By Republika Newsroom
Selasa, 08 Desember 2009
JAKARTA--Sinergi untuk menyatukan Baitul Tamwil Muhammadiyah (BTM) tercakup 
dalam rencana pembentukan Induk Koperasi Syariah (Inkopsyah). Majelis Ekonomi 
Muhammadiyah pun memutuskan untuk membentuk Inkopsyah dalam rapat koordinasi 
dengan BTM.

Ketua Majelis Ekonomi Muhammadiyah, Anwar Abbas, mengatakan sektor yang 
terdapat di Muhammadiyah baik di sektor pendidikan, kesehatan dan keuangan 
mikro belum tersinergi dengan kuat. "Kita harus sinergikan unit bisnis rumah 
sakit, usaha kecil dan menengah dan pendidikan dan mengeloalnya sebagai bagian 
dari korporasi Muhammadiyah," kata Anwar dalam rapat pendirian Inkopsyah BTM di 
Gedung Muhammadiyah, Selasa (8/12).

Ia menambahkan, dengan hadirnya Inkopsyah akan mempermudah dalam bekerjasama 
dengan perbankan. Inkopsyah BTM juga menjadi lembaga strategis untuk 
mengembangkan lembaga keuangan mikro Muhammadiyah yang dikelola secara 
profesional.

Perwakilan Deputi Bidang Kelembagaan Koperasi Kementerian Negara Koperasi dan 
UKM, Rudi Faisal, menyambut baik pendirian Inkopsyah BTM tersebut. Ia 
menuturkan Inkopsyah tersebut nantinya juga bisa bekerjasama dengan Lembaga 
Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Kemenegkop dalam hal pembiayaan.

Usaha mikro Indonesia yang mencapai 51 juta, jelas dia, menjadi peluang bagi 
BTM untuk turut serta membantu dalam permodalan usaha mikro. Pasalnya bank umum 
atau bank perkreditan rakyat belum tentu dapat menjangkau masyarakat hingga ke 
pelosok. "Untuk penyaluran pun tak menutup kemungkinan BTM ini dapat menjangkau 
tidak hanya masyarakat Muhammadiyah tetapi juga seluruh rakyat indonesia," ujar 
Rudi.

Selain itu, tambahnya, Muhammadiyah pun setidaknya dapat membentuk suatu 
lembaga pendidikan dan pelatihan usaha kecil, mikro, dan koperasi untuk dapat 
melatih usaha-usaha masyarakat. "Muhammadiyah juga kuat di sektor pendidikan. 
Coba ada juga lembaga diklat untuk UKM dan ada sertifikasinya dimana nantinya 
juga disediakan tenaga pendamping. Hal itu akan membantu pula pengembangan 
keuangan mikro di Indonesia," kata Rudi. gie/taq

Kirim email ke