Rustono, "King of Tempe" Jepang dari Grobogan 

Kompas - Senin, 22 Februari 

  Kirim
  Kirim 
  via YM
  Cetak


 Rustono, "King of Tempe" Jepang dari 
Grobogan 

GM Sudarta
Perjalanan dalam udara dingin musim gugur ke daerah pegunungan di Katsuragawa 
yang terletak sekitar 30 kilometer dari Kyoto adalah perjalanan yang menyajikan 
keindahan alam Jepang.
Jalan menanjak berliku dihiasi pepohonan momiji yang daunnya mulai memerah 
cerah di sepanjang jalan. Kabut meliputi puncak-puncak gunung dan hutan pinus 
lalu berakhir di sebuah lembah hijau. Rumah tradisional Jepang beratap rumbia 
tebal masih tampak di sana-sini dengan tamannya yang khas seakan bersatu dengan 
alam. Itulah awal perjumpaan saya dengan Rustono (41), sang Raja Tempe, 
sebagaimana teman-teman Jepang menyebutnya.
Di kawasan desa yang indah inilah konotasi yang menyepelekan tempe, seperti 
sebutan bangsa tempe atau mental tempe, sirna. Dari sinilah tempe mulai dikenal 
dan merambah hampir ke seluruh Jepang. Kemasan seberat 200 gram dengan label 
Rusto’s Tempeh bergambar ilustrasi suasana kehidupan kampung di Jawa tersebar 
di 
berbagai toko swalayan di Jepang.
Sebuah rumah tradisional Jepang, cagar budaya yang telah berusia dua abad, 
adalah tempat perjanjian saya bertemu dengan Rustono. Ketika kaki mulai 
melangkah memasuki gerbang kayu di halaman berpagar bambu, terdengar tiupan 
saksofon sopran yang mendendangkan lagu ”Going Home” dari Kenny G.
Rupanya sang raja sedang asyik melantunkan lagu penuh kerinduan yang 
menghanyutkan itu dengan duduk santai di batu besar di tengah taman di bawah 
rindangnya pohon momiji, ditingkah suara gemercik sungai jernih yang membelah 
desa, ditemani sang istri di sampingnya.
Semangat dari kerinduan
”Kampung halaman di tanah kelahiran memang selalu mendatangkan rindu,” 
Rustono menjelaskan ketika ditanya tentang lagu favoritnya itu. ”Dan berdendang 
dengan tiupan saksofon adalah alunan suara jiwa paling dalam,” tambahnya.
Kerinduan akan tanah kelahiran di sebuah kota kecil Grobogan, nun jauh di 
pedalaman Jawa Tengah dengan hamparan sawah dan hutan jati, rupanya masih saja 
mengusik Rustono meskipun sudah 13 tahun dia menetap di Jepang.
Bagi Rustono yang alumnus Akademi Perhotelan Sahid (masuk tahun 1987), 
kerinduan tersebut bukanlah bernuansa sendu berlarut-larut, melainkan pembawa 
semangat menentukan keputusan jalan hidup.
Tahun 1997, setelah enam tahun bekerja di Hotel Sahid Yogyakarta, perubahan 
jalan hidup mulai menunjukkan arahnya. Ketika sebuah grup wisatawan Jepang 
berkunjung ke Yogya, seorang bidadari dari Negeri Matahari Terbit, Tsuruko 
Kuzumoto, yang tinggi semampai berkulit kuning langsat menambat hati Rustono. 
Dan rupanya dia tidak bertepuk sebelah tangan. Tahun itu juga berangkatlah 
Rustono menyusul ke Jepang dan mulai menempuh hidup barunya di Kyoto.
Berbagai pekerjaan pernah dia lakukan. Dari bekerja di perusahaan roti sampai 
ke perusahaan sayur-mayur. Di situ Rustono banyak memerhatikan etos kerja 
karyawan Jepang. Selain penuh tanggung jawab, mereka juga berupaya mencapai 
target dan ikut serta dalam menjaga kualitas produksi. Pun Pemerintah Jepang 
sangat teliti dengan secara periodik memeriksa kualitas produksi, meninjau 
perusahaan, sampai memerhatikan kebersihan ruangan, termasuk peralatan dan meja 
kerja.
Menurut pengamatan Rustono, makanan adalah kebutuhan paling pokok kehidupan 
manusia. Itu sebabnya mengapa segala bentuk makanan diproduksi di Jepang dan 
industrinya sangat maju. Terbetik dalam pikiran Rustono, kenapa tidak mencoba 
membuka usaha makanan yang belum ada di Jepang. Inspirasinya datang setelah 
mengenal nato, sebangsa makanan dari kedelai yang rasanya sangat khas untuk 
lidah Jepang.
Jadilah dia mencoba membuat tempe dengan sedikit pengetahuan yang pernah dia 
kenal. Selama empat bulan dia berkutat mencoba membuat tempe, dengan ragi dari 
Indonesia dan kedelai Jepang, tetapi selalu gagal. Hingga kemudian dengan 
menggunakan air dari sumber mata air di kediaman mertua, dia berhasil membuat 
tempe.
Perjalanan panjang
Jalan untuk mencapai keberhasilan usaha yang dia tempuh sangatlah panjang dan 
terjal. Meskipun berhasil dalam percobaan membuat tempe, dia belum yakin benar. 
Pastilah itu bukan hanya karena menggunakan air asli dari mata air langsung.
Setelah anak pertamanya, Noemi Kuzumoto, berusia tiga tahun, dengan izin 
istrinya Rustono kembali ke Indonesia selama tiga bulan untuk belajar membuat 
