For Your Info:
Ada penelitian yang dilakukan oleh Imam Muttaqin Sholihin tentang: PENDEKATAN
RASIONAL DALAM STRATEGI PUBLIC RELATIONS BANK SYARIAH (Studi Kasus Strategi
Public Relations Bank Syariah Mega Indonesia dalam Berkomunikasi dengan Pasar
Rasional).
Berikut cuplikan dari isi penelitian tersebut:
Peran Public
Relations dalam Pengembangan Bank Syariah
"Meskipun masyarakat Indonesia mayoritas Muslim, tidak mudah bagi
perbankan syariah merebut hati nasabah. Pasalnya, masyarakat sudah terlalu lama
bersentuhan dengan perbankan konvensional, sehingga banyak yang mempertanyakan
/ meragukan perbankan syariah. Ahmad Ifham, Business Development Executive
Karim Business Consulting (2006) mengungkapkan, perlu strategi dan langkah yang
sistematis, sosialisasi, dan kampanye yang kontinyu untuk merebut hati nasabah.
Salah satu upaya akseleratif yang bisa dilakukan menurut Ifham
(2007) yaitu dengan mengoptimalkan strategi public relations bank
syariah. Tidak dapat dipungkiri bahwa upaya edukasi, menancapkan brand
awareness dan brand loyalty pada publik dengan menggunakan iklan dan promosi
di media massa membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dan pada kenyataannya
memang belum terjangkau oleh bank syariah. Hal ini terlihat dari minimnya
informasi tentang bank syariah yang diperoleh dari media massa, khususnya
televisi.
Di sisi lain, kewenangan PR Officer di bank syariah juga
masih sedikit dan terbatas. Apalagi sebagian besar bank syariah di Indonesia
masih berbentuk Unit Usaha Syariah, sehingga kewenangan dan kebijakan yang
terkait dengan program dan anggaran biaya promosi dan publikasi juga terbatas.
Bahkan terkesan dilakukan secara insidental, tidak menggunakan perencanaan yang
matang. Terkadang kegiatan promosi dan publikasi juga dilakukan hanya jika
memang ada penawaran dari pihak luar.
Sebagai salah satu strategi sosialisasi bank syariah, strategi public
relations, dibuat sedemikian rupa dengan memanfaatkan pihak ketiga yang
kredibel (pihak yang bisa dipercaya oleh bank syariah maupun publik) agar mau
menyampaikan kepada pihak kedua (publik) untuk memanfaatkan produk dan layanan
yang dimiliki oleh pihak pertama (bank syariah).
Sebelum
strategi ini dijalankan, harus dipahami terlebih dahulu persepsi publik tentang
bank syariah. Setelah itu, peta persepsi publik tersebut disesuaikan dengan
visi manajemen bank syariah. Selanjutnya, PR Officer secara kreatif
mengolah berbagai informasi yang ada untuk dijadikan bahan penentuan strategi
public
relations yang akan dijalankan secara konsisten dan terfokus.
PR
Officer harus benar-benar memahami publik, serta memiliki hubungan baik
dengan pihak yang bisa membantu proses pengambilan keputusan publik, yaitu
media massa. Peran media massa menjadi sangat penting karena memiliki jangkauan
yang sangat luas dan efektif dalam upaya penyampaian opini publik dan
mempengaruhi pengambilan keputusan publik terhadap produk/ jasa yang
ditawarkan. Namun demikian, media hanyalah tujuan antara dari public
relations. Tujuan utama public relations adalah perubahan sikap
publik (target pasar) sampai mereka benar-benar menggunakan dan loyal pada
produk dan layanan bank syariah.
Sedini
mungkin PR Officer harus bisa membina hubungan baik dengan pihak media
massa (wartawan), stakeholder termasuk karyawan internal, pembentuk
opini publik, regulator (pemerintah, parlemen, Bank Indonesia), lembaga terkait
seperti Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia, Pusat Komunikasi
Ekonomi Syariah (PKES), Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Ikatan Ahli Ekonomi
Islam (IAEI), Asbisindo, konsultan bank syariah serta berbagai komunitas
perbankan syariah.
Sejak
dini, hubungan baik dengan public figure seperti tokoh dari berbagai
kalangan masyarakat, pejabat, pemimpin informal, artis, olahragawan, dan yang
lain juga perlu dibina. Diharapkan public figure yang terlibat juga
bukan hanya mereka yang memang identik dengan Islam. Bahkan public figure
non-Muslim
pun bisa dilibatkan untuk memberikan testimoni terhadap produk dan layanan bank
syariah yang telah dia pakai.
Sementara
itu, wartawan dan pembentuk opini publik bisa dibuatkan program atau kegiatan
sedemikian rupa sehingga dampaknya tanpa diminta oleh perusahaan, mereka
menyampaikan berita atau tulisan yang pada intinya bisa menyampaikan pesan
perusahaan kepada publik. Strategi seperti ini dinamakan pseudo event.
Program-program
yang dibuat tentu harus mencerminkan fakta dan realitas bank syariah yang ada,
serta bisa memberikan impresi positif bagi berbagai pihak tersebut.
Mereka
inilah yang diharapkan menjadi pihak ketiga yang kredibel untuk bisa
menyampaikan
pesan kepada publik tanpa harus mengeluarkan biaya yang sangat mahal jika
dibandingkan dengan iklan. Bahkan iklan cenderung kurang kredibel karena isinya
seringkali memuji diri sendiri. Meskipun demikian, iklan dan promosi tetap
harus ada untuk tetap membangkitkan awareness dan permintaan calon
nasabah.
Selain
itu, CEO (Chief Executive Officer) dan top management bank
syariah juga harus mampu berperan sebagai PR Officer yang efektif, agar
informasi yang sampai pada pihak ketiga maupun pihak pertama merupakan
informasi yang akurat dan dapat dipercaya. Hal ini dilakukan untuk menghindari
sumber informasi yang tidak akurat dari pihak luar bank syariah yang terkadang
bisa memperburuk citra bank syariah.
Berbagai
strategi ini perlu dibarengi dengan strategi marketing public relations,
seperti edukasi dan membangun kesadaran masyarakat tentang bank syariah,
peluncuran produk, pengembangkan layanan publik, dan berbagai program promosi
dengan memberi kesempatan experiential kepada publik untuk berinteraksi
langsung dengan produk dan layanan bank syariah.
Namun,
perlu diperhatikan bahwa suksesnya semua aktivitas public relations ini
bukan diukur dari diperolehnya liputan media massa yang luas atau even yang
sukses dengan banyaknya pengunjung, tetapi ditentukan oleh perubahan perilaku
publik sesuai dengan tujuan yang diinginkan yaitu perubahan sikap target pasar
sehingga benar-benar menggunakan produk dan layanan bank syariah. Perubahan
sikap dan perilaku masyarakat ini bisa dilihat dengan riset pengunjung even
atau riset persepsi dan perilaku pembaca media massa yang bisa dilakukan dengan
pendekatan kuantitatif dan kualitatif."
Thanks&Regards,
Ahmad Ifham Sholihin