Diterbitkan di REPUBLIKA
http://www.republika.co.id/koran/24/92940/Krisis_Dubai_dan_Sukuk_I_Default_I
Rabu, 02 Desember 2009 pukul 08:49:00
Krisis Dubai dan Sukuk Default
Oleh Ali Rama
(Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Jakarta)
Dubai
salah satu negara bagian Uni Emirat Arab (UEA) telah bermetamorfosis
menjadi negara terindah di dunia. Dubai yang semula hanyalah dataran
kering kerontang dengan padang pasir yang luas kini telah disulap
menjadi kota metropolitan Timur Tengah yang telah menarik perhatian
dunia, sekitar 15 juta pengunjung tiap tahunnya yang datang untuk
menyaksikan keindahan dan pesona negeri minyak itu.
Konon,
katanya, obsesi raja atau penguasa menjadikan Dubai sebagai negara
terindah dan termegah di dunia itu akibat cadangan minyak yang telah
menjadikan negara tersebut kaya raya kian surut. Untuk itu, lalu
diantisipasi dengan pembangunan sektor industri yang serbawah, sehingga
dolar tetap mengalir ke negeri itu.
Dubai, kini, telah memiliki sejumlah landmark bertaraf internasional yang
sebaligus mengantarnya menjadi negara
tercantik di dunia, sebutlah misalnya; The Dubai Mall yang merupakan
salah satu Mall/Plaza terbaik di dunia. Lalu Burj Dubai, gedung
tertinggi di dunia, yang memiliki ketinggian sekitar 800 meter. Karya
penomenal dan spektakuler lainnya adalah Pulau Palm buatan yang
didirikan di daerah lepas pantai, serta Al Burj Al Arab, hotel
berbintang tujuh pertama di dunia setinggi menara Eifel. Selain itu,
juga ada Falconcity of Wonders (FCW), megaproyek kawasan kota dengan
konsep dunia mini yang dibawa ke dalam Kota Dubai. Obsesinya supaya
Dubai menjadi satu tujuan utama pariwisata dunia.
Namun, negeri berpenduduk 1,6 juta jiwa itu kini sedang meradang akibat
tumpukan utang yang tak sanggup untuk dilunasinya ( default ). Ambisi menjadi
kota terbaik di dunia ternyata didanai dari tumpukan
utang yang melebihi kapasitas kemampuan bayarnya. Rasio utang Dubai
terhadap PDB 103 persen dan sebagian utangnya dicatat secara off-balance sheet
yang berjumlah besar.
Pengumuman
gagal bayar oleh Dubai World, semacam BUMN milik keemiratan Dubai
sempat mengguncang pasar dunia dan dikhawatirkan akan memperlambat
proses recovery ekonomi dunia pascakrisis keuangan di
Amerika Serikat. Bahkan, sebagian ekonom memperkirakan jika tidak
terjadi antispasi yang tepat maka krisis utang ini akan memicu lahirnya
krisis morgage jilid kedua.
Akibat pengumuman gagal bayar itu memberikan gelombang shock di pasar global.
Masalah Dubai memicu naiknya risiko harga surat
berharga dan investor mulai menolak masuk di obligasi pemerintah. Harga
saham di Eropa dan Asia anjlok, sementara pasar Amerika Serikat
terlindungi karena tutup liburan Thanksgiving Day. Krisis ini juga
berdampak pada penurunan harga komoditas termasuk melemahnya harga
minyak hingga lima persen. Mimpi menjadi kota terindah dunia kini mulai
berubah menjadi mimpi yang menakutkan akibat gagal bayar utang yang
bisa memicu efek domino terhadap perekonomian kawasan bahkan dunia.
Dubai World
Dubai
World merupkan perusahaan pelat merah milik Pemerintah Dubai yang
bergerak dalam berbagai bidang infrastruktur. Melalui perusahaan ini
dan anak perusahaannya, Dubai mengandalkan utang untuk membangun
berbagai megaproyek menara gading. Hanya dalam kurun empat tahun, Dubai
telah mencetak utang sebesar 80 miliar dolar untuk membiayai ambisi
pariwisatanya.
Akhir pekan lalu, Pemerintah Dubai mengajukan
permintaan penundaan pembayaran utangnya sekitar 60 miliar dolar yang
jatuh tempo pada Desember 2009 dan diperkirakan akan mengalami gagal
bayar (default). Kejadian inilah yang memicu rontoknya pasar
keuangan di berbagai belahan dunia.Salah satu anak perusahaan Dubai
World yang bergerak dalam bidang infrastruktur adalah Nakheel. Proyek
properti Nakheel termegah adalah The Palm Island, konsep perumahan
megah yang terletak di tengah laut berbentuk kurma.
Sebagian
skema pembiayaan Nakheel adalah berbentuk sukuk. Nilai sukuk yang
ditunda pembayaran pokoknya sebesar 3,52 miliar dolar dengan jatuh
tempo pada 14 Desember 2009, diusulkan ditunda hinggal 30 Mei 2010.
Penundaan ini tentunya memberikan dampak negatif bagi pemegang sukuk
yang membutuhkan likuiditas. Kejadian ini juga berdampak pada penurunan
harga sukuk Nakheel hingga -31,11 persen.
Sukuk default ini tentunya akan memberikan dampak negatif terhadap citra sistem
keuangan Islam yang tahan krisis dan tidak berbasiskan pada transaksi
ribawi. Namun, cerita gagal bayar sukuk Nakheel bukanlah yang pertama
kali terjadi dalam sistem pembiayaan keuangan Islam global. Investment
Dar, perusahaan investasi yang berbasis di Kuwait, adalah perusahaan
yang pertama kali gagal memenuhi kewajibannya atas sukuk yang
diterbitkannya sebesar 100 juta dolar AS. Sukuk default juga
pernah dialami oleh ECP (East Cameron Partners), perusahaan eksplorasi
minyak dan gas yang terletak di Texas dengan jumlah sukuk sekita 170
juta dolar AS.
Dampak
Krisis keuangan Dubai
tidak terlalu berpengaruh terhadap perekonomian dalam negeri, mengingat
fundamental ekonomi Indonesia cukup baik, rasio utang terhadap PDB
sebesar 30 persen, serta nilai rupiah cukup stabil, bahkan kredit
rating Indonesia baru saja mengalami kenaikan.
Mungkin yang akan
kena imbas akibat gagal bayar obligasi oleh Dubai World adalah prospek
pembiayaan pemerintah lewat sukuk atau SBSN (Surat Berharga Syariah
Negara), karena Dubai World adalah penerbit sukuk terbesar di Dunia.
Sementara itu, target SUN dan sukuk tahun 2010 mencapai Rp 104 triliun.
Selain itu, kondisi gagal bayar ini akan berdampak kepada semakin
mahalnya biaya penerbitan surat utang negara-negara berkembang (emerging
market) sebab perhitungan premi risiko pada harga surat utang semakin tinggi.
Namun,
kondisi krisis Dubai ini bisa saja justru menjadi keuntungan buat
Indonesia jika dana-dana yang akan meninggalkan Dubai itu justru akan
mengalir masuk ke Indonesia khususnya pada instrumen investasi sukuk
yang akan diterbitkan pemerintah pada tahun depan. Sehingga, peluang
indonesia sebagai penghubung keuangan Islam Asia Tenggara bisa
tercapai. Wallahu a'lam bis-sawab.