tempe kepada 60 perajin tempe di seluruh Jawa.
Beberapa perajin memang ada yang tidak sepenuhnya memberi rahasia pembuatan 
tempe, tetapi banyak hal yang bisa dia serap dari pengalaman para perajin tempe 
di Jawa Tengah. Misalnya, kenapa tempe bisa lebih terasa gurih, bagaimana 
hasilnya tempe yang dibungkus dengan daun bambu atau daun pisang, ataupun 
dengan 
plastik, dan bagaimana bisa menghasilkan fermentasi tempe dengan baik.
Yang kemudian tak kalah berat adalah memperoleh izin produksi di Jepang. Dia 
harus melalui penelitian dan tes di laboratorium, hingga harus memenuhi 
kesanggupan bertanggung jawab atas kualitas dan kandungan bahan produksi sesuai 
dengan yang tertera di kemasan bahwa kandungan gizi tempe kedelai setara dan 
kandungan gizi daging, termasuk mematuhi peraturan daur ulang kemasan.
Kendala cukup berat yang juga dapat dia lalui adalah soal menghadapi iklim 
alam di Jepang. Fermentasi tempe hanya bisa berhasil dalam cuaca kelembaban 60 
persen hingga 90 persen, yang tentu saja tidak masalah di Indonesia. Di Jepang 
yang mempunyai empat musim, mempunyai kelembaban udara yang dibutuhkan tempe 
hanya pada musim panas. Tetapi, lewat penelitian kecil-kecilan dan telaten, 
hasilnya sangat besar. Dia bisa mengatur kelembaban pada segala musim di dalam 
ruangan produksi.
Peralatan produksi juga hasil inovasi Rustono sendiri. Alat pencuci kedelai 
dia modifikasi dari bekas mesin pencuci cumi-cumi yang dia dapat dari 
perusahaan 
perikanan. Begitu pula untuk pengemasan, dia datangkan mesin bikinan Bantul dan 
Surabaya.
The King of Tempe
Meskipun julukan ini hanya gurauan teman-teman sejawatnya, rasanya memang tak 
ada yang salah. Kini kapasitas produksi Rustono setiap lima hari bisa mencapai 
16.000 bungkus tempe dengan kemasan 200 gram. Untuk mendukung produksi, dia 
mengadakan kontrak kerja sama dengan petani kedelai di Nagahama, kawasan 
Shiga.
Dari peta penyebaran Rusto’s Tempeh yang tertera di ruang kerjanya, terlihat 
konsumennya tersebar di kota-kota hampir seluruh Jepang. Selain masyarakat 
Indonesia di Jepang dan masyarakat Jepang sendiri, konsumennya juga meliputi 
perusahaan jasa boga, rumah makan vegetarian, toko swalayan, sekolah, hingga 
rumah sakit di Fukuoka.
Memang usahanya berawal dari skala kecil dengan pemasaran dari pintu ke 
pintu. Rumah produksi dia bangun sendiri tanpa tukang bangunan dan tanpa 
pemikiran arsitektural, tetapi hanya dengan intuisi yang mirip intuisi seniman. 
Dan dari usaha rumahan itu sekarang Rustono mencapai taraf pembangunan pabrik 
tempe di kawasan pinggir hutan yang bermata air, di atas lahan 1.000 meter 
persegi.
Penghargaan
Di Jepang sudah banyak buku mengupas tentang tempe. Di antaranya yang 
terkenal adalah The Book of Tempeh, tulisan William Shurtleft dan Akiko 
Aoujaga. 
Buku besar ini lengkap dengan uraian dan ilustrasi menarik tentang pembuatan 
dan 
manfaat tempe dengan latar belakang budaya Indonesia, terutama Jawa.
Ada juga buku terbitan Asosiasi Tempe di Jepang yang dikelola para profesor 
dan ahli gizi. Asosiasi ini mengadakan penelitian dan setiap tahun mengadakan 
seminar tentang tempe. Salah satu kajiannya adalah kandungan gizi tempe tak 
kalah dari daging sapi.
Berbagai restoran vegetarian di Jepang banyak menyajikan olahan tempe dengan 
berbagai bentuk olahan Jepang, seperti misoshiru tempe dan tempura tempe. Yang 
paling terkenal adalah burger tempe.
Mereka memperkenalkan tempe dengan semboyan ”Makanan enak belum tentu 
menyehatkan, makanan tidak enak bisa menyehatkan. Tetapi, makanan enak dan 
menyehatkan adalah tempe!” Terberitakan pula sebuah perusahaan kosmetik 
memproduksi bahan kecantikan dengan jamur hasil fermentasi tempe ke dalam 
kapsul 
yang konon bisa menghaluskan kulit.
Soal hak paten yang pernah jadi pergunjingan di negara kita bahwa tempe 
diklaim Jepang, Rustono menjelaskan, ”Ah, itu kesalahpahaman. Bagaimana kita 
mematenkan tempe yang semua orang sampai di Amerika pun tahu tempe adalah 
makanan asli Indonesia. Apakah Jepang juga akan mematenkan sashimi atau sushi? 
Mereka hanya mematenkan olahan burgernya, bukan 
tempenya.”


    
     

    
    


 



  











      Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk 
Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka 
browser. Dapatkan IE8 di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer

Kirim email ke