kisah bagus
btw ini kisah nyata mas aziz yah....???
boleh dipublish gak???



________________________________
From: aziz setiawan <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]
Sent: Wed, March 31, 2010 4:08:44 AM
Subject: {FoSSEI} Kisah seorang Pemeriksa Pajak Melawan Korupsi

  
Kisah seorang Pemeriksa Pajak Melawan Korupsi
 Sebagai pegawai Departemen 
Keuangan, saya tidak gelisah dan tidak kalang kabut akibat prinsip hidup [anti] 
korupsi. Ketika misalnya, tim Inspektorat Jenderal datang, BPKP 
datang, BPK datang, teman-teman di kantor gelisah dan belingsatan, kami 
tenang saja. Jadi sebenarnya hidup tanpa korupsi itu menyenangkan 
sekali. Hidup tidak korupsi itu sebenarnya lebih menyenangkan. Meski orang 
melihat kita sepertinya sengsara, tapi 
sebetulnya lebih menyenangkan. Keadaan itu paling tidak yang saya 
rasakan langsung.
Saya Arif Sarjono, lahir di Jawa Timur tahun 1970, 
sampai dengan SMA di Mojokerto, kemudian kuliah di Sekolah Tinggi 
Akuntansi Negara (STAN) dan selesai pada 1992. Pada 17 Oktober 1992 saya 
menikah dan kemudian saya ditugaskan di Medan. Saya ketika itu mungkin 
termasuk generasi pertama yang mencoba menghilangkan dan melawan arus 
korupsi yang sudah sangat lazim. Waktu itu pertentangan memang sangat 
keras. Saya punya prinsip satu saja, karena takut pada Allah, jangan 
sampai ada rezeki haram menjadi daging dalam diri dan keturunan. Itu 
saja yang selalu ada dalam hati saya.

Kalau ingat prinsip itu, saya 
selalu menegaskan lagi untuk mengambil jarak yang jelas dan tidak 
menikmati sedikit pun harta yang haram. Syukurlah, prinsip itu bisa 
didukung keluarga, karena isteri juga aktif dalam pengajian keislaman. Sejak 
awal ketika menikah, saya sampaikan kepada isteri bahwa saya 
pegawai negeri di Departemen Keuangan, meski imej banyak orang, pegawai 
Departemen Keuangan kaya, tapi sebenarnya tidak begitu. Gaji saya hanya 
sekian, kalau mau diajak hidup sederhana dan tanpa korupsi, ayo. Kalau 
tidak mau, ya sudah tidak jadi.

Jabatan saya sampai 
sekarang adalah petugas verifikasi lapangan atau pemeriksa pajak. Kalau 
dibandingkan teman-teman seangkatan sebenarnya karir saya bisa dikatakan 
terhambat antara empat sampai lima tahun. Seharusnya paling tidak sudah 
menjabat Kepala Seksi, Eselon IV. Tapi sekarang baru Eselon V. Apalagi 
dahulu di masa Orde Baru, penentangan untuk tidak menerima uang korupsi 
sama saja dengan karir terhambat. Karena saya dianggap tidak cocok dengan 
atasan, maka kondite saya di mata mereka buruk. Terutama poin 
ketaatannya, dianggap tidak baik dan jatuh.

Banyak pelajaran yang 
bisa saya petik dari semua pengalaman itu. Antara lain, orang-orang yang 
berbuat jahat akan selalu berusaha mencari kawan apa pun caranya. Cara 
keras, pelan, lewat bujukan atau apa pun akan mereka lakukan agar mereka 
mendapat dukungan. Mereka pada dasarnya tidak ingin ada orang yang 
bersih. Mereka tidak ingin ada orang yang tidak seperti mereka.

Pengalaman di kantor yang paling berkesan ketika mereka menggunakan cara paling 
halus, pura-pura berteman dan bersahabat. Tapi belakangan, setelah 
sekian tahun barulah ketahuan, kita sudah dikhianati. Cara seperti inI 
seperti sudah direkayasa. Misalnya, pegawai-pegawai baru didekati. 
Mereka dikenalkan dengan gaya hidup dan cara bekerja pegawai lama, bahwa 
seperti inilah gaya hidup pegawai Departemen Keuangan. Bila tidak 
berhasil, mereka akan pakai cara lain lagi, begitu seterusnya. Pola-pola apa 
saja dipakai, sampai mereka bisa merangkul 
orang itu menjadi teman.

