Pengangguran HarakiFiqih Dakwah15/12/2009 | 27 Zulhijjah 1430 H | Hits:
1.662Oleh: Musyaffa Ahmad Rohim, Lc Dakwatuna.com – Syeikh Muhammad Ghazali
Rahimahullah berkata, “Dalam suasana pengangguran terlahir ribuan keburukan dan
menetas berbagai bakteri kebinasaan, jika kerja merupakan message kehidupan,
maka para penganggur adalah orang-orang yang mati, dan jika dunia ini merupakan
efek dari tanaman kehidupan yang lebih besar, maka para penganggur adalah
sekumpulan manusia yang paling pantas dikumpulkan dalam keadaan bangkrut, tidak
ada panen bagi mereka selain kehancuran dan kerugian.”Ada beragam penyakit
tarbawi yang sangat berbahaya, jika ia tersebar dalam barisan dakwah, dan
mendapatkan tempat dalam jiwa personelnya, maka pasti yang terjadi adalah
keterpurukan, keguguran, menarik diri dan meninggalkan kancah dakwah secara
diam-diam, kemudian kebangkrutan dalam arti yang luas dan menyeluruhDi antara
penyakit tersebut dan utamanya
adalah al-bithalah ad-da’awiyah (pengangguran da’awi) atau al-kasal
al-haraki (kemalasan haraki) atau futur, al-faragh (tidak ada
pekerjaan), al-qu’ud ‘anil ‘amal (berpangku tangan),at-taqa’us ‘an ada’
al-wajib (tidak menunaikan kewajiban), at-tanashshul minal qiyam bil maham
ad-da’awiyah(tidak menjalankan tugas-tugas da’wah) yang sangat
beragam, istimra’ halat ar-rahah (terbiasa menikmati suasana
santai), at-taharrur min tahammul at-tabi’ah wal mas-uliyyah (berlepas diri
dari upaya memikul beban dan tanggung jawab).Semua tadi merupakan gejala satu
penyakit yang jika menimpa para aktivis di medan dakwah dan harakah, niscaya
menimpa pada posisi yang mematikan, kecuali jika segera mendapatkan kebangkitan
hati, atau mengambil ibrah dari suatu mau’izhah, atau mengambil manfaat dari
suatu nasihat, dan tentunya, sebelum, saat dan setelah itu ia mendapatkan
rahmat, kebersamaan dan taufiq Allah SWT.Berdasarkan pengalaman
dan mu’ayasyah (interaksi) tampak bahwa ada sejumlah faktor yang memberi andil
bagi terjadinya penyakit ini, utamanya adalah:Menurunnya tingkat keikhlasan dan
masuknya niat yang tidak baik.Ada masalah pada unsur-unsur pemahamanTidak
mengetahui jati diri dakwah dan harakahMerespon berbagai godaan dunia dan
mengejar kemilauannya yang palsuMelupakan ghayah, atau inhiraf dan lalai
darinyaPutus asa, frustasi dan memprediksi keburukanMengambang dan target yang
tidak jelasTidak interaktif dengan proses tarbawiMenghilangnya akhlaq yang
menjadi tuntutan marhalah, seperti: tsabat, sabar, tsiqah, tajarrud, tadh-hiyah
dan lainnya.Melemahnya rasa tanggung jawabMerasa panjang perjalanan dakwah yang
mesti ditempuhMenghilangnya semangat dan padamnya bara keinginan untuk
beramalRancunya jenjang prioritas, kalaupun masih ada, dakwah ditempatkan pada
posisi prioritas paling akhirBerkaratnya sisi ruhani, tarbawi dan imani serta
rusaknya komitmenBuntunya selera beramal
serta tidak merasakan kelezatan mengerahkan jerih payah fi sabilillahHilangnya
citarasa berlelah dan bersungguh-sungguh beramal di berbagai medan
dakwahKehilangan rasa ber-intima’ kepada dakwah dan harakah dan semakin
kurusnya unsur-unsur wala’ kepadanya.Tertutupnya bentuk izzah kepada manhaj
