Pernahkah dunia kita mengalami kestabilan massal? Jawabannya adalah
pernah. Dengan kejadian krisis d imana-mana sekarang ini bukan berarti
dunia kita belum pernah mengalami masa-masa keemasan di saat
perekonomian begitu stabil. Masa indah itu bernama Bretton Woods.
Materi ini disampaikan oleh Putra Satria sebagai Wakil Ketua Progres
Masa Amanah 2009-2010 dan merupakan kajian perdana tahun 2010.
Bermula dari Great Depression pada tahun 1930 yang terjadi setelah
Perang Dunia 1, perekonomian dunia jadi tak menentu. Ketidakpercayaan
antar negara yang muncul pasca PD 1 menyebabkan seluruh negara bagian di
dunia menciptakan kebijakan moneter yang menguntungkan bagi negaranya
saja tanpa melihat dampak negatif yang akan diterima oleh negara lain.
Penyebab yang lainnya adalah Laissez Faire Laissez Fasser dimana sistem
tersebut mengharamkan adanya intervensi sedikitpun dari pemerintah.
Terjadinya Great Depression 1930 tak lepas dari kebijakan moneter
dunia yang tak menentu dan menggunakan sistem Laissez Faire Laissez
Fasser yang mengharamkan sedikit pun peran pemerintah ( J.M Keynes,
Deliarnov )
Guna memperbaiki kekacauan ekonomi tersebut, pada tahun 1944, dua
ekonom dunia, yaitu Harry Dexter White sebagai Ahli Ekonomi Departemen
Keuangan AS dan Ahli Ekonomi Inggris, John Maynard Keynes, memprakarsai
sebuah sistem moneter yang dapat menjadi solusi untuk perekonomian saat
itu di desa Bretton Woods, New Hampshire, AS. Bersama dengan 730
delegasi dari 44 negara, lahirlah sebuah sistem moneter yang sehat yaitu
Bretton Woods di mana sistem moneter yang digunakan adalah fixed
exchange rate yang memback up uang yang beredar dengan emas yang
tersedia dan tentu saja membutuhkan intervensi pemerintah. Terbukti
dengan adanya Bretton Woods ini, tahun 1945 1971 disebut abad emas
di mana kesejahteraan meningkat, perdagangan naik, stabilitas harga
terjaga dan investasi naik hingga 500%.
Pasca PD II, Amerika Serikat menjadi negara yang paling aman dan
paling stabil perekonomiannya, karena AS lah yang memprakarsai
terjadinya PD II dan memenangkannya. Pada saat itu, AS tercatat memiliki
65% cadangan emas dunia ( emas jadi dan bukan emas yang masih belum di
olah ), sehingga dollar AS menjadi acuan dunia. AS pun berjanji akan
memegang amanah sebagai mata uang acuan tersebut. Namun kepercayaan itu
rusak tatkala AS menyalahi amanahnya dengan memperbanyak uang melebihi
emas yang tersedia untuk membiayai perangnya melawan Vietnam. Dengan
kejadian tersebut, akibatnya, sistem keuangan dunia kembali tidak
stabil, inilah yang dinamakan floating exchange rate (uang yang beredar
tidak sesuai jumlahnya dengan emas yang tersedia).
Dengan kejadian tersebut, AS tidak lagi dipercayai oleh negara-negara
sekutunya, dan AS pun membatalkan perjanjian Bretton Woods secara
sepihak. Dari sinilah dimulainya babak baru dalam sistem moneter
international, yaitu beralih ke floating exchange rate.
Dan sistem kurs uang mengambang ini ditengarai menjadi penyebab utama
terjadinya berbagai macam kasus krisis yang melanda dunia termasuk di
Indonesia. Dan tidak di pungkiri lagi, banyak ekonom-ekonom dunia saat
ini yang merindukan akan kembali hadirnya Bretton Woods Systemfixed
exchange rate-nya, dan kembali menulis tinta emas perekonomian dunia
layaknya tahun-tahun indah dahulu. dengan
Oleh Divisi Pers n Publikasi Progres Masa Amanah 2009-2010