Saya pernah punya atasan. Dari awal ketika 
memperkenalkan diri, dia sangat simpatik di mata saya. Dia juga 
satu-satunya atasan yang mau bermain ke rumah bawahan. Saya dengan 
atasan itu kemudian menjadi seperti sahabat, bahkan seperti keluarga 
sendiri. Di akhir pekan, kami biasa memancing sama-sama atau jalan-jalan 
bersama keluarga. Dan ketika pulang, dia biasa juga menitipkan uang 
dalam amplop pada anak-anak saya. Saya sendiri menganggap pemberian itu 
hanya hadiah saja, berapalah hadiah yang diberikan kepada anak-anak. 
Tidak terlalau saya perhatikan. Apalagi dalam proses pertemanan itu kami 
sedikit saja berbicara tentang pekerjaan. Dan dia juga sering datang 
menjemput ke rumah, mangajak mancing atau ke toko buku sambil membawa 
anak-anak.

Hingga satu saat saya mendapat surat perintah pemeriksaan 
sebuah perusahaan besar. Dari hasil pemeriksaan itu saya menemukan penyimpangan 
sangat besar dan luar biasa jumlahnya. Pada 
waktu itu, atasan melakukan pendekatan pada saya dengan cara paling 
halus. Dia mengatakan, kalau semua penyimpangan ini kita ungkapkan, maka 
perusahaan itu bangkrut dan banyak pegawai yang di-PHK. Karena itu, dia 
menganggap efek pembuktian penyimpangan itu justru menyebabkan 
masyarakat rugi. Sementara dari sisi pandang saya, betapa tidak adilnya 
kalau tidak mengungkap temuan itu. Karena sebelumnya ada yang melakukan 
penyimpangan dan kami ungkapkan. Berarti ada pembedaan. Jadwal 
penagihannya pun sama seperti perusahaan lain.

Karena dirasa sulit 
mempengaruhi sikap saya, kemudian dia memakai logika lain lagi. Apakah 
tidak sebaiknya kalau temuan itu diturunkan dan dirundingkan dengan 
klien, agar bisa membayar pajak dan negara untung, karena ada uang yang 
masuk negara. Logika seperti ini juga tidak bisa saya terima. Waktu itu, saya 
satu-satunya anggota tim yang menolak dan meminta agar temuan itu tetap 
diungkap apa adanya. Meski saya juga sadar, kalau saya tidak menandatangani 
hasil laporan itu pun, laporan itu akan tetap sah. Tapi saya merasa teman-teman 
itu sangat tidak ingin semua sepakat dan 
sama seperti mereka. Mereka ingin semua sepakat dan sama seperti mereka. Paling 
tidak menerima. Ketika sudah mentok semuanya, saya dipanggil 
oleh atasan dan disidang di depan kepala kantor. Dan ini yang amat 
berkesan sampai sekarang, bahwa upaya mereka untuk menjadikan orang lain tidak 
bersih memang direncanakan.

Di forum itu, secara 
terang-terangan atasan yang sudah lama bersahabat dan seperti keluarga 
sendiri dengan saya itu mengatakan, Sudahlah, Dik Arif tidak usah 
munafik. Saya katakan, “Tidak munafik bagaimana Pak? Selama ini saya 
insya Allah konsisten untuk tidak melakukan korupsi?” Kemudian ia 
sampaikan terus terang bahwa uang yang selama kurang lebih dua tahun ia 
berikan pada anak saya adalah uang dari klien. Ketika mendengar itu, saya 
sangat terpukul, apalagi merasakan sahabat itu ternyata 
berkhianat. Karena terus terang saya belum pernah mempunyai teman sangat dekat 
seperti itu, kecuali yang memang sudah sama-sama punya prinsip 
untuk menolak uang suap. Bukan karena saya tidak mau bergaul, tapi 
karena kami tahu persis bahwa mereka perlahan-lahan menggiring ke arah 
yang mereka mau. Ketika merasa terpukul dan tidak bisa membalas dengan 
kata-kata apa pun, saya pulang. Saya menangis dan menceritakan masalah 
itu pada isteri saya di rumah. Ketika mendengar cerita saya itu, isteri 
langsung sujud syukur.

Ia lalu mengatakan, Alhamdulillah. Selama ini 
uang itu tidak pernah saya pakai, katanya. Ternyata di luar pengatahuan 
saya, alhamdulillah, amplop-amplo itu tidak digunakan sedikit pun oleh 
isteri saya untuk keperluan apa pun. Jadi amplop-amplop itu disimpan di 
sebuah tempat, meski ia sama sekali tidak tahu apa status uang itu. 
Amplop-amplop itu semuanya masih utuh. Termasuk tulisannya masih utuh, tidak 
ada yang dibuka. Jumlahnya berapa saya 
juga tidak tahu. Yang jelas, bukan lagi puluhan juta. Karena sudah masuk 
hitungan dua tahun dan diberikan hampir setiap pekan.

