By Republika Newsroom Kamis, 07 Januari 2010 YOGYAKARTA--Pertumbuhan perbankan syariah di DI Yogyakarta selama tiga tahun terakhir cukup signifikan. Bahkan pertumbuhan perbankan syariah di DIY mencapai 40 persen/tahun. Berdasarkan data Bank Indonesia total aset perbankan syariah di DIY pada Desember 2007 lalu hanya mencapai Rp528 miliar, tetapi pada tahun 2008 akhir total aset sudah mencapai Rp 856 miliar dan pada November 2009, total aset perbankan syariah di DIY mencapai Rp 1,23 trilyun.
"Pertumbuhannya sangat siginifikan, walaupun secara nasional share perbankan syariah belum memenuhi target 5 persen dari total perbankan di Indonesia," papar Pengawas Senior perbankan Kantor Bank Indonesia Yogyakarta, Johandi Darmoatmodjo dalam sambutannya pada peresmian kantor kas Bank Syariah Mandiri (BSM) di Kabupaten Bantul, DIY, Kamis (7/1). Pertumbuhan kantor layanan perbankan syariah di DIY menurutnya juga signifikan. Tahun 2007 lalu baru ada enam kantor bank umum syariah di DIY dan enam kantor Bank Perkreditas Rakyat Syariah (BPRS). tetapi tahun 2009 ini sudah ada delapan kantor bank umum syariah dan sembilan kantor BPRS. "Jumlah inipun akan terus bertambah karena masih akan ada Bank Umum yang melakukan spin off ke dyariah tahun ini dan ada BPRS yang sudah mengajukan ijin untuk membuka cabang di DIY," tambahnya. Menurutnya, sudah ada tiga BPRS yang telah mengajukan ijin prinsip ke Kantor BI Yogyakarta untuk membuka cabang di DIY. Namun begitu kata dia, pertumbuan perbankan syariah di DIY masih banyak kendala, antara lain, keterbatasan modal, keterbatasan sumber daya manusia, keterbatasan cakupan layanan dan kurangnya pemahaman masyarakat akan sistem syariah sendiri. Sementara itu, peresmian pembukaan kantor kas BSM di Kabupaten Bantul sendiri dilakukan oleh Wakil Bupati Bantul Soemarno Prs bersama dengan Kakanwil III BSM, Rustanti Rahmi. Sebelumnya, juga diresmikan kantor cabang pembantu (KCP) BSM di Wonosari Kabupaten Gunungkidul. Direktur BSM, Amran Nasution, dalam sambutannya yang dibacakan Rustanti Rahmi mengatakan, pada tahun 1999 saat berdirinya, BSM hanya memiliki delapan kantor jaringan, namun saat ini BSM telah memiliki 392 kantor yang menjangkau 24 propinsi di Indonesia. Bahkan BSM kata dia, telah didukung dengan 43.595 jaringan anjungan tunai mandiri (ATM) di seluruh Indonesia dan mencapai negara Malaysia. Jumlah aset BSM lanjutnya, juga terus berkembang dari Rp 448 miliar pada tahun 1999 menjadi Rp20,10 trilyun pada November 2009 lalu. "Dana pihak ketiga yang terkumpul sendiri mencapai Rp17,57 trilyun dengan jumlah pembiayaan yang telah tersalurkan mencapai Rp15,45 trilyun dan laba bersih setelah pajak mencapai Rp264,47 miliar," terangnya. Karena itulah untuk peningkatan pelayanan dan pengembangan sistem syariah di Indonesia, pihaknya membuka kantor kas di Bantul dan kantor cabang pembantu di Gunungkidul DIY. yli/taq

