Korupsi tidak
diampuni ALLAH
Syirik
bukan hanya menyembah berhala atau pergi ke dukun. Syirik artinya mencampur,
menduakan, atau menyekutukan Allah dengan sesuatu. Di satu sisi kita mengakui
Allah sebagai Tuhan tetapi di sisi lain ada pula tuhan-tuhan lain yang
terkadang lebih kita taati atau cintai dibanding Allah.
Tuhan-tuhan
lain itu bisa berupa hawa nafsu (harta, tahta dan wanita/pria) , Jika kita
selalu memperturutkan hawa nafsu
berarti kita telah menuhankan hawa nafsu.
Terangkanlah
padaku tentang orang yang menjadi-kan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka
apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (Q.S. Al-Furqan
[25]:43)
Maka pernahkah kamu melihat orang
yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya
berdasarkan ilmu-Nya. Dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan
meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya
petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil
pelajaran? (Q.S.Al-Jaatsiyah [45]: 23).
Allah
melarang korupsi tetapi hawa nafsu mendorong kita melakukannya. Jika kita
melakukannya, berarti kita telah menomorduakan Allah. Perbuatan tersebut bisa
dikategorikan sebagai syirik. Karena itu, tuhan terbesar bagi orang yang
berbuat syirik bukan lagi Allah, melainkan hawa nafsu.
Orang
yang berbuat syirik disebut musyrik. Kita berbuat syirik karena ada split
personality atau perpecahan kepentingan dalam hidup kita. Di satu sisi kita
mengakui Allah sebagai Tuhan dan di sisi lain kita juga tidak bisa melepaskan
haa
nafsu sebagai tuhan, sehingga kita tidak bisa
pasrah secara lurus dan total kepada Allah.
Di
masjid, tuhan kita adalah Allah, tapi di kantor tuhan kita adalah harta atau
kekuasaan. Pada saat shalat, tuhan kita adalah Allah tetapi pada saat bisnis
tuhan kita adalah hawa nafsu. Akibatnya, timbul perbedaan antara urusan agama
dan urusan dunia. Padahal, sejatinya urusan atau agama kita di dunia ini hanya
satu, yaitu tunduk (bahasa Arab: Islam) mengabdi kepada Allah swt. sehingga
tidak ada perbedaan antara agama dan dunia. Agama adalah dunia kita sehari-hari
dan dunia adalah bagian dari kehidupan beragama.
(30). Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.Tidak ada perubahan
pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui.
(31). Dengan
kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat
dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.
(32). Yaitu
orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa
golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan
mereka. (Q.S.Ar-Ruum [30]: 31-32).
Menurut ayat di atas,
orang musyrik ialah orang yang memecah belah agama menjadi beberapa golongan.
Padanan kata dari ad dhin (agama) adalah urusan. Jadi, yang dimaksud
dengan memecah belah agama dalam ayat di atas adalah memecah atau memotong
urusannya menjadi beberapa bagian. Sejatinya semua urusan kita serahkan
sepenuhnya kepada Allah mulai dari lahir hingga meninggal dunia. Dari bangun
tidur dan tidur kembali. Jika ada urusan yang tidak diserahkan kepada Allah,
berarti kita telah memotong atau membelah kepercayaan kita kepada Allah.
Padahal Allah telah menegaskan bahwa urusan atau agama kita di dunia ini hanya
satu yaitu tunduk mengabdi kepada Allah.
(92).
Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan
Aku adalah Tuhanmu, maka mengabdilah kepada aku.
(93).
Dan mereka telah memotong-motong urusan
mereka di antara mereka. Kepada kamilah masing-masing golongan itu akan
kembali. (Q.S.Al-Anbiyaa [21]: 92-93).
Seseorang
disebut menyekutukan Allah jika ada tujuan lain dalam hidupnya selain menggapai
keridaan Allah. Dia mengalami perpecahan kepentingan. Perpecahan ini terjadi
karena ada kesalahan dalam menentukan tujuan hidup. Jika tujuan hidup kita
ialah meraih kekayaan sebanyak-banyaknya, maka ukuran kesuksesan kita ialah
harta, bukan keridaan Allah.
Ukuran kesuksesan
tiap-tiap orang berbeda-beda. Ada kelompok atau golongan masyarakat yang ukuran
kesuksesannya adalah harta, ada pula yang ukurannya keberhasilannya adalah
pangkat dan jabatan. Bahkan para ulama atau ustadz pun terkadang tidak luput
dari kemusyrikan ini tatkala ukuran kesuksesan mereka adalah banyaknya
pengikut. Masing-masing kelompok atau golongan tersebut merasa bangga dengan
apa yang telah mereka peroleh. Ada yang bangga dengan banyaknya harta, anak,
pengikut, dll.
Kemudian mereka
(pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan urusan mereka terpecah belah menjadi
beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada
sisi mereka (masing-masing) (Q.S. Al-Mukminuun [23]: 53).
Jadi,
orang musyrik ialah orang yang memecah tujuan hidupnya di dunia dalam beberapa
tujuan. Di satu sisi tujuan hidup kita adalah masuk surga. Kita menyebutnya
urusan agama. Urusan agama ini hanya di sekitar masjid atau musala.