Saya menjadi 
bersemangat kembali. Saya ambil semua amplop itu dan saya bawa ke 
kantor. Saya minta bertemu dengan kepala kantor dan kepala seksi. Dalam 
forum itu, saya lempar semua amplop itu di hadapan atasan saya hingga 
bertaburan di lantai. Saya katakan, makan uang itu, satu rupiah pun saya tidak 
pernah gunakan uang itu. Mulai saat ini, saya tidak pernah 
percaya satu pun perkataan kalian! Mereka tidak bisa bicara apa pun 
karena fakta obyektif, saya tidak pernah memakai uang yang mereka 
tuduhkan. Tapi esok harinya, saya langsung dimutasi antar seksi. Awalnya saya 
diauditor, lantas saya diletakkan di arsip, meski tetap menjadi 
petugas lapangan pemeriksa pajak. Itu berjalan sampai sekarang. Ketika 
melawan arus yang kuat, tentu saja da saat tarik-menarik dalam hati dan konflik 
batin. Apalagi keluarga saya hidup dalam kondisi 
terbatas. Tapi alhamdulillah, sampai sekarang saya tidak tergoda untuk 
menggunakan uang yang tidak jelas.

Ada pengalaman lain yang masih 
saya ingat sampai sekarang. Ketika saya mengalami kondisi yang begitu 
mendesak. Misalnya, ketika anak kedua lahir. Saat itu persis ketika saya 
membayar kontrak rumah dan tabungan saya habis. Sampai detik-detik 
terakhir harus membayar uang rumah sakit untuk membawa isteri dan bayi 
kami ke rumah, saya tidak punya uang serupiah pun. Saya mau bcara dengan pihak 
rumah sakit dan terus terang bahwa insya Allah pekan depan akan 
saya bayar, tapi saya tidak bisa ngomong juga. Akhirnya saya keluar 
sebentar ke masjid untuk sholat dhuha. Begitu pulang dari sholat dhuha, 
tiba-tiba saja saya ketemu teman lama di rumah sakit itu. Sebelumnya 
kami lama sekali tidak pernah jumpa. Dia dapat cerita dari teman bahwa 
isteri saya melahirkan, maka dia sempatkan datang ke rumah sakit. Wallahua'lam 
apakah dia sudah diceritakan kondisi saya 
atau bagaimana, tetapi ketika ingin menyampaikan kondisi saya pada pihak rumah 
sakit, saya malah ditunjukkan kwitansi seluruh biaya perawatan 
isteri yang sudah lunas. Alhamdulillah.

Ada lagi peristiwa hampir 
sama, ketika anak saya operasi mata karena ada lipoma yang harus 
diangkat. Awalnya, saya pakai jasa askes. Tapi karena pelayanan pengguna Askes 
tampaknya apa adanya, dan saya kasihan karena anak saya baru 
berumur empat tahun, saya tidak pakai Askes lagi. Saya ke Rumah Sakit 
yang agak bagus sehingga pelayanannya juga agak bagus. Itu saya lakukan 
sambil tetap berfikir, nanti uangnya pinjam dari mana? Ketika anak harus 
pulang, saya belum juga punya uang. Dan saya paling susah sekali 
menyampaikan ingin pinjam uang. Alhamdulillah, ternyata Allah cukupkan 
kebutuhan itu pada detik terakhir. Ketika sedang membereskan pakaian di 
rumah sakit, tiba-tiba Allah pertemukan saya dengan seseorang yang sudah lama 
tidak bertemu. Ia bertanya bagaimana kabar, 
dan saya ceritakan anak saya sedang dioperasi. Dia katakan, kenapa tidak 
bilang-bilang? ? Saya sampaikan karena tidak sempat saja. Setelah teman 
itu pulang, ketika ingin menyampaikan penundaan pembayaran, ternyata 
kwitansinya juga sudah dilunasi oleh teman itu. Alhamdulillah.

