Assalamu’alaikum wr.wbShahabatku
yang baik, semoga pekan kedua dalam bulan kedua ini, mengantarkan kita
bersama, menuju pintu gerbang istana kebaikan. Sehingga kitalah menjadi
penghuninya. Karena hanya orang baik saja boleh masuk kedalamnya.
Seorang
penyair mengingatkan, Janganlah engkau meninggal sebelum ajal
menjemputmu. Pesannya barangkali sudah terbiasa kita ucapkan. Telinga
sudah amat sering mendengar bunyi nada-nada bijak itu. Tapi, sungguh
hebatnya anugerah fikiran, meskipun difahami. Walaupun sering didengar,
terkadang tanpa disadari, menjadi zombi-zombi hidup amat sering kita
jalani.
Maafkanlah
atas kelancangan saya. Karena amat berani untuk mengeneralisasikan.
Seolah-olah semua kita pernah menjadi zombi atau abadi. Karena saya
yakin. Saat ini, telah ada diantara shahabat benar-benar telah menjadi
manusia seutuhnya. Para sufi memberi nama, kondisi hudhur.
Berbicara
mengenai ajal. Sebaik apapun persiapan kita menyambut kedatangannya. Ia
pasti akan datang pada saat telah dijanjikan. Selupa apapun kita akan
kepastian kehadirannya, hal ini menjadi wajib hukumnya. Bagi setiap
yang bernyawa, akan dijemput oleh kematian.
Ada
shahabat bertanya dengan lugas. Apa yang engkau khawatirkan? Pena telah
diangkat. Ketetapan telah dituliskan. Qadha dan Qadar telah dipastikan..
Menjawab
tiada yang kukhawatirkan, terkadang bentuk dari pembohongan diri.. Lisan
berbunyi; aku mengkhawatirkan masa depanku, bukti kelemahan iman.
Astaqfirullah. Kami berlindung dan memohon ampun hanya kepadaMu ya
Qhaffar.
Menariknya,
terkadang hal-hal yang sebelum aku jalani. Aku hiasi ia dengan rasa
khawatir itu, entah dimana posisinya? Saat aku melangkah, menjalani,
dan melakukan ikhtiarku. Sehingga aku
benar-benar memahami, kekhawatiran adalah langkah-langkah bunuh diri,
tahapan-tahapan menjembut kematian yang amat perlahan-lahan.
Hal
ini semakin membuatku bertanya-tanya dan mencari hakekat khawatir. Aku
duduk terdiam, mencoba menyelami kembali, setiap pos-pos kehidupan yang
pernah aku singgahi. Dari setiap episode kehidupan, aku menemukan
benang merah kehidupan : Habis Gelap terbitlah terang. Almarhum Crisye dengan
indah melantunkan, Badai pasti berlalu.
Rasa
khawatir adalah hasil buah fikiran, bertujuan untuk memproteksi tubuh
dari bahaya. Sehingga ia beri signal dengan gejala-gejala : keringat,
perut perih, pandangan agak kabur, kepala senut-senut dan berbagai
bentuk kreasi lainnya.
Jika memang demikian wujudnya. Bukankah ajakan-ajakan pejalan spiritual amat
wajar untuk diikuti. Sadar.
Shahabat,
khawatir adalah kejadian, masa, waktu dan ketetapan yang belum
menghadiri kita. Ia sering kita beri judul dengan hal-hal yang kurang
senang, tidak berkenan untuk kita terima. Tetapi, bukankah hal-hal yang
amat kita senangi, kita berkenan atas kedatanganya, kita menkondisikan
dengan kebahagiaan dan penuh harapan?
Seorang shahabat mengajak kita merenungi dan tinjau kembali sejenak. Bukankah
ia wujud yang sama. Yaitu peristiwa yang akan datang? Bearti, ini adalah
persepsi dan buah fikiran, yang dihasilkan oleh sudut pandang dan cara
menyikapi akan masa depan, betul? Maafkan ia yang suka bertanya.
”Aku sebagaimana prasangka hambaKu”.
Jika
memang demikian, anjuran berprasangka baik, ajakan berharap keindahan,
dan seruan berkeinginan kebaikan. Pantaslah bila kita tempatkan pada
tatanan kewajiban. Adakah sahabat yang merubah persepsi (cara
menyikapi/cara memandang) sekarang?...
Bogor 7 Februari 2010
RAHMADSYAH
Motivator&Mind-Therapist I 081511448147 I Master Practitioner NLP
Hypnotherapist I YM ; rahmad_aceh I www.facebook.com/rahmadsyah
www.rahmadsyahnlp.blogspot.com
New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/