Di sisi
lain, tujuan hidup kita adalah memuaskan hawa nafsu dengan mengumpulkan harta,
pengikut dan sebagainya sebanyak-banyaknya. Kita menyebutnya urusan dunia. Kita
disebut musyrik jika kedua urusan itu kita jadikan terpisah. Sehingga, ketika
kita sedang berada dalam urusan dunia, kita tidak sudi membawa-bawa Tuhan.
Padahal semestinya kita kembalikan semua urusan kepada Allah.
Jadi,
yang dimaksud berpecah dalam agama bukan mendirikan berbagai organisasi seperti
NU, Muhammadiyah, Persis, Jama’ah Tabligh, Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin,
Salafi dll. Organisasi itu hanya sebuah perbedaan pendekatan kepada umat. Ada
yang senang dengan metode yang dipakai di Muhammadiyah, ada juga yang senang
dengan budaya yang ada di NU. Berbagai macam organisasi itu seperti berbagai
alat musik yang berpadu dalam sebuah
orkestra, sehingga menghasilkan simfoni yang indah.
Ampunan (
maghfirah) diberikan dalam kaitannya dengan dosa nonsyirik. Dan Allah
tidak akan mengampuni dosa
syirik.
Sesungguhnya Allah tidak akan memberi ampunan
(maghfirah) atas dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari
(syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki- Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan
Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (Q.S. An-Nisa [4]: 48).
Lalu,
bagaimana jika kita melakukan dosa syirik, jJangan berputus asa karena Allah
masih menyediakan fasilitas satu lagi yaitu kaffarah.
Kaffarah
artinya tutupan juga. Allah tetap akan menutupi kita dari akibat buruk atas
perbuatan yang telah kita lakukan dengan sengaja. Bedanya dengan maghfirah
ialah tutupan berupa kaffarah ini tidak diberikan dengan gratis atau
cuma-cuma. Tutupan (kaffarah) ini diambil dari kebaikan yang pernah kita
lakukan.
...Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik
itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk (sayyiaat). Itulah
peringatan bagi orang-orang yang ingat. (Q.S. Huud [11]:
114).
Akibatnya,
perbuatan baik kita bisa lenyap untuk menutupi dosa-dosa kita. Karena itu, Allah
mengingatkan barang siapa melakukan dosa syirik, niscaya akan terhapus
amal-amalnya.
...
Seandainya mereka menyekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang
telah mereka kerjakan. (Q.S. Al-An’am [6]: 88).
Seandainya
dosa syirik yang kita lakukan lebih besar dari kebaikan yang pernah kita
lakukan, kebaikan kita bisa habis dan tidak cukup untuk meng-cover atau
menutupi dosa syirik tersebut. Orang yang seperti ini dikatakan orang yang
merugi alias bangkrut.
Dan
sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu.
‘Jika kamu menyekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah
kamu
termasuk orang-orang yang merugiâ (Q.S. Az-Zumar [39]: 65).
Kesimpulannya,
syirik adalah memasrahkan urusan kita kepada selain Allah. Dalam hal ini adalah
hawa nafsu. Jika kita lebih tunduk atau pasrah kepada hawa nafsu daripada Allah
berarti kita telah menuhankan mereka dan menomorduakan Allah swt.
Semua
perbuatan dosa (termasuk korupsi) bisa masuk dalam kategori syirik jika
dilakukan dengan sengaja dan
berulang-ulang padahal kita sadar Allah melarangnya.
Allah tidak
mengampuni dosa syirik meskipun kita meminta ampun sampai kiamat. Namun, Allah
akan menutupinya dengan kebaikan yang kita lakukan. Jika kebaikan kita lebih
banyak dari dosa tersebut, kita langsung masuk surga. Akan tetapi, jika
kebaikan kita lebih kecil dibandingkan dengan keburukan, kita akan masuk neraka
dan kekal di dalamnya.
Allah
akan mengampuni dosa syirik yang telah lalu asalkan kita menghentikan perbuatan
itu saat ini juga, setelah kita menyadari hal ini. Ampunan itu tidak berlaku
buat orang yang
sengaja berbuat dosa dengan alasan akan bertaubat kemudian. Orang seperti itu
hanyalah mengikuti hawa nafsunya belaka. Jika dia tidak segera berhenti, Allah
akan membiarkannya dan tidak akan memberinya petunjuk sehingga dia akan hidup
di muka bumi dengan bergelimang dosa hingga ajal datang. Pada saat itu tidak
berguna lagi penyesalan baginya.
Disarikan dari buku ALLAH pun TAUBAT karya Muhammad
Farid
DAFTAR ISI : (1)
Kiat-kiat memahami Alquran, (2) Kiat masuk surga tanpa mampir di neraka, (3)
Kematian itu indah, (4) Berislam tapi kekal di neraka, (5) Hidup itu Indah, (6)
Korupsi dan Zina tidak diampuni Allah,
(7) Maksiat yang mengantarkan ke surga dan ibadah yang menjerumuskan ke
neraka, (8) Allah pun Taubat, (9) 3 keanehan jilbab, (10) Nabi Ibrahim
pun kafir, (11) 7 kerancuan dlm memandang poligami, (12) Cara Nabi Muhammad
menghadapi penghinaan,( 13) Rahasia jepang, China, Zulkarnain, yajuj dan majuj
dalam Alquran, (14) Mukjizat Alquran.
Bab
1 sampai 5 bisa di download gratis di www.masfarid. blogspot. com