Biarlah ada yang begitu Pak, namanya manusia kan macem2. Saya pernah pengen nulis buku berjudul: "Menggugat Bank Syariah", namun bukan "Menggugat Ekonomi Syariah". Ide ini hanya terbersit lewat begitu saja. Di otak udah ada beberapa hal yang perlu tertuang, namun karena gak mau asal2an, saya HARUS masih terus menggali dan menggali, saya harus terus belajar dan belajar. Pada kenyataannya S1 saya malah Psikologi. Jadi kalo disuruh belajar dulu, ya saya senang2 aja kok. Ini juga beneran saya lagi nyari2 beasiswa S2 Ekonomi Syariah.
Btw terkait dengan DPS, ketika saya kerja di KARIM Business Consulting, Batasa Tazkia Consulting, Multipolar Tbk dan sekarang Anabatic, seringkali ngerjain proyek on site (bisa beberapa bulan) di berbagai macam bank syariah. Saya suka amati DPS juga. DPS biasanya rutin seminggu sekali atau sekian kali hadir. Gaji tentu gede (dibandingin gaji saya, hehe). Dan menemukan bahwa persangkaan yang Anda sampaikan, cukup beralasan. Persangkaan baik saya, yaaa beliau2 ini sekian kali hadir dalam seminggu atau sebulan untuk melakukan review, semoga gak hanya sekedar tempelan. Beberapa DPS melakukan review secara on line, by fax dan/atau materi diantar langsung ke yang bersangkutan. Selain review konsep, semoga para DPS ini juga mencermati praktek di lapangan. Regards, Ifham ________________________________ From: Reza Ikhwanul Muslim <[email protected]> To: [email protected] Sent: Wed, January 6, 2010 12:51:30 PM Subject: [ekonomi-syariah] Re: saran belajar terus EkSya saya mendukung anda, Ahmad Ifham, teruslah 'menggugat' dan terus lontarkan pertanyaan2, bukankah kita disini semua sedang belajar. Kalo pertanyaan seperti mas Ahmad fham selalu dijawab dgn: eh...belajar dulu anda, gak levellah.... buat apa ada milis... tapi jangan lupa nabung terus di bank syariah..hi. .hi..hiii. . sekedar ikut "membakar" diskusi ini. sekitar tahun 2002 an, ada seorang ustadz yg baru lulus master ek sya dari Timur Tengah sempat mengobrol dengan saya, statement beliau yg menarik bahwa DPS yg ada di institusi keuangan syariah di Indonesia- sampai saat itu- menurutnya masih sekedar tempelan saja, belum berfungsi secara maksimal. Saya berharap- sebagai org yg tidak melihat langsung para DPS bekerja - kondisi ini tidak terjadi lagi saat ini. Entah karena alasan itu pula atau bukan ustadz ini menolak tawaran untuk menjadi DPS salah satu unit syariah bank swasta nasional, dan konon paling tidak gaji yg ditawarkan pada beliau nol nya udah 7 digit. wassalam, Pada tanggal 05/01/10, Ahmad Ifham <ahmadif...@yahoo. com> menulis: > Terima kasih. Usul Anda sangat bagus, dan saya terima dengan > senang hati. Kalau ternyata pemikiran saya jauh di bawah standar untuk > berdiskusi secara ilmiah dan alamiah menurut Anda, ya saya deh yang harus > menyesuaikan diri dengan belajar ilmu-ilmu tersebut, saya usahakan berlabel > S2 > atau S3 atau Professor dulu. Amiiiin. Ini lagi proses nyari S2 yang pas. Ada > yang mau kasih beasiswa? > > Mungkin memang saya masih picik, kaku, dan sebagaimana > kebanyakan orang awam, saya hanya mempertanyakan yang saya pikirkan dan > rasakan > saja. > Regards - Ifham. > ____________ _________ _________ __ > From: "fitra_pratama2010@ yahoo.com" <fitra_pratama2010@ yahoo.com> > To: Ahmad Ifham <ahmadif...@yahoo. com> > Sent: Mon, January 4, 2010 5:58:41 PM > Subject: Re: Bls: [ekonomi-syariah] Re: BSM Gelar CSR di Palembang > > Saya usul,supaya Ahmad Ifham belajar lebih banyak,minimal setelah kuliah S1 > anda kuliah S2 agar wawasan luas,Lebih baik jika mata pelajaran syariah di > level tsanawiyah dan aliyah anda dalami,Anda dipastikan belum banyak faham > ttg syariah,ilmu tafsir ekonomi,ushul dan qawaid,apalagi filsafat > syariah.Ratusan professor ahli ekonomi syariah,jauh sekali pemikirannya dgn > anda,Anda benar2 masih di bawah standar utk berdiskusi secara ilmiah ttg > syariah dan ekonomi.Coba anda tammakan minimal 500 saja buku2 syariah,Tak > perlu 1000.Pandangan anda akan luas dan tidak picik,yg memaandang hitam > putih secara kaku.Calon ilmuan harus banyak baca buku dan fokus,agar ilmu > benar2 mendalam.Berapa buku sejarah penerapan syariah yg anda baca.? > Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung > Teruuusss... ! > ____________ _________ _________ __ > > From: Ahmad Ifham <ahmadif...@yahoo. com> > Date: Sun, 3 Jan 2010 19:59:11 -0800 (PST) > To: <ekonomi-syariah@ yahoogroups. com> > Cc: <hp_...@yahoo. com>; <lookeel...@yahoo. com>; <y.seti...@gmail. com>; > <mahani...@yahoo. co.id>; <darojah...@yahoo. com> > Subject: Re: Bls: [ekonomi-syariah] Re: BSM Gelar CSR di Palembang > > Modal halal pasti bisa. Cuma karena penggiat ekonomi syariah masih punya > mindset kapitalis, jadinya gak berani melakukan gebrakan bikin sistem > ekonomi INDEGENOUS syariah. Sebagian besar praktek ekonomi syariah kan tiru2 > konvensional. Ini hukumnya boleh tapi sangat dekat dengan praktek riba > (bahkan ada yang sama). Ekonomi syariah saat ini masih tergantung pada suku > bunga, masih tergantung dengan Undang-undang misalnya perpajakan, dll yang > sering dijadikan kambing hitam, masih tergantung dengan sistem yang bankable > (misalnya). > > Regards, > Ifham >

