahuan operasional mahasiswa.

Euis
menuturkan hingga saat ini kondisi SDM asuransi syariah yang
benar-benar memahami industri tersebut masih minim. Pasalnya dilihat
dari sisi agen yang menjadi ujung tombak pemasaran asuransi terkadang
hanya berperan sebagai penjual saja. “Agen hanya ditraining selama satu
minggu kemudian menjual produk syariah, jadi hanya sekedar menjual
saja. Mestinya dilatih juga sebagai perencana keuangan atau konsultan
syariah sehingga masyarakat benar-benar memahami tentang asuransi
syariah,” papar Euis.

Sementara itu di sisi lain, tambah Euis,
animo masyarakat terhadap asuransi syariah terlihat kurang. Ia
mengungkapkan peminat asuransi syariah di UIN Syarif Hidayatullah pun
sangat timpang jika dibanding perbankan syariah. “Dalam tiga tahun
terakhir jumlah peminat antara perbankan dan asuransi syariah timpang.
Di tahun ini saja untuk perbankan syariah UIN membuka hingga 7 kelas
dengan 1800 mahasiswa, sementara asuransi syariah hanya satu kelas
dengan siswa sekitar 35 orang,” kata Euis. 

Padahal, lanjutnya,
industri asuransi syariah juga prospektif seperti halnya perbankan
syariah. Untuk meningkatkan animo tersebut, ujar Euis, langkah yang
dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan sosialisasi, termasuk
melalui media massa. gie/taq

 http://zanikhan.multiply.com/profile



      

Kirim email ke