*Berbagi di Atas Pusaran Kemiskinan*

Oleh: Farizal Alboncelli



*”.... dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka
sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan
siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang
beruntung....” *

(Al Hasyr: 9)





Menelisik ke belakang, memperhatikan bagaimana asbabun nuzul dari proses
turunnya  ayat di atas. Ketika itu datanglah menemui sang Baginda Nabi,
seorang lelaki Muhajirin yang tengah kelaparan. Rasulullah segera
mengirimkan utusan untuk meminta makanan kepada para istrinya. Namun yang
didapat hanyalah segelas air minum. Hingga kemudian Rasulullah berseru
kepada para sahabat, ”Barangsiapa yang malam ini berkenan menjamu orang ini,
niscaya Allah akan merahmatinya.”

Tiba-tiba dari arah belakang, seorang Anshar berdiri seraya berkata, ”Aku
wahai Baginda Nabi!” spontan dan tanpa pikir panjang, hanya mengharap rahmat
Allah. Karena begitu tiba di rumah, ia hanya mendapatinya makanan sisa buat
anak-anaknya. Kemudian ia berkata kepada istrinya, ”Ajaklah mereka bermain.
Jika mereka meminta makan malam, ajaklah mereka tidur. Jika tamu kita sudah
datang, matikan lampu dan usahakan bahwa seakan-akan kita juga ikut makan
dengannya.”

Maka, tatkala sang tamunya datang, si Anshar dan istrinya itu pun langsung
mematikan lampu dan menghidangkan makanan yang seharusnya jatah anak-anak
mereka kepada sang tamu. Mereka berpura-pura ikut makan menemani sang tamu.
Ditemani perut yang keroncongan, senyum mereka mengembang memperhatikan sang
tamu makan dengan lahapnya. Ikhlas. Sesekali anaknya bangun, kemudian
dibujuknya kembali hingga tertidur lelap dalam dekapan kasih sayang tulus.
Hingga akhirnya mereka sekeluarga ’lulus’ melewati malam yang terasa lebih
panjang dari malam-malam yang biasanya.

Pagi harinya, setelah si tamu pamit., si Anshar dan istrinya bertemu dengan
sang Baginda Nabi. Dengan penuh rasa haru dan kagum yang luar biasa beliau
bersabda, ”Allah pun merasa takjub dan karena perbuatan kalian berdua
terhadap tamu itu.”



Begitulah teladan mulia yang dicontohnya para sahabat di zaman nubuwah.
Mereka mencontohkan bagaimana memaknai kehidupan dengan saling berbagi.
Mereka membangun setiap batu bata peradaban mulia dengan jenak-jenak ukhuwah
tanpa pamrih. Sebuah sistem yang teramat sangat jauh dari rasa egois dan
individual seperti yang sering kita temui di zaman sekarang ini.

Kaya dan miskin memang sudah sunnah kehidupan dan mesti ada dalam strata
sosial. Seseorang diberi legitimasi kaya karena ada orang-orang miskin
disekitarnya. Pun seseorang diberi predikat miskin karena memang ada
orang-orang yang memiliki sesuatu yang lebih banyak dari dirinya. Begitulah
Allah membuat sistem kehidupan ini menjadi dinamis. Si miskin dengan
kemiskinannya bisa lebih bersabar menghadapi ujian kemiskinannya dan tidak
perlu disibukkan dengan harta bendanya, sehingga jatah waktu yang ia miliki
bisa lebih banyak untuk beribadah kepada Allah. Si kaya pun dengan
kekayaannya bisa lebih bersyukur dan makin mendekatkan diri kepada Allah,
dan dengan harta kekayaaannya mampu memberikan amal lebih banyak
dibandingkan si miskin.

Namun ada yang lebih bermakna dibandingkan dengan si miskin yang bersabar
dan si kaya yang bersyukur. Adalah berbagi. Ia menjadi titik dari kolaborasi
antara keduanya. Si kaya yang bersyukur belumlah cukup tanpa berbagi. Harta
kekayaan yang dimilikinya akan menjadi urusan yang cukup panjang dan berat
di akhirat kelak apabila dibelanjakan di jalan yang salah. Namun kekayaan
pun bisa menjadi sarana yang paling handal sebagai ruang pengabdian kepada
Allah. Seperti tangisan Abdurahman bin Auf karena khawatir harta kekayaan
yang dimilikinya dapat melupakan ia dari akhirat. Hingga separuh hartanya
pun ia sisihkan untuk berbagi, seolah mengajarkan bahwa kekayaan bukanlah
yang ada di tangan, bukan juga materi, namun hakikat kekayaan adalah
kekayaan jiwa. Sehingga baginya mudah saja untuk berbagi.

Demikian pun dengan si miskin. Bersabar saja tidaklah cukup tanpa berbagi.
Bahkan berbaginya si miskin bisa jadi menjadi penilaian lebih di sisi Allah,
dibandingkan berbaginya si kaya. Si kaya dengan kelapangan dan keleluasaan
hartanya, mungkin tidak akan menghadapi persoalan yang sulit jika hanya
untuk sekedar berbagi. Kapan saja dan dimana saja, mereka bisa berbagi
dengan berapun yang mereka inginkan.

Namun, menjadi keistimewaan tersendiri jika hal tersebut mampu dilakukan
oleh orang-orang yang berada pada pusaran kemiskinan. Seperti kisah si
Anshar dan istrinya di atas, hingga Allah sendiri pun takjub dibuatnya. Tak
sampai menunggu hingga terkumpulnya harta, bahkan dalam keadaan serba
kekurangan jauh dari gelimang harta, namun memiliki keinginan yang besar
untuk berbagi.

Mungkin, akan mudah bagi kita jika dalam keadaan bergelimang harta, untuk
sekedar menginfakan sedikit harta di jalan Allah. Tapi bagaimana jika kita
memang benar-benar dalam susah dan miskin? Bagaimana logika bisa mencapai
titik nalarnya jika harus berbagi sementara untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari saja masih kekurangan? Seperti keluarga Anshar itu, mereka
bahkan memberikan kebutuhan pokok mereka yang teramat penting. Hampir-hampir
mereka mengorbankan jiwa mereka untuk itu. inilah sebuah sistem strata
sosial ukhuwah islamiyah yang dibangun atas dasar pondasi iman, hingga
penalaran logika pun tidak sanggup untuk mencapainya.

Berbagi di atas pusaran kemiskinan, mempunyai kemuliaan tersendiri di sisi
Allah,. Dengan dilandasi iman dan keyakinan, meskipun tak bergelimang harta,
tapi bagaimana kita berusaha menjadi hamba-Nya yang terbaik dan
mempersembahkan yang terbaik, meski posisi itu pun tidak akan dapat kita
raih. Jangan sampai karena alasan kemiskinan, lantas mengambil ’rukhshah’
untuk sekedar beribadah apa adanya. Namun dengan keterbatasan yang ada, kita
harus terus berpacu, menggelorakan kebaikan, sampai batas maksimal sesuai
kemampuan yang ada. Sampai batas dimana kita mampu mengungguli orang-orang
kaya yang dikaruniai Allah harta berlimpah dan dengan harta itu mereka
saling berlomba-lomba untuk beramal. Sampai batas dimana kita mampu
mendobrak batas itu untuk berbagi dalam balutan ukhuwah islamiyah.








-- 
FARIZAL ALBONCELLI
Blog: http://farizal-alboncelli.blogspot.com/
FS: [email protected]
mobile: 021 950 42948

Kirim email ke