dakwah dan dinginnya ghirah terhadapnyaMelemahnya immunitas fikriyah, imaniyah
dan tarbawiyahSemua faktor, sebab ini mendorong seseorang
untuk qu’ud (berpangku tangan), menarik diri, menjauh dari lapangan amal dan
membikin-bikin alas an untuknya. Karenanya, seseorang yang seperti ini akan
menjadi beban berat dakwah dan harakah. Akibat berikutnya, dakwah semakin
merintih karena memikul bebannya dan menyeretnya, padahal seharusnya, orang
itulah yang semestinya memikul dakwah serta membawanya kepada cakrawala masa
depan yang luasJika penyakit pengangguran da’awi dan haraki menyebar, akan
muncullah ribuan perilaku-perilaku rendah, baik dalam skala
perseorangan maupun jama’i, sebab, “barisan yang didalamnya tersebar
pengangguran, maka akan banyaknya kerusuhan” dan “rumah yang kosong, akan
banyak kebisingan.”Maka hendaklah para pembawa panji dakwah dan harakah tidak
berhenti di tengah jalan. Jangan pula semangatnya mendingin dan efektivitasnya
padam setiap kali berhembus angin keputusasaan. Jangan pula harakahnya lumpuh,
jalannya terhenti dan arahnya berubah saat bertiup badai fitnah, sebab mereka
mengetahui bahwa, “Sifat mulia terkait dengan hal-hal yang tidak disukai, dan
kebahagiaan tidak dapat dicapai kecuali melalui jembatan kesulitan, karenanya,
tidak mengantarkan untuk mencapainya kecuali menggunakan kapal keseriusan dan
kesungguhan.”Tidak ada kegiatan bagi pasukan infantry adalah ghaflah. Di antara
penghancur tekad adalah mimpi yang terlalu jauh dan senang bersantai-santai.
Angan-angan hendaklah diiringi amal, jika tidak, ia hanyalah sekedar mimpi yang
terpulang kepada
pemiliknya. Suatu hari Alhasan al-bashri melihat seorang pemuda yang
bermain-main dengan batu kecil sambil berdoa, “Ya Allah, nikahkan aku dengan
bidadari”, maka Al-Hasan berkata, “Anda adalah pelamar yang paling buruk,
melamar bidadari dengan modal main-main batu kecil!”Begitu juga dengan kita,
tidak mungkin kita melamar cinta kasih tamkin, taghyir dan ishlah sementara
kita bermain-main dengan sesuatu yang lebih rendah dari batu kecil, sementara
itu kita adalah para penganggur, bermalas-malasan, dan cukup menjadi penonton,
sebab, seorang pelamar mestilah membawa mahar, dan“siapa yang meminang wanita
cantik, maka ia tidak mempedulikan mahalnya mahar.” Dan sebagaimana dinyatakan
oleh imam Al-Banna rahimahullah:“Saya dapat membayangkan seorang mujahid adalah
seseorang yang menyiapkan segala yang diperlukannya, membawa yang
diperlukannya, niat jihad telah memenuhi seluruh jiwa dan hatinya, selalu
dipikirkan, memberi perhatian besar,
selalu dalam posisi siap, jika diundang memenuhi, jika dipanggil menyambut,
paginya, petangnya, pembicaraannya, omongannya, kesungguhannya dan main-mainnya
tidak melampaui medan yang ia telah persiapkan dirinya untuknya, dan ia tidak
mengambil selain fungsi yang sesuai dengan kehidupan dan kehendaknya. Spirit
berjihad fi sabilillah dapat dibaca dari garis-garis wajahnya, tampak dalam
kilatan sinar matanya, dan terdengar dari celetukan lisannya sesuatu yang
menggambarkan betapa besar gelora yang ada dalam hatinya, gelora yang selalu
ada, menjadi duka hatinya yang terpendam. Juga terbaca dari jiwanya yang
bertekad membaja, semangat tinggi dan cita-cita yang jauh. Itulah sosok