Saya 
berusaha tidak terjatuh ke dalam korupsi, meski masih ada tekanan 
keluarga besar, di luar keluarga inti saya. Karena ada teman yang 
tadinya baik tidak memakan korupsi, tapi jatuh karena tekanan keluarga. 
Keluarganya minta bantuan, karena takut dibilang pelit, mereka terpaksa 
pinjam sana sini. Ketika harus bayar, akhirnya mereka terjerat korupsi 
juga. Karena banyak yang seperti itu, dan saya tidak mau terjebak 
begitu, saya berusaha dari awal tidak demikian. Saya berusaha cari usaha lain, 
dengan mengajar dan sebagainya. Isteri saya juga bekerja sebagai 
guru.

Di lingkungan kerja, pendekatan yang saya lakukan biasanya lebih banyak dengan 
bercanda. Sedangkan pendekatan 
serius, sebenarnya mereka sudah puas dengan pendekatan itu, tapi tidak 
berubah. Dengan pendekatan bercanda, misalnya ketika datang tim 
pemeriksa dari BPK, BPKP, atau Irjen. Mereka gelisah sana-sini kumpulkan uang 
untuk menyuap pemeriksa. Jadi mereka dapat suap lalu menyuap lagi. Seperti 
rantai makanan. Siapa memakan siapa. Uang yang mereka kumpulkan juga habis 
untuk dipakai menyuap lagi. Mereka selalu takut ini takut 
itu. Paling sering saya hanya mengatakan dengan bercanda.. Uang setan ya 
dimakan hantu! Dari percakapan seperti itu ada juga yang mulai berubah, 
kemudian berdialog dan akhirnya berhenti sama sekali. Harta mereka jual dan 
diberikan kepada masyarakat. Tapi yang seperti itu tidak banyak. 
Sedikit sekali orang yang bisa merubah gaya hidup yang semula mewah lalu 
tiba-tiba miskin. Itu sulit sekali.

Ada juga diantara teman-teman 
yang beranggapan, dirinya tidak pernah memeras dan tidak memakan uang korupsi 
secara langsung. Tapi hanya menerima uang 
dari atasan. Mereka beralasan toh tidak meminta dan atasan itu hanya 
memberi. Mereka mengatakan tidak perlu bertanya uang itu dari mana. 
Padahal sebenarnya, dari ukuran gaji kami tahu persis bahwa atasan kami 
tidak akan pernah bisa memberikan uang sebesar itu. Atasan yang 
memberikan itu berlapis-lapis. Kalau atasan langsung biasanya memberi 
uang hari Jum'at atau akhir pekan. Istilahnya kurang lebih uang 
Jum’atan. Atasan yang berikutnya lagi pada momen berikutnya memberi 
juga. Kalau atasan yang lebih tinggi lagi biasanya memberi menjelang 
lebaran dan sebagainya. Kalau dihitung-hitung sebenarnya lebih besar 
uang dari atasan dibanding gaji bulanan. Orang-orang yang menerima uang 
seperti ini yang sulit berubah. Mereka termasuk rajin sholat, puasa 
sunnah dan membaca Al-Qur'an. Tetapi mereka sulit berubah.

Ternyata 
hidup dengan korupsi memang membuat sengsara. Di antara teman-teman yang 
korupsi, ada juga yang akhirnya dipecat, ada yang melarikan diri karena 
dikejar-kejar polisi, ada yang isterinya selingkuh dan lain-lain. Meski secara 
ekonomi mereka sangat mapan, bukan hanya sekadar mapan.

Yang 
sangat dramatis, saya ingat teman sebangku saya saat kuliah di STAN. 
Awalnya dia sama-sama ikut kajian keislaman di kampus. Tapi ketika 
keluarganya mulai sering minta bantuan, adiknya kuliah, pengobatan 
keluarga dan lainnya, dia tidak bisa berterus terang tidak punya uang. 
Akhirnya ia mencoba hutang sana-sini. Dia pun terjebak dan merasa sudah 
terlanjur jatuh, akhirnya dia betul-betul sama dengan teman-teman di 
kantor. Bahkan sampai sholat ditinggalkan. Terakhir, dia ditangkap 
polisi ketika sedang mengkonsumsi narkoba. Isterinya pun selingkuh. 
Teman itu sekarang dipecat dan dipenjara.

Saya berharap akan makin 
banyak orang yang melakukan jihad untuk hidup yang bersih. Kita harus 
bisa menjadi pelopor dan teladan di mana saja. Kiatnya hanya satu, terus 
menerus menumbuhkan rasa takutmenggunakan dan memakan uang 
haram. Jangan sampai daging kita ini tumbuh dari hasil rejeki yang 
haram. Saya berharap, mudah-mudahan Allah tetap memberikan pada kami 
keistiqomahan (matanya berkaca-kaca) .




 


      

Kirim email ke