mujahid, secara personal maupun bangsa. Engkau dapat melihatnya secara jelas
pada suatu bangsa yang menyiapkan dirinya untuk berjihad tampak pada
forum-forumnya dan klub-klubnya, tampak di pasar dan di jalan, terasa di
sekolah, di rumah, terlihat pada generasi muda dan tua, lelaki
dan wanita, sehingga anda membayangkan bahwa semua tempat merupakan medan, dan
setiap gerakan adalah jihad.Saya dapat membayangkan hal ini karena jihad
merupakan buah dari pemahaman yang melahirkan perasaan, menghilangkan ghaflah,
perasaan membangkitkan perhatian dan kebangkitan, dan perhatian berdampak
kepada jihad dan amal. Dan masing-masing mempunyai dampak dan penampilanAdapun
mujahid yang tidur sekenyangnya, makan sepuasnya, tertawa sekerasnya dan
menghabiskan waktu untuk bermain-main, maka bagaimana mungkin termasuk yang
beruntung atau terhitung dalam barisan mujahidin?!”Umat yang berpandangan bahwa
perannya dalam berjihad hanyalah kosa kata yang diucapkan, atau makalah yang
ditulis, lalu jika hati mereka diperiksa ternyata kosong, saat diuji
perhatiannya melompong, tenggelam dalam ghaflah dan tidur yang molor, maka
tempat, forum dan klub mereka tidak ditemui selain hal-hal tidak berguna,
ketidakseriusan, main-main, hiburan dan menghabiskan
waktu tanpa guna. Seluruh perhatian perseorangannya hanyalah kesenangan yang
fana, kelezatan semu, bersantai-santai dan bersenang-senang, maka umat yang
seperti ini lebih dekat kepada main-main daripada serius dan bahkan tidak
mengenal keseriusan sama sekali.Jadi, pengangguran adalah jalan kebangkrutan,
sementara kepeloporan, kepemimpinan dan ketokohan tidak dapat diraih kecuali
dengan keseriusan dan kesungguhan dan tidak dapat dicapai kecuali dengan
segudang pengorbanan. Hal ini terbukti secara praktis sepanjang sejarah dan
seorang aktivis dakwah dan harakah semestinya merupakan bagian dari mata rantai
emas para nabi, rasul, sahabat, tabiin, ulama dan dai aktivis, karenanya, ia
tidak akan mendapatkan kehormatan sebagai anggota dan diberi kartu keanggotaan
kecuali jika ia telah membayar. Dan Ibnu Qayyim lebih berterus terang daripada
saya, sebab ia memandang seseorang yang mengklaim menjadi bagian dari mata
rantai mulia ini tanpa memberi bukti sebagai
bentuk kebancian tekad. Beliau berkata:“Wahai seseorang yang bertekad banci,
di manakah kamu berada? Sementara jalan yang akan kamu tempuh adalah jalan di
mana nabi Adam telah capek, nabi Nuh telah kehabisan suara, nabi Ibrahim telah
dilemparkan ke dalam api, nabi Ismail telah digeletakkan untuk disembelih, nabi
Yusuf telah dijual murah dan mendekam beberapa tahun dalam penjara, nabi
Zakariya telah digergaji, nabi Yahya telah disembelih, nabi Ayyub telah
menderita, nabi Daud telah melebihi kadar dalam menangis, nabi Isa telah
berjalan sendirian dan nabi kita Muhammad SAW telah bergelut dengan berbagai
kemiskinan dan berbagai rasa sakit, sedangkan engkau berbangga dengan hal-hal
tidak berguna dan main-main??!!” (Terjemahan Artikel Jamal Zawari Ahmad,
Sumber: http://www.islameiat.com/main/?c=54&a=3954)
Apakah wajar artis ikut Pemilu? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers.
http://id.answers.yahoo.com